in

Bunuh Diri Saja…?

Oleh: Asrarudin Hamid

“Dengan mengurung diri dalam sebuah mobil tua, aliran gas mobil dinyalakan dan senyap. Pada sekian waktu kemudian, seorang lelaki muda, usia 17 tahun. Kizuki, ditemukan meregang nyawa. Mati.”

Twist plot di atas adalah kisah “Norwegian Wood”, magnum opus milik salah satu sastrawan Jepang hari ini. Haruki Murakami.

***

Bunuh diri, “suicidum” acapkali merupakan sebuah peristiwa kejiwaan yang membuat semua orang kehilangan. Alih-alih adalah korban. Peristiwa kematian secara “tidak wajar” ini barangkali akan meninggalkan banyak duka untuk semua pihak. Teman, keluarga dan handai taulan.

WHO merilis setiap 40 detik satu nyawa hilang karena bunuh diri. Terdapat 800.000 orang bunuh diri setiap tahun di seluruh dunia. Lebih jauh dikatakan bahwa bunuh diri menjadi penyebab kedua terbesar kematian di usia 15-29 tahun. Data BPS tahun 2015 terdapat 812 kasus bunuh diri di Indonesia.  Berdasarkan gender, tingkat bunuh diri pada perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Rinciannya perempuan 4,9 orang per 100.000 penduduk sementara laki-laki 3,7 orang per 100.000 penduduk. Sejatinya kasus bunuh diri merupakan sebuah kasus kejadian yang mengerikan dimana kejadian ini adalah sebuah ancaman eksistensi kemanusiaan kita.

Bunuh diri atau “suicide” dimaksudkan sebagai tindakan membunuh diri sendiri. Mengutip pendapat Charleton*, bunuh diri digambarkan tindakan merusak diri (destroying oneself), membunuh diri (murdering oneself) dan pembantaian terhadap diri sendiri (slaughtering oneself), tetapi jika mengutip Donne* bunuh diri lebih identik dengan self homicide atau semua tindakan membunuh diri yang disengaja pada diri sendiri (a killing of self).

Dompu, KLB Bunuh Diri

Di Dompu, tepatnya kecamatan Hu’u, salah satu daerah lingkup hukum Kepolisian Resort (Polres) Dompu Nusa Tenggara Barat, beberapa hari ini dikejutkan oleh kejadian kasus bunuh diri. Data dari media lokal dan hasil komunikasi dengan beberapa tenaga kesehatan (nakes) perkuartal tahun 2019 terdapat 8 kasus percobaan bunuh diri, 5 kasus korban meninggal dengan cara bunuh diri tersebut. Rerata usia adalah remaja (10 – 19 tahun). Data kasus terakhir per 16 Maret 2019, kasus bunuh diri terjadi pada perempuan An. BS, umur 17 tahun dari Hu’u meninggal dengan penemuan bungkusan “Dopont Lannate”, sebuah obat pembasmi hama. Terdapat banyak varian alasan-alasan tindakan bunuh diri, acapkali permasalahannya “sepele”.

Bunuh Diri Saja?

Bunuh diri tidaklah pernah sekalipun dianggap sebagai sebuah tindakan dengan permasalahan “sepele”, ulangi tindakan permasalahan sepele.

Terdapat beberapa varian faktor yang bisa ditelisik mengenai penyebab nekadnya seseorang melakukan bunuh diri. Mengutip Hawari*, faktor-faktor tersebut diantaranya adalah pengangguran, tingkat kemiskinan yang terus bertambah, penggusuran, kesenjangan kaya miskin dan pasien gangguan mental terutama depresi yang tidak ditangani secara optimal. Lebih jauh jika mengutip Carla*, faktor resiko untuk bunuh diri: depresi, gangguan jiwa berat (skizofrenia), gangguan kepribadian, putus asa, status sosial ekonomi (rendah dan tinggi), usia dan jenis kelamin (perempuan lebih rentan bunuh diri dibandingkan lelaki).

