in

IPNU NTB Buka Suara untuk Kota Mataram Pasca Ahyar Abduh

kicknews.today – Pasca Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 17 April mendatang, pesta demokrasi pun akan berlanjut dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak. Untuk Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), nama Badruttamam Ahda, Lc. mulai disebut-sebut banyak kalangan di Kota Mataram.

Putra sulung Walikota Mataram dua periode H. Ahyar Abuh itu, dikatakan banyak pihak dipersiapkan untuk menggantikan dan melanjutkan kepemimpinan ayahnya.

Fenomena di lapangan juga ketahui, akhir-akhir ini Badruttamam banyak diundang warga, untuk mengisi pengajian di masjid-masjid di Kota Mataram.

Selain itu, dia juga dikenal mulai banyak melakukan kerja-kerja sosial dan kemanusiaan, dalam membantu masyarakat Kota Mataram akhir-akhir ini.

Fenomena itu menggelitik Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) NTB, Pauzan Basri membuka suara.

“Bagi saya, jika Ahyar Abduh memasang putranya untuk bertarung melanjutkan estafet kepemimpinannya di Kota Mataram, maka nepotisme kekuasaan itu akan terulang lagi sebagaimana Pilgub NTB 2018 lalu,” ungkapnya, Senin (8/4).

Dikatakan, meskipun hal itu diperbolehkan secara undang-undang dan konstitusi Indonesia. Tetapi kalau itu yang terjadi akan terlihat sangat riskan.

“Anak masih kecil dan belum tahu banyak tentang birokrasi Kota Mataram, kemudian disuruh memimpin Kota Mataram yang merupakan etalase perpolitikan di NTB. Belum lagi Kota Mataram sebagai ibukota propinsi, di situ ada keragaman suku, agama, dan ras,” ujarnya.

“Tentu menurut saya cukup berat, bagi seorang anak yang belum tahu banyak mengenal medan kota,” imbuhnya.

Bukan itu saja, lanjutnya, akan muncul lagi pertanyaan publik apa mungkin sang putra mahkota nantinya, akankah dapat mempertahankan kemajuan daerahnya. Dimana diketahui IPM Kota Mataram meningkat setiap tahunnya sebagaimana capaian selama kepemimpinan Ahyar Abduh dan Mohan Roliskana.

Lebih jauh dia katakan, melihat ke belakang pada pilkada 2015 silam, cukup banyak tokoh sentral yang mencoba menawarkan diri di Kota Mataram. Sebut saja Kasdiono, Rosiyadi H. Sayuti, dan beberapa tokoh lainnya.

Publik tentu bertanya, siapa kira-kira yang layak dan pantas melanjutkan estafet kepemimpinan Ahyar-Mohan di Kota Mataram?

Mungkinkah Ahyar Abduh akan ngotot memberikan mandat dan menyiapkan putra mahkotanya, yang alumnus Universitas Al Azhar Kairo itu bertarung menjadi walikota atau wakil walikota?

Untuk diketahui, ke depan Walikota dan Wakil Walikota Mataram memiliki banyak pekerjaan rumah (PR) besar, termasuk rehabilitasi dan rokonstruksi dampak bencana gempabumi lalu. (red)