in ,

Mengenal 9 Pola Propaganda Ala Rusia

Ilustrasi Propaganda

kicknews.today – Setelah Rusia masuk kembali dalam konflik dunia, mulai dari di Ukraina hingga Suriah, diskusi mengenai kemampuan propaganda Rusia kembali menghangat. Bahkan, mesin propaganda dan cyber army mereka dituduh terlibat merecoki pemilihan presiden di AS yang menghasilkan Donald Trump sebagai pemenang.

Dampaknya, Obama membuat kebijakan untuk mengusir 35 diplomat Rusia dari AS. Keberanian dan efektifitas propaganda Rusia membuat banyak pihak terpana, termasuk Rand Corporation yang membuat tulisan tentangnya.

Sejak serangan mereka ke Georgia tahun 2008 silam, banyak evolusi yang terjadi dalam propaganda Rusia. Mereka secara efektif menggunakan berbagai pesan dan saluran penyebaran baru dalam kasus Krimea, Suriah dan lain-lain.

Ada yang khas dari pola propaganda Rusia akhir-akhir ini, yaitu bersifat high-volume dan multichannel. Pesan disebarkan tanpa menghiraukan kebenaran. Dalam bahasa salah seorang pengamat,“Propaganda Rusia yang baru menghibur, membingungkan, dan membanjiri audiens,”.

Bahkan dalam Pemilihan Presiden di Indonesia saat ini, calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi menyebut ada tim sukses yang melakukan propaganda ala politik Rusia. Pernyataan ini kemudian mengundang kontroversi dan dikhawatirkan akan mengganggu hubungan diplomatik Indonesia dan Rusia.

Roman Skaskiw, mantan tentara AS yang kini tinggal di Ukraina, pernah membahas mengenai sembilan jenis pola propaganda Rusia ini.

  1. Mengandalkan kelompok politik alternatif di negara Barat dalam persebaran berita.

Poin-poin yang dibicarakan oleh Kremlin sangat mirip dengan apa yang disebarkan oleh pergerakan politik alternatif di Barat, termasuk komunis, liberalis, nasionalis dan bahkan environmentalis, yang protesnya ter
kadang bersinggungan dengan protes anti-NATO.

Kegigihan mereka dalam menampilkan kebohongan dan kata-kata yang diulang-ulang pada media radikal sayap kiri sangat menakjubkan. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat di video interview mantan anggota KGB,Yuri Bezmenov, dan bagaimana strategi Active Measure Uni Soviet. Semua agen KGB yang telah membelot ke AS pada tahun 1970 dan 80’an mengatakan hal yang sama. Pengintaian tidak begitu penting bagi intelijen Rusia. Fokus mereka adalah mengontrol pesan dan hal tersebut seringkali terjadi dengan cara mempengaruhi media dan pergerakan politik di masyarakat yang lebih bebas.

Intrik Rusia dengan kelompok yang berbeda-beda bahkan digambarkan dalam novel Joseph Conrad tahun 1907,  The Secret Agent.

Daya tarik mereka dibuktikan dalam proses perekrutan neo-nazi Barat dan komunis Barat yang mengklaim bahwa mereka bertarung untuk Komunisme Dunia untuk mendukung perang di Ukraina Timur.

Ideolog radikal Kremlin,Alexander Dugin mengungkapkan strategi ini dengan sangat jelas: “Faktor paling penting bukanlah mengenai status pro dan tidaknya suatu kelompok terhadap Rusia. Apa yang mereka lawan adalah hal yang paling penting di sini. Musuh dari musuhku adalah temanku. Hal ini sangat simpel dan mudah untuk dipahami. Jika kita mengadopsi perilaku seperti ini untuk menarik semua sekutu yang mungkin (baik mereka menerima kita ataupun tidak) maka akan semakin banyak orang akan mengikuti dan memainkan hal yang sama—meski hanya karena pragmatism. Untuk melakukannya, kita akan membuat jaringan yang benar-benar berfungsi—sejenisGlobal Revolutionary Alliance (Persekutuan Revolusioner Global).

