in

Di Pesantren Al Anwar, Presiden Jokowi Ajak Rawat Persatuan Bangsa

kicknews.today – Menghadiri acara “Sarang Berzikir untuk Indonesia Maju” di Pondok Pesantren Al Anwar, Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah pimpinan KH. Maimun Zubair, Jumat (1/2), Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak semua pihak untuk terus menjaga dan merawat persatuan, persaudaraan, dan kesatuan bangsa Indonesia.

Presiden Jokowi kembali mengingatkan bahwa sebuah negara besar seperti Indonesia, yang dianugerahi oleh Allah keragaman, baik suku, agama, adat, tradisi, budaya, hingga bahasa daerah, akan menghadapi tantangan yang besar pula.

“Saya hanya ingin mengingatkan kepada kita semuanya marilah terus kita jaga persatuan kita, terus kita jaga, kita pelihara persaudaraan kita, ukhuwah kita terus kita rawat, kita jaga kerukunan kita, ajak Presiden Jokowi seperti rilis Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden yang diterima kicknews.today.

“Persaudaraan, ukhuwah Islamiah, ukhuwah wathaniah di dalam bangsa yang besar seperti Indonesia ini sangat penting sekali,” sambungnya.

Kepala Negara menuturkan, dirinya tidak ingin apabila persatuan dan persaudaraan bangsa ini tercoreng karena hal-hal kecil, misalnya hanya karena perbedaan pilihan politik baik dalam kancah pemilihan kepala daerah (pilkada), pemilihan legislatif (pileg), maupun pemilihan presiden dan wakil presiden.

Presiden Jokowi mengimbau agar dalam pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 17 April mendatang, masyarakat bersikap bijak dalam memilih.

Bijak dengan melihat prestasi, pengalaman, program, ide, dan gagasan calon pemimpin ataupun calon legislator yang akan dipilihnya.

Menurut Jokowi, pesta demokrasi tidak seharusnya diisi dengan fitnah, saling ejek, saling mencela, dan saling menghina satu sama lain.

“Itu bukan nilai-nilai agama yang kita anut, itu bukan nilai-nilai Islami, itu bukan nilai-nilai ke-Indonesia-an kita. Kita memiliki etika, kita memiliki tata krama, kita memiliki sopan santun, kita memiliki budi pekerti,” kata Jokowi.

“Jadi, sekali lagi saya titip dalam kesempatan yang baik ini, marilah kita hindari terutama di media sosial yang begitu sangat ramai sekali, terutama kalau masuk ke bulan-bulan politik seperti sekarang ini,” imbuhnya.

Pada kesempatan ini, Presiden juga meluruskan beberapa fitnah yang sempat menerpa dirinya. Satu diantaranya fitnah yang menyebut dirinya sebagai orang yang antiulama. Padahal Presiden mengatakan setiap minggu dirinya bersinergi ke pondok pesantren bersama para ulama.

“Terus yang tanda tangan Perpres  (Peraturan Presiden, red) Hari Santri tanggal 22 Oktober itu siapa? Masak antiulama tanda tangan (Perpres) Hari Santri? Logikanya tuh memang harus kita pakai,” jelas Jokowi.

“Kalau Cak Lontong bilang, ‘mikir.. mikir.. mikir’,” selorohnya.

Presiden juga mengaku heran dengan pihak yang menyebut dirinya mengkriminalisasi ulama. Ia mempertanyakan ulama mana yang ia kriminalisasi. Karena menurutnya, kriminalisasi itu jika seseorang tidak mempunyai kasus hukum tapi dijebloskan ke penjara.

“Kalau ada kasus hukumnya, ada masalah hukum, ada yang melaporkan, aparat kemudian melakukan penyidikan-penyidikan, kemudian dibawa ke lembaga yudikatif yang namanya pengadilan, yang memutuskan di pengadilan. Kalau memang dianggap tidak salah ya mesti bebas,” tandasnya. (red)