in

Mahasiswa Mataram Gelar Mimbar Bebas Tolak Politisasi SARA

Massa aksi foto bersama Kapolrea Mataram usai mimbar bebas

kicknews.today – Pergolakan menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2019 terutama Pemilihan Presiden (Pilpres), dinilai telah keluar dari koridor berdemokrasi yang baik. Hal ini diteriakkan puluhan massa aksi yang tergabung dalam Organisasi Kemahasiswaan dan Pemuda (OKP) Cipayung Plus Kota Mataram, Kamis (21/2), saat menggelar Mimbar Bebas di Taman Sangkareang Kota Mataram.

Hadir dalam Mimbar Bebas bertajuk “Lawan Disintegrasi Bangsa” itu, Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Mataram Abdul Qadir Jaelani, Ketua Himmah NW Muhammad Khairul, Perwakilan dari Ikatan Mahasiswa Muammadiyah  (IMM) Hamsaturrahman, Perwakilan Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Made Ari Mahendra.

“Kami menyatakan sikap, bahwa kami yang tergabung dalam organisasi Cipayung plus Kota Mataram, menolak segala bentuk tindakan politisasi SARA,” teriak lantang Ketua PMII Mataram Abdul Qadir Jaelani.

Massa gabungan dari sejumlah OKP itu menyoroti dan menolak keras penyebaran berita hoax, yang menyulut munculnya ujaran kebencian dan perpecahan. Termasuk politisasi berdalil agama dan pangkat jabatan, yang dianggap tidak mencerminkan budaya bangsa.

“Belum selasai dengan urusan isu SARA, kembali kita dibenturkan dengan ujaran kebencian dan hoax,” ujarnya.

Padahal sejauh ini, lanjutnya, masalah ujaran kebencian, penghinaan atau pencemaran nama baik telah diatur dan tertuang dalam undang-undang.

“Hal-hal yang menyangkut teknis soal agama yang dijadikan alat politik, terkait SARA, mendeskreditkan pihak lain atau menebar kebencian, jelas melanggar hukum dan aturan politik,” ucapnya.

“Kami meminta Bawaslu menindak tegas oknum peserta pemilu yang menggunakan politisasi SARA,” imbuhnya.

Selain itu, massa juga mendukung pihak kepolisian dalam memberantas penyebaran berita hoax, yang dapat mengancam integritas bangsa.

Sementara Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Ali Mukmin mengatakan, akhir-akhir ini bangsa Indonesia menyaksikan bersama isu agama dimainkan oknum tidak bertanggungjawab, untuk memecah belah persatuan antar sesama anak bangsa.

Menurutnya, agama seharusnya jadi pemersatu anak bangsa bukan dijadikan sebagai alat politik.

“Kita harus lawan politisasi agama yang dimainkan oleh oknum yang ingin merebut kekuasaan,” ungkapnya.

“Penyelenggara pemilu harus tegas terhadap oknum yang manfaatkan rumah ibadah, sebagai tempat kampanye,” imbuhnya

Dari pantauan media, aksi damai mahasiswa itu mendapat perhatian khusus Kapolres Mataram AKBP Syaiful Alam, yang langsung menemui masa aksi untuk mendengarkan aspirasi yang ingin disampaikan.

Kapolres meminta agar seluruh pihak khususnya mahasiswa yang hadir, turut serta menjadi agen kontrol dalam mengawal pesta demokrasi yang damai dan sejuk.

“Kamtibmas terpengaruh dengan adanya politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Sehingga dalam berpolitik, marilah adik-adik mahasiswa, kita berakal dan berilmu, tidak terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan,” ujarnya.

“Dengan berakal dan berilmu, kita bisa membedakan yang mana baik dan yang jelek,” imbuh Kapolres.

Dikatakan, pihaknya mendukung harapan yang disuarakan mahasiswa, untuk tegak dan kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kegiatan ini baik, memberikan motivasi dan dorongan kepada sesama, kepada pemerintah, kepada aparat setempat, sehingga kita bisa menciptakan suasana yang kondusif,” ucapnya.

“Menolak isu yang tidak baik, berita bohong kita tolak, ujaran kebencian kita tolak, isu SARA kita tolak, sehingga keutuhan bangsa tercipta dan Mataram tanpa kekerasan,” lanjut Kapolres.

Di hadapan massa aksi, Kapolres bahkan mengambil sikap sempurna dan mengangkat tangan memberi hormat, sebagai bentuk apresiasi kepada mahasiswa.

“Salam hormat dari saya Kapolres Mataram,” pungkasnya. (red)