Dugin mencoba untuk menerangkan mengapa kelompok dengan keyakinan yang saling bertentangan harus bersatu unutk menentang AS, dan secara implisit, mendukung Rusia. Mengutuk AS merupakan dasar dari strategi retorisnya, sama halnya seperti mengutuk kapitalisme dan kaum borjuis merupakan dasar bagi komunisme (dan juga menempatkan Rusia di posisi tertinggi di antara negara-negara “Global Revolutionary Alliance”).

  1. Propaganda domestik adalah hal yang paling penting

Marquis de Custine, seorang penulis Prancis, menulis dalam bukunya di tahun 1838, “Rezim politik di sini tidak akan bertahan terhadap komunikasi bebas dengan Eropa Barat selama 20 tahun.”

Keberlangsungan otokrasi Rusia lebih rentan terancam oleh standar kehidupan di Finland, Estonia, Lithuania, dan Polandia, dibandingkan dengan militer luar negeri. Ketakutan dalam menghadapi kemiskinan dan penindasan juga menggema di seluruh sejarah kelam hubungan Rusia dengan Ukraina:

Dalam bukunya, The Cossacks, sejarawan Shane O’Rourke menulis: “The Cossacks mendemonstrasikan kepada massa bahwa ada aturan sosial alternatif yang dapat terus berjalan. Informasi ini jauh lebih mengancam bagi Poland-Lithuania atau Muscovy dan kekaisaran Rusia dibandingkan pedang cossack dan senapan mereka.”

Inilah mengapa Kremlin betul-betul menenggelamkan rakyat Rusia dengan ketakutan besar dan mentalitas terkepung. Masyarakat mereka tidak seberuntung negara tetangganya.

Goyangan Kremlin terhadap opini publik Rusia tidak boleh diremehkan. Setelah revolusi Maidan, Rusia menebarkan informasi kepada warganya bahwa banyak orang yang dibunuhi di jalanan Kyiv atau Lviv hanya karena mereka berbicara menggunakan bahasa Rusia, dan menyuruh mereka untuk kabur dari Ukraina. Padahal faktanya, hal tersebut tidak pernah terjadi. Bahasa Rusia merupakan bahasa harian. Kata-kata “terzombifikasi” akhirnya muncul sebagai istilah bagi orang Ukraina untuk mendeskripsikan orang-orang yang termakan propaganda Rusia.

Media Rusia secara rajin mengabarkan informasi dunia kepada publik mereka dalam konteks cara pandang resmi Rusia. Warga Rusia dicekoki informasi bahwa revolusi Ukraina tahun 2014 bukanlah pemberontakan populis melawan korupsi dan absolutisme. Bukan revolusi, tapi kudeta; bukan didorong dari keinginan untuk menegakkan aturan dan hukum, namun karena kebencian terhadap Rusia; Bukan oleh orang-orang Ukraina, tetapi CIA-Yahudi-Nazi. Sedemikian banyak barisan‘penjahat’ yang mereka sasar menunjukkan seberapa luas cakupan ideologi yang ingin mereka pikat. Dan luar biasanya, mereka berhasil, meski tidak 100%.

Diplomat Amerika yang membagikan roti, dan ejekan asisten menteri luar negeri AS, Victoria Nuland, terhadap Uni Eropa merupakan bumbu ‘kebenaran’ yang dijadikan bahan baku oleh Rusia untuk membangun narasi mengenai konspirasi Amerika dan/atau Nazi di atasnya. Dan itu cukup sebagai bekal propaganda Rusia.

  1. Hancurkan dan jatuhkan ide kebenaran / hal-hal benar

Banyak orang, termasuk negarawan Peru yang juga pemenang Nobel, Mario Vargo Llosa, telah mengamati dan menyimpulkan bahwa propaganda Rusia menghancurkan makna.

