in

Lombok Barat Jadi Tuan Rumah Pelatihan dan Uji Kompetensi Wira Usaha

Acara pembukaan pelatihan dan uji kompetensi KSP dan UKM di Lombok Barat

kicknews.today – Sebanyak enam puluh Koperasi Simpan Pinjam (KSP) serta eksportir Usaha Kecil dan Menengah (UKM), dari dua kabupaten di Nusa Tenggara Barat (NTB) yakni Lombok Barat dan Lombok Tengah, mengikuti pelatihan dan uji kompetensi di Hotel Montana Senggigi. Pelatihan dan Uji Kompetensi Bidang KSP dan UKM Ekspor yang digelar Kementerian Koperasi dan UKM RI itu, diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang professional dan berdaya saing.

Pelatihan akan berlangsung hingga 4 Agustus mendatang itu, mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat, seperti yang disampaikan Sekretaris Daerah Lombok Barat H. Moh. Taufiq, Jumat (2/8), saat membuka pelatihan.

“Saya menyambut gembira kegiatan ini. Kegiatan ini adalah salah satu bentuk tanggung jawab pemerintah, untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing SDM dan kelembagaan usaha kita,” ungkapnya.

“Dengan kapasitas perseorangan dan kelembagaan serta sertifikasi usaha, daya saing itu akan menjadi penunjang untuk peningkatan dan pertumbuhan ekonomi kita,” lanjutnya.

Untuk menjadi produsen terpercaya, jelas Taufiq, profil perusahaan menjadi salah satu pemikat para pembeli. Namun demikian, di sisi lain kepercayaan itu juga harus dibarengi dengan layanan purna jual berupa layanan keluhan atas kualitas produk, mekanisme pengembalian yang tepat, dan pemberian fasilitas pendukung atas produk.

“Kepercayaan terhadap produk menjadi area abu-abu yang sangat menentukan sistem perdagangan di era digital ini. Saya berkeyakinan, kontribusi UKM dan KSP yang tersertifikasi, akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan kita,” ujarnya.

“Untuk itu, kepada para peserta pelatihan, saya berharap manfaatkan semaksimal mungkin kegiatan hari ini,” imbuhnya.

Dikatakan, Pemkab Lombok Barat memiliki sasaran kuantitatif yang semakin jelas, di bidang kelembagaan dan pendampingan usaha mikro kecil dan koperasi. Dimana jumlah wirausaha pemula dalam empat tahun terakhir berjumlah 1.488 WUP. Pertumbuhan itu dapat dikatakan cukup menggembirakan dengan terciptanya 420 WUP.

“Jumlah itu meningkat dari tahun 2018 lalu yang berjumlah 323 WUP. Pemerintah menargetkan tahun ini dapat menumbuhkan 500 WUP, sehingga tahun 2024 nanti diharapkan dapat mencetak 3.250 WUP,” terangnya.

Sementara Asisten Deputi Sertifikasi dan Standarisasi Pengembangan SDM pada Kemenkop UKM Santoso menegaskan, uji kompetensi memiliki peran penting terutama dalam ilmu pengetahuan digital, khususnya bagi pengelola KSP dan eksportir UKM.

Santoso menyebutkan, di era Revolusi Industri 4.0 koperasi harus mampu menyesuaikan diri, dengan perkembangan dinamika kehidupan masyarakat, yang sangat dipengaruhi perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat.

“KSP harus mampu menjaga internal koperasi, sistem koperasi termasuk regenerasi agar koperasi selalu sehat. Sedangkan untuk UKM, harus mampu mengekspor hasil produksi yang sudah dikemas dan diberi label, lebih-lebih go online,” jelasnya.

“Demikian juga dalam pengelolaan kegiatan usaha simpan pinjam koperasi, harus mampu menyesuaikan dan memanfaatkan teknologi informasi saat ini,” imbuhnya.

Karena itu, lanjut Santoso, sebagai langkah untuk mendukung harapan tersebut, para pengelola koperasi harus memiliki kompetensi di bidangnya, agar kinerja koperasi dan UKM dapat terus meningkat. Dimana data menunjukkan bahwa dari 138 ribu koperasi secara nasional, yang melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT) hanya 80 ribuan, sedangkan sisanya dapat dikatakan tidak sehat.

Lebih jauh dibeberkan, bahwa koperasi memiliki peluang besar untuk terus berkembang di era digitalisasi saat ini. Karena di era ini pula para pelaku usaha harus berkolaborasi dan bekerjasama, untuk bertahan dan untuk mengembangkan usahanya.

“Tidak bisa terpisahkan antara UKM dengan pelaku usaha, apalagi di Lombok Barat perkembangan wisata cukup baik,” pungkasnya. (red)