in

Upaya Pemkab Lombok Utara Jaga Tiga Gili Dari Sampah

Petugas kebersihan saat mengangkut sampah di gili air (foto: rico)

kicknews.today – Sebagai kawasan pariwisata Tiga Gili (Trawangan, Meno, dan Air) merupakan primadona sekaligus objek andalan daerah. Betapa tidak, ribuan wisatawan datang silih berganti setiap harinya di pulau yang menawarkan keindahan alam itu. Namun demikian, bukan berarti kawasan yang jadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) ini bebas dari masalah.

Sampah merupakan persoalan yang klise dan seolah menghantui pariwisata di sana. Belakangan Dinas Lingkungan Hidup Perumahanan dan Kawasan Permukiman (DLHPKP) Lombok Utara telah menemukan solusi, untuk mengatasi krodit persampahan. Sebagaimana diungkapkan Kepala DLHPKP H. Rusdi belum lama ini, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sudah dibentuk dan akan memback up penuh aspek kebersihan.

“Masing-masing di tiga gili ada satu KSM, mereka akan bekerja sesuai perjanjian dengan kita. Demikian soal pungutan retribusinya,” ungkapnya.

“Tidak hanya di pulau, kami juga membentuk KSM di darat jadi setiap desa ada yang mengatasi sampah. Kami harapkan ini berjalan efektif,” imbuhnya.

Sementara itu, Suhaimi mandor pengangkut sampah di Gili Air mengatakan pekerjaan mengatasi sampah di pulau diawali dengan menumpuk sampah di satu lokasi. Di mana hal ini dikerjakan setiap pagi manakala wisatawan belum banyak beraktifitas. Tidak hanya pengusaha namun sampah masyarakat juga ikut diangkut.

“Jam 7 sudah menyisir sampah dan dikumpukan. Nanti setelah itu baru kami angkut ke darat,” terangnya.

Dalam sehari pria yang bertanggungjawab membawa sampah dari Gili Air ke daratan Sira tersebut, mampu mengumpulkan hingga 10 ton. Jumlah yang tidak sedikit tentunya, hanya saja total tersebut bisa bertambah ketika high season mulai datang, periode Juni sampai Desember tak jarang volume limbah bisa dua kali lipat.

“Dongol-dongol yang bertugas keliling dari ujung ke ujung. Kalau ramai sampai 12 ton bisa juga lebih,” kata pria yang telah bergelut dengan sampah selama 3 tahun ini.

Plt Kepala Desa Gili Indah sekaligus penasehat KSM Suburudin menjelaskan, keberadaan KSM sejatinya tidak hanya eksis dalam sisi bisnis. Kendati mereka melakukan pungutan (berdasarkan Perda) namun tujuan utama yaitu membantu meringankan beban pemkab mengtasi masalah sampah.

“Memang kita sudah aktif dari dulu, namanya gili care. Kami menggunakan dongol 10 unit yang di kontrak untuk membawa sampah setiap pagi. Membagi rute sampah tidak menyisahkan sampah,” jelasnya.

Perihal pengelolaan sampah guna disulap menjadi bahan yang mampu menjadi materi, pihaknya dalam waktu dekat akan duduk bersama dengan KSM pun masyarakat. Hal ini untuk membahas lebih jauh seperti apa konsep pengelolaan demikian pula memanfaatkan lahan daerah yang belum lama ini sudah dibebaskan. Kemudian dari aspek pendapatan sendiri, KSM tetap menyetor ke daerah dengan jumlah yang terbilang fantastis.

“Kalau khusus nominal setoran setahu saya Rp 23 juta sebulan, rata-rata sudah jalan seperti itu. Tetapi tidak semua pengusaha dan warga bayar, karena tergantung volume sampah. Ada yang Rp 500 ada juga Rp 1 juta. Jumlah pengusaha di sini sekitar 124 orang namun belum semuanya ikut program,” tuturnya.

“Saya dengan Pak Basok (Ketua KSM) akan undang masyarakat, melibatkan pengusaha dan wisatawan diskusi bagaimana dan menerima masukan ke depan,” simpulnya.(iko)