Mereka mengusung beberapa taktik termasuk  false moral equivalences (ekuivalensi moral palsu) tentang  Whataboutism, yang mencemarkan ruang informasi (lebih lanjut ada di bawah), dan mengadakan diskusi yang terlihat objektif yang mensejajarkan kebenaran dengan data distortif. Mereka membuat kebenaran sebagai hal yang terlihat kurang menarik dari sekian banyak alternatif narasi.

Jika yang lain mencoba membangun narasi dan meyakinkan orang tentangnya, propaganda Rusia seringkali terlihat berusaha keras untuk menciptakan kontradiksi dan ketidaksesuaian.

Contohnya, satu hari setelah menandatangani gencatan senjata di Suriah, militer Rusia membom setidaknya lima fasilitas medis di Suriah. Pada saat yang sama, kementerian luar negerinya mengeluarkan tweet mengenai pengiriman bantuan kemanusiaan.

Terkait dengan Budapest Memorandum, Menteri luar negeri Russia Sergey Lavrov berkata “… kita tidak melanggarnya. Hanya ada satu larangan di sana – i.e. tidak boleh menggunakan senjata nuklir melawan Ukraina.” Hal ini sangat-sangat tidak benar, dan tidak mungkin merupakan ketidaksengajaan.

Ketidaksesuaian adalah bagian dari strategi mereka. Mereka membutuhkan kekacauan dan kebingungan, dan mengusahakannya secara aktif.

Peter Pomerantsev, seorang jurnalis dari London yang memiliki akses ke media Rusia mendeskripsikan premanisme mereka dalam manipulasi realita dan rentannya rakyat rusia terhadap informasi palsu. Judul dari memoar pedas itu bisa dengan mudah menjadi seruan dalam setiap propaganda Rusia: “Tidak Ada Yang Benar Dan Semuanya Mungkin.”

George F Kennan, seorang diplomat Amerika di Moskow mengatakan pada tahun 1944, “Di sini, manusia menentukan apa yang benar dan apa yang salah.”

Terdapat ungkapan Rusia: умом росию не поймешь (”Intelligently, you cannot understand Russia”). Kalimat itu merupakan bagian dari pantun berusia 150 tahun yang digubah oleh penyair Rusia Fyodor Tyutchev. Penutup pantun itu adalah “Di Rusia, anda hanya dapat percaya.”

Bias terhadap pemahaman telah ditanamkan sangat dalam.

  1. “Putin kuat. Rusia kuat.”

Pesan ini menyebar dalam semua propaganda Rusia.

Kekuatan adalah persepsi tentang seberapa kuat kita, dan Kremlin sangat memahami hal ini. Mereka terus-menerus menyinggung atau langsung mengancam invasi dan perang nuklir terhadap negara tetangga mereka, dari Turki hingga Amerika Serikat.

Mantan PM Rusia, Vladimir Zhirinovsky, adalah orang yang sering mengeluarkan ancaman bombastis. Dia secara data merupakan bagian dari oposisi, namun dalam kenyataan, sepertinya ia merupakan perwakilan Kremlin untuk radikalisme dalam bentuk apapun: Membuat headlines di luar negeri; menaikkan semangat publik, menguji ide-ide, dan berakting sebagai oposisi untuk menciptakan ilusi demokrasi, dan memberikan referensi ekstrim untuk mencitrakan kebijakan Putin sebagai kebijakan yang moderat.

Ketika militer Amerika mengadakan latihan gabungan dengan Estonia, Zhirinovsky mengatakan bahwa tank AS akan berakhir di museum Rusia. Dia pernah sekali mengancam jurnalis wanita dengan memerintahkan bodyguardnya memerkosa wanita itu.

Dia mendapatkan 6.2% suara dalam pemilihan presiden 2012. Salah satu dari kampanyenya adalah iklan yang menunjukkan ia dalam gerobak berteriak “Seluruh negara macet…”, kemudian mencambuk keledai yang menarik gerobak itu dan berteriak, “Jalan! Jalan!”

