in

Politik Gorengan

Politik gorengan adalah istilah yang saya pakai untuk politik di wilayah saya, karena masyarakat di sini tidak dipungkiri mereka menilai orang dari segi materi. Yang kaya dihormati dan yang miskin di zolimi. Hal ini persis seperti kata-nya Jack Ma.

Jack Ma merupakan seorang pebisnis berkebangsaan Tiogkok. Dia merupakan pendiri sekaligus Chairman Eksekutif dari Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok. Dia merupakan warga China Daratan pertama yang pernah muncul di majalah Forbes dan terdaftar sebagai biliuner dunia. Dia pernah berkata :

“Ketika kamu kaya suara kentutmu terdengar bijak dan ketika kamu miskin suara bijakmu terdengar seperti suara kentut”

Memang fenomena sosial yang terjadi pada masyarakat saat ini betul yang dikatakan Jack Ma.

Dan yang paling miris lagi adalah ekor-ekor dari pejabat, yang siap mati tapi tidak siap lapar demi membela pejabat nya demi gorengan. “Tesuruh lalo meli gorengan arak ansul 7ribu tesuruh baitn sik cemohn. terus mele bile bantel banian nie mele mate bejulu”  itulah kata-kata yang sering terlontar dari orang-orang tua dirumah saya.

Yang artinya “Dia disuruh beli gorengan dan ada kembalian 7ribu dan dia disuruh mengambilnya dia sangat tunduk kepada pemimpinnya sampai-sampai dia rela mati tapi tidak rela lapar,” kurang lebih begitu lah Analoginya tapi tidak di pungkiri itulah politik gorengan yang saat ini terjadi diwilayah saya.

Sah-sah saja setiap orang menilai politik itu kotor atau suci. Politik itu bisa saja diibaratkan sebilah pisau tajam dalam genggaman seseorang. Pisau itu bisa digunakan untuk mengupas buah-buahan atau mengiris bawang di dapur oleh seorang ibu yang lemah-lembut dan penuh kasih. Buah yang dikupas diberikan kepada keluarga untuk dimakan.

Bawang dan bumbu yang dikupas dijadikan sambal dalam makanan yang enak dan lezat bagi anggota keluarga. Sementara bagi orang yang punya tabiat jahat, pisau itu bisa dimanfaatkan untuk membunuh orang lain, merampok dan menodong. Singkatnya pisau itu bisa digunakan untuk melakukan aksi kejahatan.

Terlepas dari beragamnya penilaian orang tentang politik, namun secara umum kita harus mengakui bahwa politik zaman now banyak dilakukan dengan cara-cara yang tidak elok. Menghalalkan segala cara demi meraih tujuan politik. Politik itu adalah jalan untuk meraih kekuasaan dan dengan kekuasaanlah seseorang dapat membawa sebuah negara dan rakyatnya ke kehidupan yang baik.

Namun itu bisa terjadi kalau yang sedang berkuasa itu adalah pribadi yang jujur, bersifat melayani dan berintegritas. Bila seseorang itu hanya ingin melampiaskan ambisi pribadinya untuk berkuasa, maka bencanalah kelak yang akan dituai rakyat dan negara.

Politik itu menggiurkan, maka tidak sedikit orang yang mengorbankan banyak hal untuk meraih tujuan politiknya itu. Banyak caleg yang menggadaikan harta benda dan mengeluarkan banyak uang untuk ambisi politik. Bahkan ada orang yang menjual atau menggadaikan imannya demi karir dalam politik. Belakangan, orang-orang macam ini banyak yang akhirnya berususan dengan hukum atau KPK.

Yang lebih miris adalah ketika agama pun dicampurkan dengan politik. Padahal agama adalah sesuatu wilayah yang suci dan kudus, namun ditarik-tarik ke dunia politik yang seringkali dipenuhi intrik-intrik kotor dan menyesatkan. Terlebih di tahun politik ini banyak oknum yang fasih mencomot ayat-ayat dari kitab suci dan dipelintir supaya cocok dengan muatan politik yang sedang dimainkannya.

Rakyat yang lugu dan pada dasarnya hanya ingin menikmati hidup damai dan tenteram itu pun banyak yang terpedaya dan mau saja diperintahkan untuk melakukan ini dan itu, karena sudah dikipas-kipasi oknum dengan agama dan Politik gorengan itu

Sang oknum yang sukses menggiring ribuan atau puluhan ribu manusia itu pun menikmati hasilnya seorang diri. Itu bisa berupa kedudukan politik, atau fulus yang melimpah dari politikus yang meraih tujuannya berkat “bantuan” oknum tersebut. Dan itulah politik!