in

Tarung Bebas Debat II: Jokowi Konkret by Data dan Fakta vs Berandai-andai Gaya Prabowo

Capres nomor urut 01 Jokowi (berdiri) saat menanggapi capres nomor urut 2 Prabowo S (kanan duduk)

kicknews.today – Debat putaran kedua yang digadang banyak kalangan sebagai ‘tarung bebas’, dimana mempertemukan dua Calon Presiden (Capres) Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, Minggu (17/2) malam, di Hotel Sultan, Senayan. Dalam debat kali ini Capres nomor urut 01 Jokowi pun kembali menang telak atas capres nomor urut 02 Prabowo.

Dalam debat dengan duo moderator Tommy Tjokro dan Anisha Dasuki yang mengangkat tema ‘Infrastruktur, Pangan, Energi, Sumber Daya Alam dan Lingkungan’ tersebut, Capres nomor urut 01 Jokowi tampil ‘slow starter’ di segmen pertama saat menyampaikan visi-misi, namun menggebrak di segmen-segmen berikutnya.

Berbeda dengan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto dimana dalam debat kali ini banyak memakai terminologi, “Kalau saya mendapat kesempatan berkuasa…” maka Jokowi memaparkan fakta-fakta apa yang telah diperbuatnya selama 4,5 tahun menjadi presiden pada periode pertama 2014-2019.

Pada topik infrastruktur, Prabowo menyerang Jokowi dengan menganggap berbagai pembangunan yang dilakukan pemerintah ‘grusa-grusu’, dan bahkan dilakukan tanpa studi kelayakan.

Capres nomor urut 01 Joko Widodo menyanggah kritik capres nomor urut 02 Prabowo Subianto. Jokowi menyebut semua proyek infrastruktur yang dibuat di masa pemerintahannya sudah melalui uji kelayakan atau feasibility study.

“Ya kalau tadi Pak Prabowo menyampaikan tanpa feasibility study, saya kira salah besar,” kata Jokowi menjawab kritik Prabowo.

Jokowi menyebut apa yang dilakukannya sudah lama direncanakan. Prabowo mengkritik soal infrastruktur, seperti LRT di Palembang dan Bandara Kertajati, tapi Jokowi menyebut kedua contoh infrastruktur itu membutuhkan waktu.

“Mengenai tadi disampaikan LRT Palembang, semuanya butuh waktu. Budaya yang senang naik mobil sendiri kemudian transportasi massal. Pengalaman saya mempelajari dari negara lain butuh 10-20 tahun,” papar Jokowi.

Bahkan, terkait posisi Indonesia memasuki era Revolusi Industri 4.0, Jokowi balik menuding Prabowo kurang punya keyakinan diri. Jokowi meyakini pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang direncanakannya akan lebih menyejahterakan petani di Indonesia.

“Pak Prabowo ini kayaknya ke depan kurang optimistis,” seloroh Jokowi.

Menariknya, Prabowo tak segan memuji langkah-langkah konkret Jokowi. Ia mengakui Jokowi telah melakukan berbagai kebijakan positif dalam rangka kemandirian energi RI.

“Setiap usaha ke arah kemandirian di bidang energi kita sambut baik. Kami juga bisa mengakui bahawa memang Pak Jokowi telah melakukan hal-hal positif di bidang itu,” kata Prabowo.

Kali ini, Jokowi berani ofensif. Suatu kali ia membalik omongan Prabowo soal tidak efektifnya Reforma Agraria dan bagi-bagi tanah ke rakyat. Bagi Jokowi, kebijakan membagi-bagi tanah ke rakyat jauh lebih baik daripada dikuasai oleh kelompok-kelompok pengusaha besar.

“Saya tahu Pak Prabowo memiliki lahan yang sangat luas di Kalimantan Timur sebesar 220 ribu hektare, juga di Aceh Tengah 120 ribu hektare. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa pembagian-pembagian seperti ini tidak dilakukan masa pemerintahan saya,” kata Jokowi.

Saat sesi debat inspiratif, Prabowo Subianto menyerang Joko Widodo dengan permasalahan impor. Jokowi lalu menjawabnya dengan membeberkan data.

“Di tahun 2014, kita mengimpor jagung 3,7 juta ton. 2018 kita hanya impor 180 ribu ton. Artinya, petani jagung kita telah produksi 3,3 juta ton, sehingga impor kita sangat berkurang. Tidak mungkin bisa seperti membalikkan tangan, dalam sehari dua hari, setahun dua tahun. Perlu waktu panjang,” urai Jokowi.

Dalam pidato penutup debat, Jokowi mengingatkan bahwa mengelola negara sebesar Indonesia itu tidak mudah.

“Mengelola negara sebesar Indonesia ini tak mudah, tak gampang. Sangat beruntung sekali saya punya pengalaman mengelola kota sebagai wali kota, Provinsi, dan 4,5 tahun ini mengelola negara kita Indonesia,” kata Jokowi.

Karena itu, Jokowi menekankan pentingnya ketegasan dan keberanian dalam membuat kebijakan. Jokowi mencontohkan keberanian pemerintahannya membubarkan mafia migas petral, merebut Blok Rokan dan Blok Mahakam serta sudah menguasai 51 persen saham Freeport.

“Kita ingin negara ini semakin baik. Saya akan pergunakan seluruh tenaga yang saya miliki, kewenangan yang saya miliki. Tidak ada yang saya takuti untuk kepentingan nasional, rakyat, bangsa negara. Tidak ada yang saya takuti kecuali Allah SWT untuk Indonesia maju,” tegas Jokowi. (red)