Terkait Turki, Ia mengatakan: “Kamu bisa melemparkan satu bom nuklir ke selat yang bisa menyebabkan banjir besar. Air akan naik 10-15 meter dan seluruh kota akan tenggelam.”

Tidak mungkin bagi jurnalis Barat untuk mengacuhkan ancaman seperti itu. Putin cukup pintar menanggapinya, ia menyisipkan pesan kepada masyarakat asing, menaikkan suara-suara mereka yang tidak menginginkan konflik, dan pada saat yang sama tetap menjaga ketidakterkaitan dengan pembawa pesan. Mereka menampilkan diri sebagai sosok moderat, dibanding Zhirinovsky.

Ancaman serupa, yang jelas namun secara ilmiah meragukan, dibuat oleh Konstantin Sivkov dari Academy of Geopolitical Problems:

“Para ahli geologi percaya bahwa Yellowstone super-volcano dapat meledak kapanpun … hanya dengan mendorong senjata nuklir kecil … cukup untuk memulai letusan. Konsekuensinya akan sangat luar biasa bagi AS. Sebuah negara bisa langsung menghilang.”

Terdapat candaan tentang wanita tua Rusia membawa ember berisi air melewati lumpur. Suaminya meninggal kelaparan. Salah satu anaknya terbunuh dalam perang, dan yang lain dibuang ke Siberia. Tiba-tiba, sebuah Mig Fighter jet terbang di atasnya. Sonic boom menghempaskannya ke lumpur. Airnya tumpah. Namun dia melihat ke arah jet dan berpikir: “Wow, Aku sangat kuat dan besar!”

Kremlin perlu untuk mengalihkan perhatian rakyatnya dari sulitnya ekonomi dan korupsi yang merajalela.

Video propaganda  I’m Russian Occupier adalah contoh yang bagus tentang hal ini: “Aku menduduki Baltik dan banyak pabrik serta pembangkit listrik dibangun di atas persawahannya. Baltik dulunya memproduksi bagian-bagian radio dan mobil, parfum terkenal dan balsem dengan kualitas tinggi. Aku diminta untuk pergi. Sekarang mereka menjual ikan teri dan beberapa orang mereka membersihkan toilet di Eropa.”

Distorsi dan kebohongan yang diarahkan secara domestik terlihat sangat mentah, menunjukkan rendahnya standar kebenaran. Survey pada tahun 2009 mengindikasikan bahwa mayoritas orang Rusia tidak pernah menggunakan Internet. (Saat ini, penggunaannya diperkirakan sekitar 61%.)

Ketika dihadapkan dengan sanksi, Russia tidak bisa membiarkan dirinya dilihat sebagai korban. Mereka segera mengeluarkan sanksi balasan dan membanjiri baik berita maupun bagian komentar dengan cerita bagaimana petani apel Polandia dan produsen lain di Eropa menderita tanpa pasar Rusia. Padahal kenyataanya, apel Polandia hanya dialihkan melalui Belarusia, yang kemungkinan disetujui secara diam-diam oleh Kremlin untuk memperkaya penguasa yang mereka pilih.

Hal yang sama setidaknya terjadi dalam sanksi Rusia terhadap Turki. Sanksi diumumkan secara bombastis, namun sejatinya mereka masih melakukan kerjasama secara diam-diam.

Dan sebagaimana dalam kasus biasa, headlines lebih penting daripada kenyataan.

  1. Headline lebih penting daripada kenyataan, terutama ketika kesan pertama sedang terbentuk

Dalam demontrasi yang diadakan oleh pengemudi truk Rusia baru-baru ini, kementrian perhubungan Rusia mengadakan rapat dengan pengemudi truk palsu di depan media. Mereka juga sepertinya telah mengundang pemimpin oposisi Suriah untuk melakukan negosiasi dengan mereka.

Tidak penting bahwa konvoi bantuan kemanusiaan ke Ukraina Timur pada akhirnya terkuak ke seluruh dunia sebagai suplai amunisi. Karena liputan perang selama dua minggu awal telah fokus pada “bantuan kemanusiaan Rusia.”

