in

Pemilu Usai, Ramadhan Usai, Saatnya Merajut Damai di Momen Fitri

Oleh: Rohani Inta Dewi

Merajut damai usai pemilu dan usai ramadhan menjadi sangat penting. Mengingat beberapa kali momentum elektoral telah membawa sejumlah efek samping. Diantara efeknya adalah politik kebohongan, ujaran kebencian, saling mengklaim pemilik kebenaran, ataupun adu domba yang memecah belah masyarakat grassoot.

Sudah tak terbendung lagi berapa banyak ujaran kebencian yang terproduksi saat pemilu. Merajalelanya berita bohong yang menyebar persekian detik. Terlihat ketika tiga hari usai pemilu kementerian Kominfo temukan 64 hoax.

Salah satu berita hoax terkait pemilu 2019 yang berhasil di kais tersebut adalah data di markas besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) yang mengatakan bahwa formulir C1 yang didokumentasikan dikirim ke pusat data Mabes TNI oleh para Babinsa-Koramil. Kabar yang beredar adalah formulir C1 yang didokumentasikan adalah pasangan calon 02 disebut-sebut memperoleh suara hingga 60 persen. Hoax tersebut terdeteksi pada 18 April 2019.

Dalam klarifikasinya, Kemenkominfo memastikan informasi tersebut tidak benar serta mempunya maksud untuk menipu. Adapun klaim yang digunakan dalam hoax itu tidak memiliki validasi karena tidak menyertakan kejelasan sumber, seperti misalnya tautan.

Dampak lain yang masih amat membekas adalah adanya korban yang teridentifikasi tertembak terkena peluru tajam disaat unjuk rasa pada 22 Mei di depan kantor badan pengawas pemilu. Berdasarkan klarifikasi, polisi tidak menggunakan peluru tajam. Kejadian tersebut kian memperkeruh keadaan.

Efek ini sangat panjang dan pasti melelahkan serta membutuhkan daya extra untuk mengurai kembali secara satu persatu dampak negatif yang ditimbulkan di seantero nusantara. Dari elit politik, aparat hingga masyarakat.

Dampak di masyarakatlah yang akan menjadi pekerjaan rumah yang paling tidak mudah. Dikalangan elite politik sangat dinamis dan cair, tetapi di masyarakat tidak demikian. Pemilu kemarin merubah relasi-relasi antar sesama mereka di kalangan bawah. Dari kawan menjadi lawan,tidak teguran dengan tetangga, cuek-cuekan dengan sanak keluarga, diam-diaman dengan saudara bahkan hingga orang tua. Semua adalah realita yang terjadi di sekitar kita dan disaksikan secara langsung oleh mata kita.

Sedihnya bukan main, melihat yang dulu biasa bersenda gurau menjadi tak bertegur sapa hanya gara-gara beda pilihan yang sosoknya antah berantah keberadaanya. Namun mampu mengabaikan pentingnya relasi dengan sekitar. Mampu melupakan bahwa keluarga, sahabat dan tetanggalah yang akan menjadi yang pertama membantu apabila terjadi apa-apa. Bukan yang sedang diperjuangkan mati-matian yang jaraknya ribuan mill dari tempat tinggal mereka. Loyalitas yang kebablasan. Menumpulkan rasionalitas dan akal sehat.

Jangan sampai retakan-retakan sosial politik sebagai efek samping pemilu kali ini makin runcing dan gagal membangun kembali semangat gotong royong dan persatuan. Tentu saja kita semua juga turut bertanggung jawab bahu membahu membantu untuk merajut damai dan mewujudkan kondisi bangsa yang aman tentram dan penuh saling pengertian.

Momentum suci idul fitri bisa menjadi langkah perdana memulai saling merangkul berhenti saling memukul. Memulai menebar kasih antar sesama dan berbagi, serta saling memaafkan antar sesama: menata kembali bangunan sosial yang telah retak.

Biarlah perbedan pilihan ketika pilpres lalu juga ikut berlalu. Jangan sampai membawa dendam dan amarah. Saatnya kita semua kembali menjadi kawan, saudara, tetangga yang perduli, sahabat, dan masyarakat bangsa Indonesia yang ramah tidak marah-marah. Seperti bagaimana bangsa lain mengenal dan menjuluki kita sebagai bangsa yang friendly. Bangsa yang pemaaf.

Di momen ini pula dari hati yang terdalam saya turut mengucapkan minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan bathin. Mari kembali fitri bersatu membangun negeri. Semoga datangnya hari suci ini membawa kejernihan nurani bangsa dan kedamaian bagi Indonesia. Aaamiiin.

*Penulis ialah aktivis perempuan