Depresi (dengan kode diagnosa jiwa PPDGJ III, F.32) acapkali merupakan varian pertama yang biasa dipakai sebagai “marker” untuk mendiagnosa kecenderungan seseorang melakukan bunuh diri. Terdapat tiga varian episode depresi yaitu ringan, sedang dan berat. Dimana individu tersebut biasanya menderita suasana perasaan (mood) yang depresif, hilang kegembiraan, mudah lelah dan berkurangnya aktivitas. Gejala lazim lain adalah : konsentrasi berkurang, harga diri rendah, gagasan perasaan bersalah (tidak berguna), pesimistis dan pandangan masa depan suram, tidur terganggu, nafsu makan berkurang dan hingga kondisi bunuh diri. Tindakan bunuh diri sendiri merupakan kondisi yang terjadi pada seseorang dengan diagnosa psikiatris, depresi berat. Bunuh diri tidak pernah bisa dianggap sebagai sebuah kejadian sepele, karena sejatinya yang bersangkutan sakit. Mengalami kelainan kejiwaan.

Masalahnya Apa?

Menarik menelisik varian faktor masalah dan kenapa bisa terjadi maraknya kasus bunuh diri, kita sempitkan pada kasus di Dompu. Data rerata yang melakukan bunuh diri adalah remaja (adolescene). Usia remaja (10-19 tahun) terjadi transisi antara masa anak ke masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional. Pada masa remaja terjadi perubahan-perubahan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Hal lain yang tidak bisa diabaikan adalah perubahan fisik, emosional dan psikis.

Secara sosial kultural, masyarakat Dompu sendiri mayoritas per identitas adalah kawula agraris. Masih dalam sebuah ikatan suku Mbojo dengan varian identitas lain yang secara relijius adalah penganut Islam. Ikatan historis dengan semboyan, “Maja Labo Dahu” dan atau “Nggahi Rawi Pahu”, sejatinya membuat banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dan asumsi yang bisa dipakai kenapa tindakan bunuh diri masif terjadi di wilayah ini.

Dengan kondisi identitas seperti diatas, “marker” yang bisa dijadikan asumsi adalah kemungkinan apakah terjadi perubahan faktor-faktor seperti sosial kultural yang dimaksud? Apakah di Dompu terjadi perubahan ekonomi? Apakah terjadi perubahan cara hidup yang awalnya penuh dengan kesahajaan berubah menjadi pola hidup yang individualistik, konsumtif dan kapitalistik? Dari masyarakat yang “taat” menuju masyarakat yang “krisis” secara relijius? Pada kasus “korban” tindakan bunuh diri ini rerata adalah mereka dari kalangan masyarakat menengah ke bawah bahkan cenderung diklasifikasikan “miskin”. Varian ekonomi sejatinya bisa saja dipakai sebagai asumsi awal?

Lalu Apa?

Bunuh diri adalah bunuh diri dan ini adalah masalah kita semua, ulangi kita semua. Ada banyak hal yang perlu dilakukan untuk menangani masalah ini. Perlu dilakukan kerjasama lintas sektoral antar semua pihak. Stake holder terkait sudah saatnya tidak abai masalah ini. Rekomendasi terbaik adalah bahwa harus ada tindakan yang melibatkan ahli kesehatan (dokter jiwa) dan tenaga kesehatan lain secara menyeluruh. Tindakan lain adalah harus melibatkan tokoh ulama, tokoh adat dan segala unsur lain. Rekomendasi lain yang tidak kalah penting adalah melibatkan tim kajian baik secara sosial, etnograf maupun antropologis. Pelibatan unsur-unsur negara seperti Polri dan TNI juga perlu. Tindakan yang dimaksud adalah untuk mengetahui secara jelas apa yang sebenarnya terjadi disana.

Tindakan bunuh diri ini sejatinya dapat dicegah, hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita tidak lagi abai terhadap orang-orang sekitar. Orang-orang terdekat kita. Jika seseorang di luar sana membutuhkan dirimu, maka hadirlah. Peduli dan empatilah. Kamu tidak akan pernah tahu jika nyatanya dengan adanya kamu, kamu menyelamatkan yang lain. Jangan lupa ke dokter, jangan lupa cari pertolongan baik medis, sosial dan lain jika kamu merasa bahwa dirimu punya kecenderungan-kecenderungan untuk mengakhiri hidupmu sendiri.

Bukankah hidup terlalu berharga untuk kamu abaikan atau kamu akhiri dengan bunuh diri, saudaraku?

NB :

“Maja Labo Dahu” : Malu dan takut, malulah kepada Allah, takutlah kepada Allah.

“Nggahi Rawi Pahu” : Kerjakanlah segala hal yang kau ikhtiarkan, lisankan.

 

Penulis ialah Dokter Umum di Biddokes Polda NTB

Relawan, pemerhati sosial, dokter Kalikuma

(Jln. Industri No. 26A, Taman Kapitan, Ampenan, Kota Mataram)

Email : [email protected]