in

Ini Penelitian pada 2012, Teluk Sunda Diperingati Tentang Tsunami Dahsyat

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda

kicknews.today – Beberapa ilmuwan yang tergabung dalam Geological Society, London pada tahun 2012 ternyata sudah mempublikasikan mengenai bahaya tsunami di Teluk Sunda. Dalam sebuah penelitian ilmiah yang dipublikasi oleh ResearchGate dengan judul “Tsunami hazard related to a flank collapse of Anak Krakatau Volcano, Sunda Strait, Indonesia”.

Pada penelitian ini melibatkan empat orang peneliti dari berbagai negara termasuk Indonesia yang diwakili Budianto Ontowirjo yang berafiliasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Termasuk juga Thomas Giachetti dari Department of Geological SciencesEugene, United States.

Dalam abstraksi penelitian mereka menyebutkan, Pemodelan numerik dari destabilisasi parsial yang cepat dari Gunung Anak Krakatau Indonesia dilakukan untuk menyelidiki tsunami yang dipicu oleh peristiwa runtuhnya sayap Gunung Anak Krakatau.

Anak Krakatau, yang sebagian besar dibangun di dinding NE curam dari kaldera letusan sejak 1883 Krakatau, aktif di sisi SW-nya (menuju kaldera 1883), yang membuat bangunan cukup tidak stabil. Hipotetis keruntuhan sayap 0,280 km3 yang diarahkan ke barat daya akan memicu gelombang awal setinggi 43 m yang akan mencapai pulau Sertung, Panjang dan Rakata dalam waktu kurang dari 1 menit, dengan amplitudo dari 15 hingga 30 m. Ombak ini akan berpotensi berbahaya bagi banyak kapal wisata kecil yang bersirkulasi di, dan di sekitar, Kepulauan Krakatau. Gelombang kemudian akan merambat secara radial dari daerah tumbukan dan melintasi Selat Sunda, dengan kecepatan rata-rata 80-110 km h21.

Tsunami akan mencapai kota-kota yang terletak di pantai barat Jawa (misalnya Merak, Anyer dan Carita.) 35 – 45 menit setelah permulaan keruntuhan, dengan amplitudo maksimum dari 1,5 (Merak dan Panimbang) menjadi 3,4 m (Labuhan).

Karena banyak infrastruktur industri dan wisata terletak dekat dengan laut dan pada ketinggian kurang dari 10 m, gelombang ini menghadirkan risiko yang tidak dapat diabaikan. Karena banyak refleksi di dalam Kepulauan Krakatau, gelombang bahkan akan mempengaruhi Bandar Lampung (Sumatra, sekitar 900.000 jiwa) setelah lebih dari 1 jam, dengan amplitudo maksimum 0,3 m.

Gelombang yang dihasilkan akan jauh lebih kecil daripada yang terjadi selama letusan Krakatau 1883 (sekitar 15 m) dan deteksi cepat keruntuhan oleh observatorium gunung berapi, bersama dengan sistem peringatan yang efisien di pantai, mungkin akan dapat mencegah peristiwa hipotetis ini dari efek mematikan yang parah.

Model elevasi digital yang digunakan dan skenario yang diperagakan pada penelitian ini mengacu pada potensi Runtuhnya sayap Gunung Anak Krakatau yang disimulasikan pada model elevasi digital (DEM) yang diperoleh dengan menggabungkan topografi ASTER (Thermal Emission Thermal Emission and ReflectionRadiometer) (resolusi 30 m), peta batimetri (satu dari Dishidros IndonesianNavy dan bagan navigasi Selat Sunda) dan GEBCO (Bagan Batimetrik Umum Lautan) batimetri (resolusi 900 m) dari wilayah Selat Sunda. Selain itu, peta batimetri Kepulauan Krakatau didigitalkan dan ditambahkan ke DEM untuk mendapatkan resolusi yang lebih baik dari zona di mana keruntuhan terjadi dan di mana gelombang awalnya diproduksi.

Gambar Sumulasi Runtuhnya sayap Gunung Anak Krakatau

 

Hasil pemodelan ini, ketika reruntuhan sayap Gunung Anak Krakatau berinteraksi dengan air, puing-puing tersebut akan memicu gelombang dengan ketinggian awal sekitar 45 m, diukur sekitar 45 detik setelah keruntuhan mulai pada 2,5 km selatan-barat dari bekas luka longsor. Gelombang yang dihasilkan kemudian merambat secara radial dari daerah tumbukan, mencapai pulau-pulau di Sulawesi, Panjang dan Rakata dalam waktu kurang dari 1 menit, dengan amplitudo dari 15 hingga 30 m.

