in

YAICI Tegaskan Kental Manis Berbahaya bagi Anak-anak, ini alasannya…

kicknews.today – Di sebagian masyarakat kita, “Kental Manis” yang beredar di pasaran, masih dianggap sebagai susu untuk pertumbuhan. Namun faktanya, Kental Manis dinilai berbahaya bagi anak-anak di bawah umur 12 tahun.

Hal itu terungkap saat gelaran talkshow “Sosialisasi Pangan Sehat dan Gizi Seimbang”, Rabu (26/6), dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (HKN) di Kampus Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat).

Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) Arif Hidayat, dalam talkshow yang mengangkat tema “Membangun Generasi Emas Indonesia 2024 di Mulai dari Keluarga Paham Gizi” itu mengatakan, kandungan susu pada Kental Manis hanya satu persen. Data itu dapat dilihat pada label komposisi Kental Manis, yang justru didominasi kandungan gula dan karamel.

“Berdasarkan data yang kami peroleh, atau bisa dilihat di label, kandungan susunya sangat sedikit. Dan itu sangat berbahaya bagi anak,” ungkapnya.

Dikatakan, sejak tahun 1920 melalui iklan televisi, masyarakat telah dicekoki pengetahuan bahwa Kental Manis dinilai setara dan atau pengganti susu. Namun setelah diteliti justru lebih banyak mengandung gula.

“Dari satu abad lalu kita sudah direcoki itu adalah susu, dan 50 persen pemberitaan (iklannya, red) melalui televisi. Jadi sampai sekarang masih banyak yang menganggap Kental Manis itu susu,” tuturnya.

Dijelaskan, pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.06.5.51.511.05.18.2000 Tahun 2018, tentang Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3), dimana terdapat empat larangan terkait peredaran susu kental manis

Larangan tersebut di antaranya iklan atau produk dilarang menampilkan anak usia di bawah lima tahun, dilarang menggunakan visualisasi disetarakan dengan susu atau pelengkap zat gizi, pelarangan menggunakan visualisasi susu dalam gelas yang diseduh, dan iklan dilarang tayang pada jam acara anak-anak.

Arif menegaskan bahwa Kental Manis sangat berbahaya jika dikonsumsi dengan cara diseduh, karena kadar gula sangat banyak dan melebihi batas konsumsi gula harian.

“Seharusnya digunakan sebagai topping bukan sebagai minuman. Kami meneliti di Kendari dan di Batam, kami temukan gizi buruk dan salah satu penyebabnya adalah Kental Manis,” ujarnya.

Anehnya, lanjut Arif, karena ada SE BPOM tentang beberapa larangan itu, perkembangan saat ini pihak produsen Kental Manis, justru mengiklankan produk mereka langsung ke masyarakat. Bahkan kalau di supermarket, justru ditaruh pada rak khusus susu.

“Mereka mempromosi langsung ke lapangan, mereka datangi sekolah, kumpulan komunitas, berdayakan vloger. Jadi tetap bermain di arena susu,” ucapnya.

Lebih jauh dipaparkan, selain menyebabkan gizi buruk, konsumsi Kental Manis pada anak juga dinilai menyebabkan diabetes. Namun meskipun memiliki bahaya, SKM dapat dijumpai di supermarket yang justru ditaruh pada rak khusus susu.

“Temuan kami, Kental Manis diasumsikan atau diyakini sebagai susu justru dari perawat di desa,” kata Arif.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan  (Dikes) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dr. Nurhandini Eka Dewi menyampaikan, mengkonsumsi Kental Manis akan berisiko dari sisi gizi.

“Kenapa dari sisi gizi cukup berisiko? Karena asupan gizi tidak mencukupi,” ujarnya.

Sedangkan Ketua Majelis Kesehatan PP. Aisyiyah Dra. Chairunnisa, M.Kes., memandang perlunya pengawalan terhadap kesehatan generasi penerus bangsa, terutama sosialisasi resiko penggunaan Kental Manis sebagai susu.

“Tanggung jawab kesehatan masyarakat memang ada di tangan pemerintah. Namun pekerjaan rumah ini akan lebih efektif dan efisien, bila dilakukan oleh seluruh elemen yang ada, termasuk keluarga sebagai elemen terkecil dalam sebuah negara,” jelasnya. (red)