in

Pendidikan Produktif Berbasis Komunitas

Dunia pendidikan di Indonesia beberapa kali mengalami perubahan kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan zaman, tentunya ada sisi positif dan negatif yang diberikan. Salah satu contohnya adalah Kurikulum tahun 2013 (K13), pada kurikulum ini mata pelajaran bahasa inggris telah dihapuskan di tataran Sekolah Dasar (SD).

Atas dasar itulah muncul inisiatif dari salah satu aktivis penggiat sosial pendidikan M.Sadli Al-Padlim Bersama sahabat sekaligus Saudaranya bernama Wahyudin Safari, awalnya mereka ingin membentuk suatu wadah untuk memfasilitasi pemuda di desanya dalam mempelajari bahasa Inggris ( English Course ) dengan sistem berbayar, akan tetapi melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat  yang notabene menengah kebawah membuat kedua pemuda ini mencari  jalan lain.

Dari situ muncul ide dan gagasan baru Muhamad Sadli untuk membangun komunitas bernama “Muda Mengajar Lombok”.

M. Sadli Al-Padlim sedang melanjutkan Study Magisternya di salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur tepatnya dikota Malang, yaitu di Universitas Maulana Malik Ibrahim (UIN) Malang. Dikota inilah beliau mulai sadar dan resah dengan dunia pendidikan di Indonesia khususnya lingkungan masyarakatnya sendiri, dilatarbelakangi oleh penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris pada Kurikulum 2013 (K13) khusus untuk Sekolah Dasar (SD), maka Muhamad Sadli berinisiatif untuk memberikan pelajaran Bahasa Inggris secara gratis untuk anak usia SD di lingkungan mereka terutama untuk anak-anak yang berasal dari golongan ekonomi menengah kebawah. “Kami ingin memberikan kesempatan yang sama kepada anak-anak SD di masyarakat untuk belajar Bahasa Inggris gratis,”. Dari semangat inilah Muhamad Sadli ini mengajak teman-teman mereka untuk terjun ke aksi sosial dalam membantu perbaikan dunia pendidikan di Desa maupun masyarakatnya sendiri.

Muda Mengajar Lombok: Foto Bersama MML Cabang Desa Penujak

Muda Mengajar Lombok (MML) merupakan salah satu komunitas peduli pendidikan ditingkatan sekolah dasar (SD) Yang dibentuk pada 9 Juni 2017, berpusat di Dusun Montong Balas, Desa Pengembur, Kecamatan Pujut, kabupaten Lombok Tengah, NTB, Fokus terhadap pengajaran Bahasa Inggris untuk kalangan anak dengan ekonomi rendah, kegiatan belajar mengajar ini dilakukan secara sukarela (gratis) oleh pemuda-pemudi Lombok yang menjadi relawan (volunteer) dalam komunitas ini.

Muda Mengajar Lombok Cabang Desa pengembur

Alasan utama Muda Mengajar Lombok menyasar kalangan ekonomi rendah tidak lain adalah, karena jika anak-anak dari kalangan tersebut harus menempuh pendidikan melalui jalur kursus, maka akan memerlukan biaya yang cukup besar, dan hal ini pastinya menjadi beban tersendiri untuk keluarga mereka.

Muda Mengajar Lombok percaya bahwa masyarakat pasti bisa mandiri dan tumbuh saling menguatkan satu sama lain, dan meyakini bahwa kemajuan pendidikan di suatu daerah ditentukan oleh para pelaku pendidikan yang ada di daerah tersebut, yaitu guru, kepala sekolah, orang tua, pemerintah kabupaten serta masyarakat lainnya.

“Semangat Belajar” adalah Motto Muda Mengajar Lombok, artinya: seluruh anggota komunitas Muda Mengajar memiliki semangat untuk selalu belajar, meningkatkan kemampuan diri, dan menanamkan rasa positif di dalam diri adik-adik untuk terus belajar.

Semangat itulah yang membuat Wahyudin Safari selaku ketua pengurus Muda Mengajar Lombok (MML) terus berjuang dalam membangun dan membuka cabang diberbagai desa, diantaranya  desa pengembur, desa Tumpak, dan Desa Penujak. ” Mimpi besar kami adalah menciptakan kesetaraan sosial pendidikan khususnya di pelosok desa, karena mereka sangat jauh tertinggal dari pendidikan yg ada di kota” ungkapnya.

“Semoga makin banyak lagi desa maupun daerah yang bisa kami sentuh” tambah Wahyudin Safari.

M.Sadli Al-padlim menyampaikan harapan  besarnya untuk MML kedepannya, yakni “Bisa memiliki banyak cabang di tiap-tiap desa pulau lombok,  para Volunteer makin solid dan selalu meluangkan waktu utk membagi ilmunya agar anak-anak yang ada di pelosok desa bisa menyerap ilmu lebih seperti anak-anak di kota, dan Semoga MML memiliki sekret khusus agar para volunteer ada tempat utk berlatih dan berdiskusi sebelum terjun kelapangan”

“Harapan saya kedepannya untuk MML tentunya Pemerintah setempat memberikan dukungan,  Karna selama ini kita banyak didukung oleh donatur swasta dan semoga para relawan (volunteer) juga bisa bertambah” ungkap ketua cabang Desa Penujak (Baiq Arnika Saadati)

Muda Mengajar Lombok Cabang Desa Tumpak

“Semoga dengan adanya MML sebagai  Wadah belajar untuk anak-anak pelosok desa akan membuat mereka tak lagi minder untuk menunjukkan potensi yg mereka miliki,  Step by step mereka akan mulai sadar bahwa setiap diri mereka adalah anak-anak yg cerdas dan hebat” tambah ketua cabang desa tumpak ( Husnul Khotimah).

Selanjutnya M.Sadli Al-Padlim Selaku Founder meminta agar semua pihak dapat mendukung kegiatan MML baik itu dari pemuda, masyarakat dan pemerintah. Agar terciptanya kesetaraan sosial pendidikan di Indonesia ini.