Kesan pertama akan sangat melekat. Kesan pertama tetap melekat bahkan setelah muncul bukti yang meyakinkan mengenai kejadian tersebut menunjukkan sebaliknya. Oleh sebab itu, propaganda Rusia kelihatannya betul-betul berjuang keras untuk menciptakan kesan pertama, setelah itu mereka akan mundur perlahan.

Ketika politisi oposisi Boris Nemstov dibunuh, mereka dengan cepat mengarang beberapa teori yang rumit yang dimainkan oleh media berita Rusia.

Propaganda mereka mengenai neo-Nazi mendominasi liputan revolusi Ukraina, bahkan setelah banyak pernyataan dan surat terbuka dari pemimpin yahudi Ukraina. Untuk mendukung narasi Nazi, televisi resmi Rusia bahkan melaporkan hasil palsu dari pemilihan presiden Ukraina di tahun 2014, dengan mengatakan bahwa presiden saat ini Poroshenko kalah dari pemimpin sayap kanan Dmytro Yarosh. (kenyataannya, Yarosh hanya mendapat sekitar 1.5% suara.) Dan pastinya, semua orang yang memperhatikan akan menemukan, dalam hitungan hari atau jam, bahwa hasil tersebut tidak masuk akal. Namun terbukti keliru sepertinya bukan masalah bagi mereka.

Mungkin mereka menganggap audiens mereka adalah orang-orang yang tidak dapat memberikan perhatian penuh pada isu. Orang-orang ini akan melihat kekacauan awal dari informasi yang kontradiktif dan menyimpulkan bahwa situasinya sangat kompleks dan sulit untuk dipahami, dan kebenaran mungkin terdapat di tengah-tengah hal tersebut.

Propaganda-propaganda itu betul-betul sukses. Siapapun audiensnya, kebohongan Rusia tersampaikan dari media semi resmi dan sukses memperkeruh keadaan, dan menghalangi terbentuknya kejelasan untuk mengenali kenyataan dari apa yang terjadi.

  1. Menurunkan Moral

Selama perang di tahun 2009 dengan Georgia, dan invasi tahun 2014-sekarang di Ukraina, propaganda Rusia sangat efektif menunjukkan foto-foto dari tentara Georgia dan Ukraina yang tewas, sekarat dan disiksa. Foto-foto tersebut ditamplikan di berita dan di seluruh internet.

Satu persamaan yang sebagian besar orang tidak sadari pada aneksasi Krimea& invasi Ukraina Timur adalah bahwa keduanya dimulai dengan penculikan aktivis lokal, diikuti oleh penyiksaan, pembunuhan, dan kemudian penemuan tubuh aktivis Tartar, Reshat Ametov, dan politisi lokal pro-Ukraina, Volodymyr Rybak. Taktik ini tampaknya diinformasikan oleh Lenin melalui perintah penggantungannya yang terkenal, yang ditulis tangan pada tahun 1918: “Lakukanlah sedemikian rupa hingga orang-orang yang mungkin melihat dalam jarak ratusan kilometer gemetar.”

Strategi ini meluas ke masyarakat Barat dan dibahas secara eksplisit dalam wawancara dengan mantan agen KGB dalam Active Measures.

  1. Alihkan Perbincangan

Tidak peduli seberapa konyol propaganda mereka, tidak peduli berapa kali propaganda itu terbukti palsu, propaganda tersebut berhasil menggeser perbincangan. Wartawan Barat terlalu bertekad membahas jikalau Rusia menyerang Ukraina, hingga mereka hanya memiliki sedikit ruang tersisa untuk membahas bagaimana Rusia menyerang.

Propaganda mendominasi percakapan dengan mengorbankan invasi yang sebenarnya.

