in , ,

Film Berbahasa Sasak Masuk Nominasi 13th Jogja-Netpac Asian Film Festival

Usai pemutaran Film Sepiring Bersama pada acara 13th Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF)

kicknews.today – 13th Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) baru saja berakhir dengan awarding night yang di selenggarakan di pendopo Ajiyasa jogja national Museum pada tanggal 4 Desember 2018.

Penyelenggaraan JAFF yang ke 13 di tahun ini mengangkat tema “Disruption”, yang diselenggarakan dari tanggal 27 November sampai dengan tanggal 1 Desember 2018 dengan jumlah peserta yang sangat fantastis. Di kategori Short film  jumlah peserta yang telah mendaftarkan filmnya sebanyak 451 film dari 27 negara Asia, kemudian di-kurasi menjadi 68 film yang secara resmi mendapatkan “Official Selection”.

Untuk kategori Feature film jumlah peserta yang mendaftar sebanyak 117 film dari 27 negara Asia, dan di-kurasi menjadi 70 film yang mendapatkan “Official Selection”.

Semua film yang telah Lolos seleksi selanjutnya diputar di 3 venue JAFF tahun ini yaitu, Jogja National Museum, Empire XXI dan Cinemaxx Lippo Plaza.

Jogja Netpac-Asian Film Festival merupakan festival international terbesar di Indonesia dan juga merupakan salah satu festival terbesar yang dimiliki oleh Asia, sehingga JAFF menjadi perayaan besar perfilman Asia dan khususnya Indonesia. Jadi para Sineas Indonesia berbondong-bondong untuk ambil bagian dari acara besar Film Asia ini.

Ada hal yang menarik pada penyelenggaraan JAFF tahun ini, pasalnya untuk pertama kali dan satu-satunya film pendek full berbahasa SASAK lolos seleksi dan menjadi salah satu film pendek yang diputar di 13th Jogja-Netpac Asian Film Festival.

Film yang berjudul “SEPIRING BERSAMA” atau judul international “Lunch at Supper Time” garapan Sutradara Muhammad Heri Fadli dengan eksekutif produser Yudhistira dan diproduseri oleh Rusdiana Yusuf ini berhasil menyingkirkan 383 film pendek dari 27 negara asia untuk masuk ke 68 besar film yang dipilih.

Film “SEPIRING BERSAMA” dalam ajang JAFF 2018 ini mendapatkan slot pemutaran dua kali, yaitu pemutaran pertama di Pendopo Ajiyasa Jogja National Museum pada tanggal 29 November pukul 13.00-selesai, dan pemutaran kedua di Bioskop Cinemaxx Lippo Plaza Yogyakarta pada tanggal 1 Desember pukul 10.00-selesai. Setiap selesai pemutaran dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab dengan film maker.

Film yang dibintangi oleh Wazil Habibi, Maizatunnuri dan Abdullah sebagai main character dari film ini bercerita tentang: (Sinopsis) HILWA (5 tahun) adalah seorang gadis kecil yang tinggal bersama paman dan kakeknya di sebuah punggung bukit ujung timur Nusa Tenggara Barat.

Dia dibesarkan dan dirawat oleh paman dan kakeknya, karena sejak dilahirkan HILWA langsung ditinggal pergi oleh ibunya menjadi TKW di Malaysia. Sedangkan ayahnya tidak diketahui keberadaannya jauh sebelum HILWA dilahirkan. 

Paman HILWA (UCUP, 25 tahun) bekerja sebagai pencari kayu dan sesekali sebagai pelaut, UCUP adalah tulang punggung dalam keluarga kecil yang hidup penuh kesederhanaan. Namun setiap kekurangan dilalui dengan kesabaran dan kebersamaan.

Film ini dibuat berdasarkan keresahan Sutradara dan kedua Produser produksi dan produser eksekutifnya yang sangat menyayangkan dua kabupaten di Nusa Tenggara Barat (NTB) termasuk dalam tiga besar penyumbang buruh migran untuk Indonesia.

Lombok Timur berada di posisi pertama dan Lombok Tengah berda di posisi ketiga. Fenomena ini sudah berlangsung selama puluhan tahun, dan terbilang sangat besar bagi provinsi yang penduduknya kurang dari 4 juta jiwa. Terlebih lagi mereka meninggalkan anak-anaknya yang tumbuh tanpa bimbingan langsung dari orang tuanya.

Hal tersebut nampaknya menyebabkan banyak permasalahan yang terjadi di NTB, misalnya seperti tingginya angka pencurian, pembunuhan dan kasus kejahatan lainnya. Para pelakunya sangat mungkin adalah mereka yang dahulunya tidak mendapatkan bimbingan moral langsung dari orang tuanya yang bekerja sebagai migran di luar negeri.

Untuk saat ini film “SEPIRING BERSAMA” masih melanjutkan perjalanan dalam mengikuti kompetisi di banyak International Film Festival.

“Kita semua tentu berharap film ini bisa berbicara lebih jauh lagi dan bisa diputar di festival-festival di seluruh dunia,” kata sang sutradara Heri Fadli yang dihubungi kicknews.today, Kamis (6/12). (red.)

What do you think?

335 points
Upvote Downvote

Tinggalkan Balasan