in

Ini Alasan Pemda Dorong Nelayan Lombok Utara Pakai BBG

Nelayan di Lombok Utara pulang melaut beberapa waktu lalu

kicknews.today – Mulai tahun depan nelayan yang ada di Kabupaten Lombok Utara (KLU), didorong tidak lagi gunakan solar sebagai bahan bakar saat melaut. Pasalnya, solar dinilai lebih boros ketimbang Bahan Bakar Gas (BBG). Demikian diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan, Kelautan dan Perikanan (Dishublutkan) Lombok Utara Agus Tisno, Jumat (14/12).

“Saya tanya nelayan, kalau sekali melaut pakai solar mereka bisa habiskan 7 liter. Tapi jika menggunakan gas itu lebih irit,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan menggunakan BBG atau gas elpiji ukuran 3 kilogram nelayan dapat meluat hingga empat hari. Hal ini jelas menjadi keuntungan dalam sisi operasional para nelayan.

Nah, mengkonversi solar ke BBG untuk para nelayan ini bahkan dijadikan salah satu program yang akan diaplikasikan Dishublutkan Lombok Utara tahun depan.

“Iya itu juga program kita di APBD 2019. Sudah ada anggarannya, tapi hanya untuk 100 nelayan dulu. Kita maunya semua, tapi kan harus bertahap,” katanya.

Dijelaskannya, jumlah nelayan di Gumi Tioq Tata Tunaq (Lombok Utara) diperkirakan lebih dari 3.000 orang. Dimana tercatat sejumlah 1.800 nelayan yang telah membentuk kelompok dan mengantongi kartu tanda nelayan.

Pihaknya mengaku tengah berupaya keras agar semua nelayan, baik yang berkelompok maupun masih individual dapat menikmati dana konversi ke BBG itu. Salah satu langkah yang akan ditempuh pihaknya yakni berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat.

“Ini nanti semua harus, makanya sudah kita usulkan BBG untuk 900 nelayan. Kalau ini tuntas, Sekjen Kementerian ESDM janji mau bantu kita,” jelasnya.

Selain itu, mantan Kepala Dinas Perizinan Lombok Utara ini menyampaikan bahwa program lain untuk para nelayan, telah disiapkan dalam APBD.

“Bantuan seperti jaring atau alat perlengkapan nelayan itu tetap tiap tahun kita berikan. Nah, mesin pendingin ini juga akan dikasih, tapi oleh Jasindo,” ucapnya.

“Kami pada saat gempa kemarin mendengar keluhan dari nelayan. Waktu itu mereka banyak dapat ikan di pantai. Tapi karena tidak ada tempat menyimpan, jadi ikan itu banyak yang rusak,” imbuhnya. (iko)