in

Ini Lokasi “Lebaran Nine” di Kabupaten Lombok Barat

kicknews.tiday – Dalam tradisi suku Sasak Lombok secara turun temurun pada hari ketujuh bulan Syawwal, akan menggelar “Lebaran Topat” (Ketupat, red) atau disebut juga dengan istilah “Lebaran Nine” (perempuan, red).

Lebaran yang oleh masyarakat suku Sasak Lombok ini, biasanya dijadikan penutup setelah menunaikan ibadah puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal.

Perayaan Lebaran Nine ini biasanya dimanfaatkan untuk mengunjungi tempat-tempat yang dianggap mempunyai nilai-nilai sakral, seperti mengunjungi makam-makam yang dianggap keramat.

Di lokasi makam itulah, biasanya masyarakat Muslim Suku Sasak Lombok menggelar do’a dan rowah (ruwatan), yang seringkali untuk memenuhi kaul atau nazar (janji, red), juga sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur atau ulama yang telah berjasa dalam penyebaran Islam di Pulau Lombok.

Di makam yang dianggap keramat itu, perayaan Lebaran Nine diisi dengan prosesi ngurisang (mencukur rambut bayi, red) atau bahkan syukuran sunatan untuk anak-anak mereka.

Saat ini, prosesi budaya tersebut telah bergeser tidak hanya menjadi prosesi ritual kebudayaan, namun juga dijadikan even plesiran keluarga pasca puasa Ramadhan dan puasa sunnah enam hari bulan Syawwal.

Untuk wilayah Lombok Barat, perayaan Lebaran Nine atau Lebaran Topat telah dimasukkan dalam kalender pariwisata.

“Sesuai tradisi, semua tempat menyelenggarakan Lebaran Topat. Ada di Pantai Elak-Elak Sekotong, Taman Narmada, Sesaot, Pantai Cemare, dan yang kita fasilitasi di Pantai Duduk Batulayar,” terang Kepala Dinas Pariwisata Ispan Junaidi, Senin (10/6).

Dikatakan, kegiatan Lebaran Topat di Pantai Duduk akan diisi dengan beberapa prosesi adat.

“Diawali dengan nyekar ke Makam Batulayar untuk berdo’a, mengambil air, dan berdo’a, baru dimulai di lokasi,” terangnya.

Menurut Ispan, prosesi ziarah makam itu sudah pakem (baku, red) dalam tradisi masyarakat Muslim Suku Sasak Lombok.

Dijelaskan, prosesi ziarah makam akan dipimpin langsung Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid didampingi tokoh agama dan tokoh adat di Lombok Barat. Sedangkan di lokasi utama acara, masyarakat bersama Pemkab Lombok Barat menyiapkan Topat Agung (Ketupat Utama, red), yang berisi ribuan ketupat kecil dan dirangkai menjadi satu dan berbentuk ketupat raksasa.

Ketupat Agung itu nantinya akan diarak mengelilingi lokasi acara, untuk kemudian diserahkan kepada Bupati sebagai prosesi simbolik acara ruwatan. Bupati lalu didaulat untuk mengambil ketupat pertama bersama para tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat untuk kemudian menjadi suguhan utama pada dulang pesaji (makanan persembahan, red).

“Itu sudah pakem acaranya. Tentu diselingi dengan pementasan seni tradisional yang akan menghibur para tamu,” ujarnya.

Untuk tahun ini, tambah Ispan, seni tradisional yang akan dipentaskan adalah “bebeduk” dari Dasan Montor Grimak Narmada, “zikir saman” dari group Desa Ranjok Gunungsari, Tari Rudat dari group Desa Batu Layar, dan Tari Kontemporer dari Sanggar Kesenian Tari Lombok Barat pimpinan Ibu Yeyen.

“Besok juga akan diramaikan oleh group qasidah yang juara 1 nasional,” tambah Ispan sambil merahasiakan nama group kasidah tersebut.

Namun khusus untuk penyelenggaraan tahun 2019 ini, prosesi Lebaran Topat diawali sehari sebelumnya.

“Pada malam sebelum acara, yaitu tanggal 12, jam 20.00 itu, akan ada acara pepaosan atau memace (membaca, red) lontar yang akan dilakukan oleh budayawan Lalu Nasib,” pungkasnya. (red)