in

Dahsyatnya Basmalah (Tamat)

KHR Ahmad Azaim Ibrahimy

Oleh: KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy*

 

Ketika wahyu Ilahi, kalimat basmalah turun kepada semesta, kandela — bias cahaya — menakjubkan setiap yang menyaksikan; awan kelam berarak menjauh ke arah timur, angin diam tak berhembus, laut tenang tak bergelombang, binatang jadi terhenyak, telinga yang bernyawa semua menyimak, dan syaitan pun terlempar kutuk; kala itu Allah Sang Maha Kuasa pun bersumpah dengan nama kemuliaan-Nya, dengan nama keagungan-Nya, bahwa tak kan pernah disebut nama-Nya atas segala sesuatu yang ada, kecuali semua menjadi berkah.

——————————————————————————

Dan pada akhirnya, renungkanlah kisah Baginda Nabi Muhammad saw. di awal perjuangan risalahnya ketika diperintah untuk membaca dengan menyebut nama Tuhan Yang telah menciptakan, iqra’ bismi Rabbika al-ladzi khalaq.

Dengan kalimat basmalah Baginda mulai melangkah, hingga menuai berkah, mengantarkannya kepada puncak kesuksesan Fathu Makkah, pembebasan kota Makkah, penyucian Baitullâh dari berhala-berhala. Karena sejak peletakan batu pertama revolusi Islam, Baginda Nabi saw. telah memulai dengan basmalah, maka kedahsyatan efektifitasnya kemudian mampu menggemparkan segala peradaban yang kala itu ada, peradaban Timur dan Barat, dari India, Persia, sampai Romawi.

Seperti sentuhan lembut ujung jari yang mampu membuat gelombang perubahan di atas permukaan air yang tenang, gerakannya merubah sekian banyak ideologi dan kepercayaan. Memberi cahaya pengetahuan dan kebenaran kepada kelam kejahiliyahan peradaban.

Bukan dengan “atas nama bangsa” atau “atas nama seseorang” seharusnya kita membangun sejarah peradaban umat manusia, tetapi dengan basmalah, dengan Nama Allah Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa, peradaban akan terbentuk dari masyarakat sosial yang berkeadilan, berkemanusiaan, beriman dan bertakwa, terbangun penuh berkah.

Suatu ketika Baginda Nabi saw. ditanya tentang hakikat kalimat basmalah, beliau pun menjawab, “(Basmalah) itu adalah nama dari nama-nama Allah, jarak antara basmalah dan ismullâhi al-akbar (nama Allah yang teragung) laksana jarak antara lingkar hitam kedua mata dan bagian putihnya, karena sangat dekat.”

Basmalah adalah rahasia Ilahi yang diketahui hanya oleh orang-orang pilihan yang sejati. Basmalah adalah perisai penyelamat dan pakaian yang melindungi kita, umat manusia, menghalangi dari pandangan jin yang memiliki potensi membuat malapetaka.

Namun, kekuatan kalimat ini sebenarnya kembali kepada segumpal daging di dalam tubuh kita, segumpal hati dengan kekuatan keyakinannya yang istimewa, karena wa kullu man lam ya’taqid lam yantafi’, setiap orang yang tidak meyakini, maka tak akan bermanfaat.

Ketahuilah, semesta ini seluruhnya adalah gesture, lambang atau rumus yang menunjuk pada nama-nama Allah. Sedangkan setiap nama-Nya adalah menunjuk pada seluruh sifat-Nya yang kudus. Dan seluruh sifat-Nya adalah menunjuk pada keharusan eksistensi Dzat Allah, wujud-Nya Yang Maha Esa, karena tentu saja mustahil suatu sifat tegak sendiri tanpa adanya dzat.

Maha Sucilah Yang bila seseorang berdzikir menyebut-Nya, maka ia menjadi mulia sebab dzikir tersebut.

Setiap sesuatu yang tercipta, dari yang terkecil sampai yang terbesar, dengan lisân al-hâl, bahasa tubuhnya, semua berdzikir, berkata, “Bismillâh.”

Atom, setiap satuan massa, molekul yang bersenyawa, semua yang berada pada kesinambungan gerak proton dan neutron dalam setiap partikelnya.

Sel-sel makhluk hidup. Sebagaimana gerak putaran bumi, bulan, dan matahari pada porosnya. Sebagaimana kinerja bintang-bintang dari ledakan nova hingga supernova. Sekali lagi, seluruhnya berputar, bergerak, berdzikir dengan bahasa tubuhnya sendiri-sendiri, berseru, “Bismillâh”.

Gerak segala sesuatu hanyalah ada, tercipta, dengan atas nama Allah. Bismillâhirrahmânirrahîm, dengan atas nama-Nya Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.

Bukankah awal mula wahyu yang difirmankan Allah SWT. kepada Sang Pena adalah perintah, “Tulislah!” Kemudian ketika itu Sang Pena bertanya, “Wahai Tuhan, apa yang harus aku tulis?”

Maka Allah SWT. pun berfirman, “Bismillâhirrahmânirrahîm.” Bergoncanglah Sang Pena karenanya. Dan ketika kalimat basmalah ditulis, maka bergoncang pulalah Arasy karenanya.

Akhir kata, di saat zaman memperlihatkan fitnah yang semakin menantang, kita mesti segera bersikap, dengan semangat penuh kayikanan berucap bismillâh namsyî ‘alâ barakâtillâh, dengan nama-Mu yang terindah, hamba melangkah atas berkah-Mu yang melimpah. (tamat)

 

*) Penulis adalah Pengasuh Pon-Pes. Salafiyah Syafi’iyah (P2S2) Sukorejo Situbondo Jawa Timur.