in

Kapolda NTB Apresiasi Gelora Pemilu Tanpa Caci Maki Majelis Badruttamam Darul Falah

Kapolda NTB saat memberikan sambutan di Majelis Badruttamam Ponpes Darul Falah Pagutan

kicknews.today – Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Nusa Tenggara Barat (NTB) Irjen Pol Drs. Achmat Juri, M.Hum., Kamis (21/3) malam, mengapresiasi semangat Majelis Badruttamam Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Falah, Pagutan, Kota Mataram dalam menggelorakan Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2019 yang damai dan bermartabat, tanpa caci dan makian.

Dikatakan, peran pesantren yang selalu di depan dalam mengawal pemilu damai telah terbukti sejak dulu. Itu semua karena ponpes menghormati semangat kebhinekaan, yang merupakan salah satu pilar kukuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk Ponpes Darul Falah.

“Ponpes mengawal pemilu damai dari dulu sudah terbukti. Selama masih dalam kerangka NKRI dan bhinneka tunggal Ika maka ponpes akan terus mengawal,” ungkap Kapolda di hadapan peserta majelis yang tidak bergeming atau beranjak, walaupun diguyur hujan lebat itu.

Dalam kesempatan itu, Kapolda NTB mengimbau agar menjadikan pemilu sebagai sebuah pesta yang harus dinikmati dengan damai.

“Mari kita laksanakan pesta demokrasi dengan penuh kedamaian, kerukunan. Kita berharap sukses karena demokrasi warisan dari leluhur kita yang harus dijaga, dilestarikan, dan dicapai cita-cita luhur itu,” imbaunya.

Sementara Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) NU Darul Falah Pagutan TGH. Muammar Arafat, menyerukan masyarakat untuk menyongsong pemilu 17 April mendatang dengan damai dan harmonis.

“Jadi harus ikut serta (dalam pemilu, red). Tetapi ingat, kita Majelis Badruttamam harus menciptakan pemilu yang damai, bukan pemilu dengan caci maki, bukan pemilu yang isinya fitnah, kebohongan,” tandasnya.

Senada dengan Kapolda NTB, TGH. Muammar mengungkapkan bahwa ponpes sangat berperan penting dalam menciptakan pemilu damai, karena ponpes sangat dekat dengan masyarakat. Melalui sarana dakwah, pengajian maupun kegiatan keagamaan lainnya, elemen pesantren akan menyelipkan pesan damai dalam menghadapi Pemilu Serentak 2019.

“Pondok pesantren itu sangat dekat dengan masyarakat yang ada di akar rumput. Dimana beberapa bulan terakhir kita lihat konstalasi politik Indonesia, cenderung orang-orang atau elit politik kayak berkelahi, sehingga ini berdampak pada masyarakat,” jelasnya.

“Pemilu ini adalah pesta rakyat, pemilu bukan perang, tapi pesta yang kita harus senang,” imbuhnya.

Dia memberikan ilustrasi bahwa pemilu ibarat berbelanja di sebuah warung. Pembeli akan bebas memilih dan mengkonsumsi menu sesuai pilihan masing-masing, tanpa harus ada keributan antar pembeli.

“Walaupun beda makanan kita di pesta, seperti orang di warung ada yang makan soto, ada yang makan bakso. Apa mereka bertengkar? Tidak kan,” ujarnya.

Pihaknya berharap, pesan pemilu tanpa caci maki itu dapat disampaikan kepada seluruh masyarakat dimanapun berada.

“Kita berikan pemahaman pada masyarakat seperti apa pemilu ini. Ini kesepakatan kita, menyampaikan pesan damai, kita juga turun ke masyarakat,” tutupnya. (red)