Karena perambatan tanah longsor ke arah barat daya, gelombang tertinggi dihasilkan ke arah ini. Profil gelombang diperoleh sekitar 15 km SW dari bekas luka longsor menunjukkan gelombang pertama dengan amplitudo 11,3 m dan periode sekitar 162 ms. Ini diikuti oleh gelombang 5,3 m lainnya, dengan periode yang lebih kecil sekitar 60 s. Ini kemudian diikuti oleh gelombang pendek lalu kemudian permukaan laut akan mendapatkan kembali posisi awal setelah beberapa puluh menit.

Kota-kota yang terletak di pantai barat Jawa semuanya akan tersentuh oleh gelombang pertama antara 36 dan 47 menit setelah dimulainya Anak Krakatau runtuh. Gelombang pertama mencapai Kalianda dan Batam, masing-masing terletak di Sumatra, 45 dan 68 menit setelah keruntuhan Gunung Anak Krakatau.

Tabel Prediksi Tsunami di Teluk Sunda

 

Simulasi bahaya tsunami ini menunjukkan bahwa gelombang pertama yang dihasilkan memiliki amplitudo maksimum sekitar 45 m. Selain itu, gelombang yang dihasilkan mencapai pulau-pulau di sekitar Sertung, Rakata dan Panjang dalam waktu kurang dari 1 menit, dengan ketinggian hingga 30 m.

Gelombang ini bisa menjadi bahaya serius bagi banyak kapal wisata yang mengunjungi pulau-pulau ini setiap hari. Lebih jauh dari Kepulauan Kra-katau, amplitudo gelombang menurun di Selat Sunda dan gelombang umumnya lebih kecil dari 10 m pada jarak lebih dari 20 km dari bekas luka longsor. Namun, gelombang ini masih bisa berbahaya bagi kapal-kapal kecil yang melintasi selat antara Kepulauan Krakatau dan pesisir Jawa atau Sumatra.

Pada kesimpulan penelitian ini dijelaskan, simulasi numerik ini menunjukkan bahwa ketidak stabilan parsial (0,28 km3) Gunung Anak Krakatau mungkin potensi bahaya pada skala lokal (kegiatan wisata dan memancing di sekitar gunung berapi) atau bahkan dalam skala regional (pantai di Sinra dan Jawa).

Peristiwa ini akan memicu gelombang awal 43 m yang akan mencapai semua pulau di Kepulauan Krakatau dalam waktu kurang dari 1 menit, dengan amplitudo berkisar antara 15 hingga 30 m, dan akan sangat berbahaya bagi kapal di Kepulauan Krakatau. Gelombang kemudian akan mempropagandakan secara radial melintasi Selat Sunda pada kecepatan rata-rata 80-110 km h21, gelombang pertama yang mencapai kota-kota di pantai barat Jawa setelah 35-45 menit, dengan amplitudo maksimum antara 2,9 (Carita) dan 3,4 m (Labuhan). Namun gelombang laut akan jauh lebih kecil daripada yang dihasilkan selama letusan Krakatau tahun 1883 (rata-rata ketinggian gelombang sekitar 15 m di sekitar Selat Sunda).

Maksimum ketinggian gelombang tsunami di teluk sunda

 

Berkaitan dengan populasi yang tinggi, konsentrasi jalan dan infrastruktur industri di sepanjang bagian pantai yang terekspos di Jawa dan Sumatra, dan rendahnya ketinggian sebagian besar tanah ini, tsunami mungkin menghadirkan risiko yang signifikan. Namun, karena waktu tempuh tsunami adalah beberapa puluh menit antara Kepulauan Krakatau dan kota-kota utama di sepanjang pantai ini, deteksi cepat runtuhnya oleh observatorium gunung berapi, ditambah dengan sistem peringatan yang efisien di pantai, dapat mencegah peristiwa dari hipotetis yang menyatakan bahaya ini.

Sebuah proyek kesiapsiagaan tsunami dimulai pada tahun 2006 oleh UNESCO dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Namun, perlu dicatat bahwa deformasi tanah dari gunung berapi tidak selalu dipantau, dan data yang tersedia tidak cukup untuk memungkinkan penilaian yang akurat atas ketidakstabilan lereng. (red.)