in

Dahsyatnya Basmalah (Bagian 2)

Pengasuh P2S2 Sukorejo Situbondo Jawa Timur KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy

Oleh: KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy *

 

Ketika wahyu Ilahi, kalimat basmalah turun kepada semesta, kandela — bias cahaya — menakjubkan setiap yang menyaksikan; awan kelam berarak menjauh ke arah timur, angin diam tak berhembus, laut tenang tak bergelombang, binatang jadi terhenyak, telinga yang bernyawa semua menyimak, dan syaitan pun terlempar kutuk; kala itu Allah Sang Maha Kuasa pun bersumpah dengan nama kemuliaan-Nya, dengan nama keagungan-Nya, bahwa tak kan pernah disebut nama-Nya atas segala sesuatu yang ada, kecuali semua menjadi berkah.

——————————————————————————

Apalah artinya kalimat yang kita ucapkan, bila tak disertai keyakinan. Karena sesungguhnya keyakinanlah yang menghubungkan rahasia makna basmalah yang kita ucapkan ke dalam hati, hingga menjadi potensi kekuatan yang maha dahsyat!

Kekuatan ini terdapat dalam jiwa orang mukmin sejati, jiwa yang disebutkan al-Qur’an, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenarbenarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni’mat) yang mulia.” (QS. Al-Anfâl: 2–4).

Cahaya iman seperti inilah yang kemudian mentransfer energi ruhani maha dahsyat pada setiap jiwa orang mukmin yang sejati dalam keyakinannya. Sehingga kalimat basmalah yang diucapkan mampu menghasilkan daya kekuatan sangat menakjubkan.

“Gemetarlah karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar: 23)

Suatu kekuatan bersumber dari energi ruhani bernama keyakinan, sebagaimana keyakinan para nabi, kaum shiddîqîn, kaum syuhadâ’, dan shâlihîn.

Namun, ketika kalimat basmalah bekerja, bukan berarti lompatan hirarki perjuangan harus terjadi, bukan pula harus terjadi mukjizat. Tidak. Basmalah bukanlah mantra bim sala bim para penyihir, akan tetapi kalimat ampuh yang bekerja sesuai hukum kausalitas, sunnatullâh di alam semesta, dengan nilai tambah keberkahan dan kedahsyatannya sebagaimana dirasakan oleh mereka yang telah benar-benar meyakininya. Basmalah adalah kata kerja, bukan kata sifat yang hanya bertumpu menumpang pada suatu entitas lain.

Tatkala Allah SWT. mewahyukan kalimat basmalah kepada Adam as., bapak umat manusia.Ia (Adam) terkesiap takjub, lalu berkata, “Wahai Jibril, nama apakah ini yang langit dan bumi tegak dengannya, air mengalir dan gunung terpancang dengannya, kemudian menetap berada di bumi, hingga hati kecil setiap makhluk menjadi kuat dengannya”.

Bapak umat manusia kedua, Nabi Nuh as. tatkala hendak mengarungi bandang besar dengan bahteranya yang menjadi legenda sepanjang sejarah, ia berseru kepada kaumnya, “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya, bismillâh, dengan menyebut nama Allah, di waktu berlayar dan berlabuhnya.” (QS. Hûd: 41).

Hanya dengan separuh kalimat saja, Nabi Nuh as. dan kaumnya selamat. Lalu bagaimana dengan yang sepanjang hidupnya membaca kalimat tersebut secara kontinu dan sempurna, mungkinkah ia akan terhalang dari keselamatan abadi?

Dikisahkan juga bahwa tatkala Nabi Musa as. mengalami sakit, Allah Swt. berfirman kepadanya, “Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah racun yang mematikan, sedangkan penawarnya adalah nama-Ku!”

Bacalah kemudian kisah Nabi Sulaiman as., tatkala mengirim surat kepada Ratu Balqis, penguasa bangsa Saba’, kaum penyembah matahari, melalui seekor burung Hud-hud.

Ketika sepucuk surat terlempar jatuh dari udara, diambilnya surat itu oleh Balqis, matanya menatap tajam, bibirnya bergerak mengeja, “Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya (isi)nya, ‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bahwa janganlah kamu sekalian bersikap sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.’” (QS. An-Naml: 30–31).

Setelah dibacanya surat itu, Ratu Balqis memanggil para pembesar dan penasihat kerajaan untuk berkumpul memusyawarahkan tindakan apa yang harus diambil sehubungan dengan surat Nabi Sulaiman as. tersebut.

Para pembesar kerajaan menyatakan kesanggupan mereka untuk berperang, tidak akan gentar menghadapi segala ancaman dari mana pun datangnya demi menjaga keselamatan dan keselamatan kerajaan.

Usai ditolak dengan tegas diplomasi pengiriman hadiah, Balqis berpikir, bahwa tak ada jalan terbaik untuk menyelamatkan diri dan kerajaannya kecuali menyerah saja kepada tuntutan Sulaiman dan datang menghadap ke istananya.

Maka, setelah mengalami kegentaran psikologis, enggan dengan kekerasan, atau bahkan — lebih tepatnya — cemas akan kerusakan dan kehancuran yang mengancam peradaban Kerajaan Saba’, Ratu Balqis pun datang lengkap dengan kekuatan penuh, kekuatan materi duniawi; memasrahkan diri, takluk, tunduk kepada kekuasaan Nabi Sulaiman as., kekuatan spiritual nubuwwah, kekuatan iman. Sekali lagi, semua ini memperlihatkan bagaimana efek kekuatan basmalah sebenarnya. (bersambung)

 

*) Penulis adalah Pengasuh Pon-Pes. Salafiyah Syafi’iyah (P2S2) Sukorejo Situbondo Jawa Timur.