in ,

Lombok Barat Gelar Rembug untuk Pengentasan Stunting

kicknews.today – Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki stunting cukup tinggi. Pun demikian dengan Kabupaten Lombok Barat, juga menjadi bagian dalam menyumbang kasus tersebut. Demikian diungkapkan Asisten I Setda Lombok Barat H. Ilham, Jumat (3/5), saat membuka Rembug Stunting Tingkat Kabupaten di Aula Kantor Bupati, Giri Menang Gerung.

Dikatakan, stunting bukan persoalan lokal tetapi merupakan permasalahan nasional, bahkan internasional. Dimana badan dunia seperti WHO terlibat di Indonesia, dalam menyampaikan berbagai permasalahan stunting.

“Dalam acara ini kita rembug bersama untuk kita share informasi, tukar pendapat dan pikiran kita, bagaimana stunting ini bisa kita bebaskan sampai ke akar-akarnya,” kata Asisten I Setda Lombok Barat saat membuka acara rembug.

Dalam kesempatannya, Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Barat H. Rachman Sahnan Putra, mengakui bahwa angka kasus stunting di Lombok Barat tahun 2007 lalu, terbilang cukup tinggi.

Dikatakan, dari riset kesehatan dasar tahun 2007, jumlah balita stunting di Kabupaten Lombok Barat mencapai 49,8 persen.

“Ini membuat kita semua terkesima dan membuat kita kaget. Akhirnya dengan berbagai upaya, terobosan, dan kerja kita semua, angka stunting di Lombok Barat tahun 2016 turun menjadi sekitar 32 persen,” ungkapnya.

Penurunan itu, lanjut Kepala Dikes Lombok Barat, tidak kemudian membuat kita puas dan berhenti.

“Hasil bulan penimbangan pada Februari 2019 dengan seluruh balita (di Lombok Barat, red), kita lakukan entry dan kita ukur, stunting di Lombok Barat dengan angka yang real sekitar 25,2 persen,” ucapnya.

Lebih jauh diungkapkan, beberapa inovasi yang telah dilakukan Dikes Lombok Barat, diantaranya sensus terhadap seluruh balita, inovasi Gerakan Masyarakat Sadar Gizi (Gemadazi), Gerakan Masyarakat 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), dan upaya penguatan sistem melalui e-Puskesmas, e-Pustu, e-Poskesdes, dan e-Posyandu.

Keberhasilan Lombok Barat menurunkan angka kasus stunting, mendapat apresiasi positif dari Pemerintah Pusat. Dimana tahun 2017 lalu, bersama tiga daerah lain di Indonesia, Lombok Barat ditunjuk sebagai daerah percontohan penanganan angka stunting, karena pemerintah daerah dinilai memiliki komitmen yang kuat di dalamnya.

“Mari jadikan kegiatan ini, momentum mencanangkan intervensi penurunan stunting terintegrasi, dan memperluas lokasi intervensi secara bertahap,” ajaknya.

Ia pun menekankan bahwa hal itu akan dapat terselesaikan, melalui penguatan komitmen dan koordinasi lintas sektor, melalui dana APBN, APBD, Dana Desa (DD), dan sumber lainnya.

Sementara Kepala Dikes Provinsi NTB dr. Nurhandini Eka Dewi yang turut hadir, memberikan dukungan dan apresiasi tinggi terhadap kegiatan rembug tersebut.

Bagi dr. Nurhamdini, stunting tidak dapat dianggap sepele atau dipandang sebelah mata, karena hal itu dianggap sebagai salah satu indikator Indeks Kelayakan Hidup (IKH) manusia, berikut pengaruhnya pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM)-nya.

“Dengan rembug stunting ini, bukannya pemerintah lepas tangan atau membagi beban permasalahan stunting, dengan desa maupun stakeholder lainnya. Namun pemerintah ingin mengingatkan, masalah stunting ini merupakan masalah bersama yang perlu ada penyikapan bersama,” terangnya.

Menurut dr. Nurhandini, beberapa hal yang harus ditingkatkan dalam upaya pengentasan kasus stunting, di antaranya peningkatan kapasitas petugas terkait penanggulangan stunting, dan pemantauan tumbuh kembang anak melalui pola pengasuhan anak.

“Seperti pemberian makan bayi, PMT ibu hamil, bayi dan balita, serta suplementasi vitamin,” ucapnya.

Selain itu, lanjutnya, juga diperlukan intervensi gizi sensitif, berupa peningkatan akses air bersih dan lingkungan yang sehat bekerjasama dengan OPD terkait.

Dalam kesempatan rembug itu, tidak dengan maksud menggurui dr. Nurhandini juga memaparkan dengan singkat, apa dan bagaimana sebenarnya yang dimakaud stunting.

Dijelaskannya, stunting adalah gangguan pertumbuhan kronis pada anak, akibat kekurangan nutrisi dalam waktu lama. Sehingga anak yang terkena stunting umumnya bertubuh lebih pendek dibanding anak seusianya.

“Umumnya stunting sering ditemukan pada balita, khususnya usia 1-3 tahun,” jelasnya.

Sementara dampak stunting itu, bebernya, juga dapat mempengaruhi kecerdasan dan kemampuan belajar anak, akibat kekurangan gizi serta mudah terserang penyakit.

“Anak yang terkena stunting berisiko terkena berbagai penyakit saat dewasa, seperti diabetes, jantung, kanker, dan stroke,” ujarnya.

“Bahkan stunting juga bisa berujung pada kematian usia dini,” tutupnya. (red)