in

Ide Liar Komika Indonesia, Hinaan atau Candaan?

Oleh: Maya *

Stand up comedy atau komedi tunggal adalah jenis lawakan baru dari Amerika dan Inggris. Lawakan ini dilakukan seseorang yang disebut komika. Komika bercerita mengenai suatu topik, kemudian dikembangkan menjadi materi komedi.

Lawakan ini biasanya dilakukan dengan cara berdiri di tengah-tengah panggung dan disaksikan secara langsung oleh khalayak penonton. Biasanya, komika membawakan materi berupa fenomena sosial dalam kehidupan sehari-hari.

——————————————-

Keberadaan stand up comedy sangat mengharapkan kehadiran penonton, karena keberadaan khalayak penonton, sangat penting dalam stand up comedy. Di samping itu, komika memerlukan penonton untuk merespon lelucon yang dibawakan.

Komika dikatakan berhasil menampilkan stand up comedy, apabila para penonton memiliki antusiasme humoris atau dapat tertawa. Kehadiran penonton sangat diperlukan komika untuk melakukan stand up.

Papana (2016), menyatakan bahwa perbedaan sosial budaya antara Amerika, Inggris, dan Indonesia membuat banyak teori dan rumus dari stand up comedy yang berlaku di luar negeri, tidak bisa sepenuhnya diterapkan di Indonesia.

Hal ini dikarenakan terdapat norma-norma yang berlaku di masyarakat dan hal itu membatasi komika, untuk membicarakan sesuatu yang berada di luar dari norma di Indonesia.

Oleh karena itu, para komika di Indonesia lebih berhati-hati dalam memilih dan membawakan materi stand up comedy-nya di hadapan masyarakat umum.

Di Indonesia terdapat beberapa nama tokoh stand up comedy yang dianggap paling berpengaruh dalam perkembangan stand up comedy, yaitu: Raditya Dika, Ernest Prakasa, dan Panji Pragiwaksono.

Ketiga komika tersebut adalah komika yang sudah terkenal di seluruh Indonesia, bahkan sampai luar negeri. Mereka juga mendirikan sebuah komunitas stand up comedy yang diberi nama “Stand Up Comedy Indonesia” atau singkatmya Stand Up Indo.

Setiap tahun mereka membuat konser atau pertunjukkan tunggal, misalnya Raditya Dika membuat pertunjukan setiap akhir tahun di sebuah kampus atau universitas ternama. Selanjutnya Ernest membuat pertunjukan di salah satu gedung mewah di Jakarta dengan disaksikan ribuan penonton.

Demikian pula dengan Panji, komika satu ini membuat pertunjukan yang diadakan sampai ke luar negeri, tidak hanya Asia tetapi merambah sampai ke benua Eropa.

Ketiga komika tersebut memiliki gaya bahasa yang khas dengan topik-topik pembicaraan yang berbeda. Materi pembicaraan bergantung pada sudut mana seorang komika melihat suatu permasalahan atau kegelisaan sosial, untuk ditampilkan dalam materi stand up.

Misalnya, Raditya Dika memilih topik dari sudut pandang pribadinya sendiri, yang saat itu baru kembali berpacaran setelah bertahun-tahun menjomblo.

Kemudian materi stand up dari sudut pandang seorang Panji membicarakan topik lebih ke arah motivasi, misalnya pendidikan, mengasuh anaknya, hingga masalah demokrasi. Sedangkan Ernest lebih kental dengan materi seputar anak dan
keluarganya.

Tidak bisa dipungkiri, pemilihan topik oleh komikan banyak mengundang kontroversi antar netizen.

Tahun 2017 hingga awal 2018, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kasus beberapa komika yang dianggap menghina agama, dan memasukan unsur SARA (Suku, Agama, dan Ras) dalam materi stand up comedy yang dibawakan.

Beberapa komika seperti Ge Pamungkas, Joshua Suherman, dan Uus harus berurusan dengan pihak kepolisian. Ge Pamungkas diadukan ke polisi, setelah melakukan open mic atau stand up comedy yang membuat masyarakat resah, karena materi yang dibawa dianggap menghina agama dan membawa unsur SARA yakni banjir yang menimpa Jakarta.

Joshua diadukan atas dugaan dalam bagian punchline (bagian klimaks terlucu dari komedi yang disampaikan), tentang mayoritas minoritas agama di Indonesia. Hal serupa juga dialami Uus yang harus berhadapan dengan pihak kepolisian, sehingga ia didiskualifikasi dari beberapa acara tv terkait cuitannya melalui akun twiter, yang diduga sebagai penistaan terhadap tokoh agama.

Jadi dalam komedi kesalahpahaman itu sering terjadi, karena setiap orang punya persepsi atau schemata yang berbeda, ketika mendengar suatu lelucon yang diutarakan komika, ketika tampil dan materinya dianggap sensitif untuk didengar masyarakat.

Yang sedang hangat saat ini adalah kasus yang menjerat salah satu pelawak Indonesia, Andre Taulany. Belakangan Andre dianggap sudah fatal lewat candaannya.

Andre diadukan dengan tudingan penistaan agama. Dimana Andre dianggap menghina ulama dan nabi, saat membawakan acara talkshow bersama Sule.

Kejadian bermula saat Virzha mengaku mengagumi Nabi Muhammas SAW yang wanginya seperti 1.000 bunga.

“Dulu aku pernah baca kisah Nabi Muhammad SAW dulu, dia tuh aromanya 1.000 bunga. Jadi berawal dari situ sih, kalau kita bisa wangi kenapa tidak,” ujar Virza dalam talkshow itu.

“Wangi memberikan kenyamanan kepada orang-orang,” timpal Sule.

Disela sela pembicaraan itu, Andre lalu melontarkan candaan, dan candaan itulah yang kemudian dinilai oleh sebagian orang menghina Rasulullah SAW.

“Aromanya 1.000 bunga? Itu badan apa kebun,” celetuk Andre.

Terkadang sebuah stand up dapat terdengar lucu karena schemata yang disampaikan oleh komika tersebut, sesuai dengan schemata atau persepsi yang dimiliki oleh penonton.

Namun, terkadang ada materi stand up comedy yang dianggap tidak lucu, sehingga tidak memberikan efek humoris terhadap penonton.

Adapun faktor yang menyebabkan materi stand up dianggap tidak humoris, di antaranya:

Pertama penonton tidak mempunyai schemata yang sesuai, sehingga tidak dapat memahami apa yang disampaikan komika.

Kedua, penonton memiliki schemata yang sesuai saat itu, tetapi petunjuk schemata yang disampaikan oleh komika tidak cukup kuat.

Ketiga, penonton tidak mendapatkan pemahaman materi yang relevan dengan konsep pemikiran yang ditawarkan oleh komika.

Dalam kasus komika yang dianggap menghina agama misalnya kasus Joshua. Banyak sekali orang yang bersuara dan mereka memberikan opini bahwa yang dikatakan oleh komika tersebut bukanlah suatu bentuk penodaan agama, melainkan hanya menyuarakan kegelisahan dan orang lain yang tidak peka terhadap fenomena sosial.

Perbedaan persepsi yang kerap kali menyebabkan suatu pihak menjadi tersinggung melalui materi yang disampaikan, merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh seorang komika.

Dalam penyampaiannya, seorang komika harus lebih berhati hati dalam memlilih kata-kata yang akan digunakan dalam lawakannya.

Jangan sampai komika menjadikan hal-hal yang terkait agama sebagai bahan lelucon, karena keyakinan itu bersifat sakral.

 

*) Penulis adalah mahasiswi Universitas Mataram Jurusan Komunikasi Jurnalistik.