in ,

Belajar Toleransi dari Kota Tua Ampenan

Nyongkolan dengan kesenian Barongsai di depan Kelenteng Pao Hwa Kong, Kota Tua Ampenan

kicknews.today – Kota Tua Ampenan berada di pusat Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat di Kota Mataram. Dahulu Kota Ampenan ialah pusat peradaban di Pulau Lombok karena kota ini merupakan gerbang masuk pelabuhan sebelum pelabuhan utama ini dipindahkan ke Lembar di Lombok Barat.

Di Jalan Pabean yang namanya kemudian diubah menjadi Jalan Yos Sudarso dari arah pelabuhan tua Ampenan, masih terlihat sisa-sisa bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang kokoh tegak berdiri meskipun kurang terawat.

Berbeda dengan satu bangunan berwarna merah yakni Kelenteng Pao Hwa Kong – Ampenan – Lombok. Bangunan ini sangat terawat karena hingga saat ini kelenteng tersebut aktif digunakan masyarakat untuk bersembahyang.

Kelenteng ini sudah lama didirikan. Menurut catatan yang terdapat di papan Papan Nama tertulis kata dalam bahasa Tionghoa: Kwang Xie Wu Sen Nian, Tuan Yek Cik Tan, yang artinya Tahun Wu Sen dari Kekaisaran Kwang Xie, yaitu tahun 1908, Tuan Yek Cik Tan kira-kira berarti tanggal baik dari bulan ke lima.

Sebagaimana kota pelabuhan lainnya, Kota Tua Ampenan tidak hanya ditinggali oleh satu etnis saja, masyarakat Melayu, Arab dan orang-orang dari suku Sasak yang merupakan suku asli di Pulau Lombok hingga masyarakat dari suku Bali, Banjar dan Bugis memadati berbagai sudut di Kota Tua Ampenan.

Namun yang paling menonjol ialah tiga etnis utama yakni Arab, Melayu dan China yang begitu bersatu dan bertoleransi di kawasan utama Kota Tua Ampenan ini sejak ratusan tahun yang lalu.

Orang Arab, Melayu dan China membangun tempat tinggalnya masing-masing di sini. Hingga kini, rumah-rumah mereka masih utuh. Bahkan pemberian nama kampung diberi nama sesuai identitas keturunannya.

Kota bersejarah ini sudah ada sejak tahun 1800-an. Di sinilah kegiatan perekonomian dimulai. Semua etnis dan agama bahu membahu dan berinteraksi dengan damai di Kota Ini hingga saat ini. Tak pernah ada catatan konflik antar etnis yang berarti di kota tua ini.

Perayaan Imlek di tahun ini yang jatuh pada Selasa (5/2) ataupun perayaan khas etnis lainnya di kota ini dapat dinikmati oleh semua kalangan dari etnis manapun.

Ketika perayaan Imlek digelar di Kelenteng Pao Hwa Kong, tampak etnis lainnya yang tempat tinggalnya dekat kelenteng itu juga ikut membantu menyipakan segala sesuatu. Malah perayaan ini dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk berjualan makanan ringan ataupun kebutuhan sembahyang.

Begitu pula saat perayaan-perayaan etnis maupun agama lainnya. Saling mengunjungi antar tetangga meskipun berbeda agama kerap dilakukan untuk merawat toleransi dan kebersamaan.

Eva, seorang warga di Kampung Melayu yang berdarah Arab menyatakan setiap perayaan natal selalu mengunjungi tetangganya yang beragama Nasrani. Begitu pula sebaliknya ketika hari raya Idul Fitri misalnya, tetangganya itu selalu datang ke rumahnya berkunjung untuk bersilaturrahmi.

“Hal ini sudah dilakukan orang tua kami sejak dulu. Di Ampenan meskipun banyak etnis dan agama tetapi toleransi selalu terjaga,” katanya ketika ditemui di Ampenan, Selasa (5/2).

Demikian pula dikatakan Chen An, seorang warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Kampung Melayu yang sejak dahulu nenek moyangnya tinggal di Ampenan.

“Kita di sini saling menjaga. Ketika acara di kampung semua terlibat. Tidak terasa ada perbedaan,” terangnya.

Hal inilah yang membuat Ampenan istimewa untuk dijadikan tempat belajar toleransi dan kebersamaan. Tidak seperti daerah lain yang mungkin terdapat hanya satu atau dua etnis maupun agama saja, tetapi di Ampenan orang-orang terbiasa hidup berdampingan dengan begitu banyak etnis dan agama.(red.)