in ,

Pagelaran Pepaosan jadi Wahana Pemkab Lombok Barat Lestarikan Kearifan Lokal

Peresean adalah salah satu kearifan lokal suku Sasak Lombok

kicknews.today – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat terus berupaya menjaga kearifan lokal, agar tidak punah tergerus oleh perubahan zaman. Kearifan lokal mulai dari seni budaya, tradisi hingga kuliner yang cukup banyak dan beragam di wilayah setempat, menjadi kekayaan dan khazanah budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Dalam pelestarian kearifan lokal tersebut, Pemkab Lombok Barat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud), berencana secara rutin menghelat pagelaran seni budaya Peresean dan Pepaosan setiap Sabtu dan Minggu, di tiga titik yakni di Senggigi, Taman Kota Gerung, dan Taman Narmada untuk Pepaosan, dan khusus untuk Peresean akan digelar di Gedung Budaya Narmada mulai pukul 15.00 Wita hingga 17.00 Wita.

“Saya sangat menyambut baik dibukanya kegiatan seni dan budaya Pepaosan dan Peresean milik masyarakat suku Sasak ini. Kita mengajak semua pihak untuk bersama bersinergi menjaga kearifan lokal,” kata Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid saat membuka pagelaran perdana di Gedung Budaya Narmada, Minggu (21/7).

Selain untuk menjaga dan melestarikan kearifan lokal, pagelaran itu juga dimaksudkan untuk memotivasi pelaku budaya dan seni. Pun demikian terhadap peningkatan perekonomian masyarakat.

“Dengan adanya kegiatan ini, apalagi digelar secara rutin, kita yakin tidak hanya menghidupkan pelaku budaya dan seni, tetapi juga berdampak secara materiil menghidupkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Dikbud Lombok Barat Hendrayadi ditemui di lokasi pagelaran mengungkapkan optimistis, bahwa kegiatan yang baru pertama kali dilaksanakan itu, mampu menampilkan lebih banyak seni budaya kedepannya.

Pihaknya berharap seni budaya yang ditampilkan akan dapat menjadi ilmu yang diajarkan di sekolah, karena menurutnya seni budaya tidak hanya untuk orang dewasa semata.

“Ke depan, tidak hanya Peresean dan Pepaosan yang akan kita tampilkan, tapi semua jenis seni termasuk Gandrung,” ucapnya.

Untuk diketahui, Pepaosan merupakan tradisi pembacaan daun lontar yang bertuliskan huruf Jawi (Jawa Kuno), yang berisi tentang riwayat Nabi dan para sahabat Nabi yang dibacakan oleh satu tim diantaranya Pemaos (penembang), penerjemah, dan pendukung.

Pembacaan lontar itu menggunakan nada yang merdu dan sangat khas, dimana biasanya Pepaosan dibacakan setiap acara-acara besar keagamaan seperti khitanan atau ritual adat sakral lainnya.

Keberadaan pemaos sendiri saat ini telah mulai berkurang, seiring kurangnya ketertarikan generasi muda untuk belajar menembang atau menjadi pemaos. Katena itu, melalui pagelaran tersebut diharapkan menjadi motivasi generasi muda sehingga tertarik dalm melestarikannya. (red)