in

Warga KLU Meninggal Akibat DBD, Keluarga Keluhkan Pelayanan Puskesmas

Ilustrasi DBD

kicknews.today – Muhajirin (35) Warga Dusun Dasan Anyar Desa Teniga Kecamatan Tanjung Lombok Utara, meninggal akibat menderita Demam Berdarah (DBD). Ia meninggal saat hendak mendapat perawatan di RSUD Tanjung, Selasa (26/3) sekitar pukul 18.00 Wita. Namun, yang menjadi persoalan yaitu lambatnya penanganan yang diberikan oleh Puskesmas Tanjung. Hal ini pun juga dikeluhkan oleh Istri Muhajirin, yaitu Seni Bidayati.

Seni Bidayati yang ditemui dirumahnya, Rabu (27/3) mengungkapkan jika sang suami mulai merasakan sakit sejak Senin . Ketika dibawa berobat ke Puskesmas Tanjung, kemarin sekitar pukul 10.00 Wita, hasil pemeriksaan yang dilakukan menunjukkan tanda-tanda baik, pun hasil lab yang bagus. Hanya saja, Muhajirin mengeluhkan bahwa dirinya lemas dan merasakan sakit dibagian pinggang.

“Sampai puskesmas saya langsung bilang sama dokter, di cek darahnya normal. Tapi dia bilang katanya saya ini lemas ingin di infuse,” ungkapnya.

Pihak puskesmas tidak mengindahkan permintaan keluarga supaya Muhajirin mendapatkan infuse, lantaran puskesmas menilai bahwa kondisi pasien normal berdasarkan hasil pemeriksaan. Sontak hal itu membuat Seni kebinggungan. Padahal ia mengaku suaminya waktu itu bersikeras untuk mendapatkan infuse, namun tetap saja mendapat penolakan.

“Saya bilang kenapa tidak mau di infuse, dokter bilang hasilnya bagus makanya tidak perlu. Dia bilang lagi saya mau infuse karena saya gak punya tenaga. Saya juga bilang infuse aja setengah hari dok, tapi justru dikasi obat dan vitamin,” tuturnya mencontohkan.

Dijelaskannya, dokter menyuruh pasien pulang dengan catatan jika keesokan harinya mereka harus kembali untuk mengecek darah. Sesampainya dirumah, kondisi Muhajirin tak kunjung membaik, meski sempat makan dan minum obat dari puskesmas, namun ia mengeluhkan sakit sampai akhirnya dibawa ke RSUD Tanjung. Dalam perjalannya ia menghembuskan nafas terakhir.

“Disuruh pulang sama dokter terus kita tidak mau pulang, tidak mau pulang.Tapi karena dokter datang pergi, akhirnya almarhum itu bilang saya pulang saja, sampai sini (rumah) bisa makan tidur, saya kasi obat dia tidur,” jelasnya.

“Kenapa puskesmas ini menolak, padahal dia sudah lemas. Padahal sampai dirumah saya sakit kepala sakit pinggang katanya,” imbuhnya.

Secara terpisah Dokter Puskesmas yang menangani Muhajirin, dr. Ika Anjani menampik jika pihak Puskesmas Tanjung menolak memberikan infuse. Meski berdasarkan pemeriksaan kondisi cukup normal tetapi pihaknya bersedia untuk melayani permintaan keluarga.

“Kami tidak menolak untuk rawat inap tidak ada, kami memberikan penjelasan ke keluarga bahwa kondisi seperti tadi hasil pemeriksaan kami untuk rawat inap. Saya sendiri buatkan instruksi rawat inap, infus dan lain sebagainya karena memang pasien yang minta,” kilahnya.

Menurutnya, indikasi untuk bisa rawat inap pasien sendiri yakni jika menderita DBD ada tanda-tanda pendarahan, sementara hasil pemeriksaan tidak ada pendarahan ditemukan pada Muhajirin. Kemudian dari hasil cek darahnya trombosit tercatat 150, indikasi rawat inap sendiri dibawah 100 ribu.

“Dan pada akhirnya berjalan dari omongan keluarga, perawat, akhirnya pihak keluarganya yang minta pulang kemudian pasiennya pulang. Tapi dari kami tidak ada menolak dirawat inap karena ada tanda bukti, kami sudah membuatkan formulir rawat inap. Walaupun kondisinya masih bagus,” tukasnya.(iko)