in

Pariwisata NTB Siapa yang Punya..?

Oleh: Lalu Moh. Nazar Fajri, SE., MPA

Kini siapa yang tak kenal dengan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), yang mana dalam beberapa tahun terakhir ini sering menjadi perbincangan para tarveler atau pelancong dunia akan keindahan alam dan budaya nya yang tidak kalah dengan beberapa destinasi wisata yang ada pada tetangga sebelah, Bali. Saat ini sektor pariwisata  mejadi salah satu ‘brand’ unggulan dari Provinsi NTB.

Provinsi NTB memiliki destinasi wisata yang ‘komplit’ dibandingkan dengan yang lain. Hal tersebut sangat mudah dibuktikan jika anda berkunjung ke Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Apa yang anda cari semua tersedia. Mulai dari keindahan wisata pesisir pantai, bawah laut, pegunungan, perbukitan, air terjun, geopark, religi, budaya, hingga kuliner. Tak heran jika beberapa kali Provinsi NTB mendapatkan penghargaan dan angka kunjungan wisatawan NTB meningkat setiap tahunnya.

Pada Tahun 2017 berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Provinsi NTB jumlah kunjungan wisatawan NTB sebanyak 3.508.903 wisatawan. Namun pada tahun 2018 yang lalu jumlah kunjungan wisatawan menurun 20% dari tahun sebelumnya yakni sebanyak 2.800.000 wisatawan. Hal ini dikarenakan bencana alam gempa bumi yang menghampiri Provinsi Nusa Tenggara Barat sejak akhir bulan Juli sampai dengan Desember, sehingga banyak wisatawan yang mengurungkan niatnya untuk berkunjung.

Saat ini pariwisata NTB dalam proses recovery (pemulihan) dimana dalam proses tersebut Kementerian Pariwisata membentuk tim Tourism Crisis Center (TCC) untuk melakukan promosi ke luar negeri dan dalam negeri.

Kondisi tersebut tentunya tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena banyaknya masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata. Jika kondisi ini dibiarkan, maka Provinsi NTB akan mengahadapi permasalahan abadi yang tak kan pernah tuntas yakni pengangguran dan kemiskinan. Oleh karena itu perlu menggadeng seluruh lapisan masyarakat dan stakeholder untuk bersama-sama membangun pariwisata NTB.

Dalam konsep Governance (Tata Kelola) kita mengenal 3 (tiga) unsur dalam Governance yakni, Pemerintah, Swasta dan Masyarakat (komunitas). Dimana Ketiga unsur terebut diharapkan mampu bekerjasama dalam membantu mempercepat proses recovery pariwisata di NTB. Jika proses recovery itu hanya mengandalkan pemerintah saja, tentunya kita akan semakin tertinggal dengan provinsi lain yang terus berbenah dalam mengembang sektor pariwisata di daerah mereka dan kita akan kehilangan pasar dalam sektor pariwisata kedepan.

Pariwisata merupakan suatu sektor yang sangat kompleks dimana pariwisata banyak melibatkan industri-industri kreatif seperti kerajinan tangan dan cinderamata begitu juga dengan usaha penginapan dan transportasi. Jadi tidak salah jika kita melihat bahwa sektor pariwisata bisa membuka peluang bagi pemilik modal untuk berinvestasi karena banyaknya komponen atau bidang usaha yang dapat dikembangkan pada sector pariwisata ini.

Bahkan pariwisata saat ini merupakan salah satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam menyediakan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktivitas lainnya.

Jika hal terebut merupakan dampak atau eksternalitas dari keberadaan pariwisata di daerah, sudah barang tentu seluruh lapisan stakeholder dalam pariwisata memiliki kewajiban dan tanggungjawab yang sama dalam berjuang memulihkan dan meningkatkan pariwisata Nusa Tenggara Barat pasca Gempa. Diperlukannya inovasi dan kreatifitas yang tinggi bagi seluruh penggiat pariwisata di NTB dalam rangka tanggap trerhadap perubahan seperti saat ini dimana kita telah masuk pada Revolusi Industri 4.0 yang mana memaksa seluruh stakeholder untuk terus berpacu dalam kesesuaian kebutuhan industri pariwisata.

Oleh karena itu keterlibatan dari pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas dan media sangat penting dirasakan dalam menyusun strategi-strategi jitu untuk pengembangan kedepannya.

Strategi-strategi tersebut ditujukan tidak lain dan tidak bukan adalah untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kunjungan wisatawan di NTB, dimana diharapkan terwujudnya destinasi yang nyaman, aman, menarik, mudah dicapai, berwawasan lingkungan, meningkatkan pendapatan nasional, derah dan masyarakat. Selain itu pengembangan pariwisata harus berorientasi pada customer sehingga sebagai pengguna layanan wisatawan merasa satisfied (puas), loyal (setia) dan advocacy (advokasi) selama berada di NTB.

Oleh karena itu seluruh pihak harus memiliki visi yang sama dalam membangun pariwisata di NTB bukan hanya menyerahkannya kepada satu pihak saja yakni pemerintah namun ke semua pihak terkait karena pariwisata NTB adalah milik bersama.

Semoga kondisi pariwisata di NTB segera pulih dan berkembang pesat memberikan manfaat yang besar bagi seluruh pihak.

Penulis ialah Dosen FIA UNW Mataram dan Pendiri Lembaga Pengembangan Wilayah NTB