in

Mahfud MD Ajak Pendukung Kontestan Pemilu 2019 Hindari Bikin Hoax

Prof. Dr. Mahfud MD, SH., SU. saat memberikan sambutan dalam acara Sarasehan Kebangsaan di Hotel Golden Palace, Kota Mataram

kicknews.today – Mentor Gerakan Suluh Kebangsaan Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., SH., SU., Selasa (12/2), mengimbau para pendukung pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres), yang ikut dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 April mendatang, agar menghindari penyebaran berita hoax.

“Saya tidak melihat kedua pasangan (capres dan cawapres, red) saling ejek, ndak ada. Yang muncul saling ejek kan pendukungnya. Itulah yang kita imbau, pendukung ini jangan bikin berita hoaks dan jangan memancing pertengkaran,” kata Mahfud MD usai acara Sarasehan Kebangsaan dengan tema “Memperkuat Keagamaan dan Keindonesiaan Kita”, di Ballroom Cemara Hotel Golden Palace, Kota Mataram.

“Karena kedua pasangan ini dalam catatan saya dan kita semua, tidak ada yang saling ejek,” imbuhnya.

Imbauan ini dilontarkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini, terkait maraknya hoax di media sosial menjelang Pilpres 2019. Karena itu, pihaknya mengharap warganet agar menghilangkan sifat saling ejek antarkubu pendukung pasangan calon.

Selain itu, pakar hukum tata negara ini juga berharap partisipasi pemilih semakin meningkat. Dimana berdasarkan hasil survei, tingkat golput pada pemilu 2019 diprediksi akan turun dari 20 persen menjadi 14 persen.

“Saya tidak tahu seberapa mengkhawatirkan (golput, red), tapi golput itu sebaiknya tidak dilakukan oleh yang punya hak suara. Pilih saja mana yang lebih baik, karena dalam demokrasi tidak akan ada calon pemimpin yang ideal, yang ada (calon pemimpin) yang relatif lebih baik dibandingkan yang lain,” ungkapnya.

Salah satu putra terbaik Pulau Garam, Madura ini juga menyampaikan bahwa fenomena yang terjadi menjelang Pemilu Serentak inilah, sehingga Gerakan Suluh Kebangsaan hadir ke Nusa Tenggara Barat (NTB), yakni untuk meluruskan jalannya perpolitikan yang akhir-akhir ini cenderung mengedepankan politik identitas.

“Pemilu ini filosofinya mencari pemimpin dan wakil rakyat untuk ditaati bersama. Oleh sebab itu pilihlah siapapun yang akan dipilih sebebas-bebasnya, sesuai dengan aspirasi masing-masing warga. Tetapi jangan berpecah-belah, jangan bertengkar,” tandasnya.

“Kita memilih berdasarkan itu (politik identitas, red) boleh saja. Tapi jangan sampai itu jadi pemicu untuk konflik. Begitu selesai (pemilu, red), ya bersatu lagi, karena negara ini dibangun sebagai negara demokrasi,” imbuhnya. (red)