Hanya sedikit wartawan yang memperhatikan bahwa wakil-wakil Rusia di Ukraina secara publik mendorong pasukan mereka untuk terlibat dalam kekejaman. Terdapat sebuah instruksi manual online yang memuat statment: “Jangan melewatkan setiap kesempatan untuk terlibat dalam beberapa kekejaman yang bisa ditimpakan kepada pasukan Junta (sebagai pelakunya),” Sebuah strategi yang diikuti oleh pasukan mereka.

Bias yang mungkin terjadi pada akhirnya adalah bahwa masing-masing pihak memiliki perspektif sendiri dan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah kedua perspektif.

  1. Mencemari Ruang Informasi

Salah satu contoh yang paling aneh dari disinformasi Rusia adalah Hoax ledakan pabrik bahan kimia di Columbia di mana kelihatannya baik Kremlin ataupun sekutu terdekatnya mengaransemen sebuah paduan suara dari laporan-laporan mengenai serangan teroris yang tidak diungkap ke publik di AS, yang sebenarnya tidak pernah terjadi:

“Hal ini adalah sebuah kampanye disinformasi yang terkoordinasi, melibatkan puluhan akun palsu yang menerbitkan ratusan tweet dalam satu jam, menarget daftar tokoh yang telah dipilih dengan cermat untuk menimbulkan perhatian maksimal. Pelaku tidak hanya mengambil screenshoot dari CNN; mereka juga membuat situs klonengan yang 100% berfungsi dari website stasiun TV dan koran Louisiana.

Video YouTube mengenai orang yang menonton TV telah dirangkai untuk proyek ini. Bahkan, sebuah halaman Wikipedia dibuat untuk musibah kimia Columbia, yang mengutip video YouTube palsu tersebut. Saat penyerangan virtual berlangsung, mereka juga melengkapi adegan itu dengan SMS terhadap penduduk yang sebenarnya berada di St. Mary Parish. Hal ini pastinya membutuhkan tim programmer dan produsen konten agar berhasil mencapai tujuan. Dan tipuan itu hanyalah satu di antara banyak serangan serupa dalam semester terakhir tahun lalu.”

Politisi oposisi Rusia, Alexei Navalny, mengatakan tentang strategi mencemari ruang informasi di Rusia: “… Troll bayaran membuat sulit pengguna internet untuk bisa memisahkan kebenaran dari fiksi. Intinya adalah untuk merusaknya, untuk menciptakan suasana kebencian, untuk membuatnya bau sehingga orang normal tidak akan ingin menyentuhnya. Anda harus ingat populasi internet Rusia hanya sedikit di atas 50 persen. Sisanya belum bergabung, dan ketika mereka bergabung, apa yang menjadi kesan pertama mereka sangatlah penting.”

Di dalam negeri, mereka ingin merusak media yang tidak mereka kontrol. Secara internasional, mereka ingin menerbangkan kebingungan dan ketakutan.

  1. Menuduh musuh melakukan apa yang kita lakukan untuk membingungkan percakapan.

Setelah jenderal-jenderal Amerika mulai menggunakan istilah “perang hybrid” untuk menggambarkan permusuhan Rusia yang direncanakan & disengaja dari protes orang-orang sipil hingga formasi militer, seorang jenderal Rusiamenuduh Amerika Serikat melakukan perang hybrid melawan Rusia.

Sementara itu, wakil-wakil Rusia membakar buku-buku & bendera-bendera Ukraina, menghancurkan monumen kelaparan Ukraina, Holodomor, pusat kebudayaan Crimea Tartar, dan segala sesuatu yang bukan khas Rusia, mereka menuduh permusuhan Ukraina terhadap budaya Rusia, meskipun tidak ada hal semacam yang dituduhkan itu terjadi. Laporan-laporan warga Rusia yang berjuang di Maidan bersama Ukraina diabaikan.

Pada akhirnya, Ukraina lahyang harus memberikan jaminan kepada dunia internasional bahwa hak-hak minoritas akan dihormati,bukan Rusia dan para pemimpin mereka.

 

sumber: NYtimes; RAND; home.iosphere.org