in

Pasca Gempa, Pariwisata Senaru Masih Mati Suri

Wisatawan yang berada di kawasan Senaru beberapa waktu lalu

kicknews.today – Pasca bencana gempabumi di Kabupaten Lombok Utara (KLU) beberapa waktu yang lalu, kondisi pariwisata di Senaru Kecamatan Bayan belum membaik. Saking sepinya, pengusaha setempat menyebut situasi di sana bak mati suri. Demikian disampaikan anggota Forum Citra Wisata Rudy Trekker, Selasa (8/1).

“Senaru mati suri dan kebetulan disambut musim penutupan Rinjani juga jadi tambah sepi,” ungkapnya.

Menurutnya, nyaris semua pengusaha di Senaru mengalami kondisi serupa. Sepinya para wisatawan yang hendak berkunjung ke Gunung Rinjani, ditambah masih ditutupnya jalur pendakian tersebut menambah pelik persoalan. Rudy sendiri mengaku sejak gempa hingga Bulan Desember 2018 lalu pihaknya merugi cukup besar.

“Ini udah lama kita tahan, pasca gempa kita berapa kali mau minta untuk dibuka jalur tapi ngak di respon, alasannya jalur rusak malah. Tapi malah Aik Brik yang di recommended jadi secara tamu yang mau ke sini otomatis sepi karena ngak ada tujuan. Padahal kemarin Bulan Desember lumayan permintaan mau naik,” terangnya.

Pihak forum sejatinya tak tinggal diam, mereka bersurat ke Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), hingga ke Bupati Lombok Utara. Namun apa daya tak sampai, surat tersebut hingga saat ini justru tak terbalas. Balasan surat itu belum datang sampai di resmikan penutupan pertanggal 1 januari 2019 untuk aktivitas ke jalur pendakian. Tentu hal ini menjadi dilemma bagi para pengusaha semisal Rudy, sebab di satu sisi selain menjual jasa kepada wisatawan yang belum keruan adanya, ia juga harus menggaji para karyawan.

“Iya ngak ada balasan. Kesannya kami di paksakan untuk membawa tamu via jalur Aik Brik tapi jalur itu malah lebih sulit di bandingkan via Senaru ke Pelawangan. Itu justru lebih berbahaya dan porter yang pernah ke sana agak sulit membawa pikulan kranjangnya di sebabkan oleh jalur sempit dan curam,” jelasnya.

Dirinya berharap pemerintah dan TNGR untuk memikirkan kondisi mati suri yang sudah lama terjadi. Padahal belum lama sempat muncul wacana supaya Disbudpar Lombok Utara membuat sebuah event di sana guna menghidupkan destinasi wisata kedua di Lombok Utara tersebut. Tetapi, hingga saat ini belum ada yang terealisasi dari banyaknya wacana-wacana dinas.

“Iya saya pernah dengar, tapi mana. Kami meminta kepastian untuk pendakian April 2019 dilegalkan supaya kami bisa menjawab request dari tamu yang mau reservasi untuk pendakian pada musim pendakian tahun ini,” harapnya.

Secara terpisah, Kepala Disbudpar Lombok Utara H. Muhammad yang dikonfirmasi justru melemparkan mengenai pembukaan jalur pendakian ke pihak TNGR. Ia justru menawarkan untuk dibukannya spot-spot baru di kawasan Pelawangan kepada wisatawan yang ingin ke Gunung Rinjani. Hal ini menurutnya sebagai solusi sementara lantaran ditutupnya jalur pendakian yang dinilai mengalami kerusakan.

“Kita sudah komunikasi dengan TNGR untuk dibukakan khusus spotnya saja. Ini sementara waktu, karena di sana ada sekitar dua ribuan warga yang tidak bekerja lagi gara-gara ditutupnya jalur ini,” ucapnya.(iko)