in

Kajian Tafsir TGB Ulas Nyinyiran dan Fitnah saat Arah Kiblat Dipindahkan

TGH M Zainul Majdi, Tuan Guru Bajang (TGB)

kicknews.today – Ulama tafsir jebolan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir TGH Dr M Zainul Majdi atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) mengupas kajian tentang¬†kisah perpindahan kiblat dari Al-Masjid Al-Aqsha ke Kakbah di Mekah yang termaktub daalam Al Qur’an surah Al-Baqarah ayat142 dan seterusnya.

“Dalam kajian tafsir di Masjid Hubbul Wathan IC Mataram, saya berbagi dengan para jamaah tentang kisah perpindahan kiblat dari Al-Masjid Al-Aqsha ke Kakbah di Mekah. Al-Baqarah 142 dan seterusnya menguraikan hal itu,” terang TGB di laman media sosialnya, Minggu (9/12).

Ulama yang juga mantan gubernur NTB dua periode ini menjelaskan tentang beragam tanggapan yang muncul usai wahyu perpindahan arah kiblat itu diturunkan.

“Intinya, saat ketetapan perubahan kiblat turun, respon yang muncul beragam. Umat Islam menerima dengan suka cita karena hal itulah yang diharapkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat,” katanya.

“Sedangkan kelompok lain khususnya Yahudi dan kaum musyrik Madinah menyikapi dengan sinis. Nyinyiran lalu tudingan bahkan fitnah mereka lontarkan kepada Rasul dan para sahabat,” pungkasnya.

Dikatakan dia, saat itu sebagian sahabat terpancing merespon, terjadilah ketegangan. Masing-masing pihak semakin tajam dalam berucap. Kota Madinah yang saat itu baru didiami Rasul sekitar satu setengah tahun menjadi tidak nyaman.

“Maka Allah segera menurunkan ayat 177, bahwa “kebajikan” itu bukanlah semata perkara kemana engkau mengarahkan wajahmu, namun “kebajikan” adalah amal-amal nyata dalam kehidupan : iman yang kokoh, berbagi harta kepada yang memerlukan, shalat yang ditegakkan, teguh memegang komitmen dan kesepakatan yang baik, sabar dan tenang dalam setiap keadaan dan seterusnya,” papar TGB.

TGB menutup ulasannya dengan nasihat bahwa umur yang terbatas alangkah baiknya dipakai untuk menjadi manfaat.

“Umur kita terbatas, hidup hanya sekejap. Tinggalkan ujaran tidak perlu, persilangan kata dan perdebatan yang tidak bermutu,” tutup TGB. (red.)