in

Dahsyatnya Basmalah (Bagian 1)

Pengasuh P2S2 Sukorejo Situbondo Jawa Timur KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy

Oleh: KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy *

 

Ketika wahyu Ilahi, kalimat basmalah turun kepada semesta, kandela — bias cahaya — menakjubkan setiap yang menyaksikan; awan kelam berarak menjauh ke arah timur, angin diam tak berhembus, laut tenang tak bergelombang, binatang jadi terhenyak, telinga yang bernyawa semua menyimak, dan syaitan pun terlempar kutuk; kala itu Allah Sang Maha Kuasa pun bersumpah dengan nama kemuliaan-Nya, dengan nama keagungan-Nya, bahwa tak kan pernah disebut nama-Nya atas segala sesuatu yang ada, kecuali semua menjadi berkah.

——————————————————————————

Sebegitu hebatkah kalimat basmalah? Bagaimana mungkin kalimat basmalah tidak memiliki kekuatan yang menakjubkan, jika ternyata kandungan maknanya teramat dahsyat?! Apakah karena secara matematis huruf basmalah menggunakan bilangan prima 19, dimana bilangan tersebut secara matematika ditafsiri sebagai kunci rahasia sistem proteksi al-Qur’an dari upaya pemalsuan? Apakah hal ini benar-benar merupakan bagian dari master plan Allah dengan segala rahasia-Nya? Atau ada rahasia lain, sebagaimana yang juga diyakini, bahwa siapa yang ingin diselamatkan dari Zabaniyah yang berjumlah 19, malaikat berkarakter keras dalam menyiksa, maka bacalah bismillâhirrahmânirrahîm, niscaya Allah akan menjadikan setiap hurufnya sebagai benteng bagi si pembaca dari setiap Zabaniyah?

Bila kita telaah lebih seksama, kalimat bismillâhirrahmânirrahîm, lebih khusus kalimat bi ismi adalah berkaitan dengan kata kerja yang diperkirakan setelahnya sesuai dengan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan.

Misalnya kita membaca basmalah ketika hendak melangkah ke suatu majelis kebajikan, maka perkiraan kalimatnya secara lengkap adalah, “Dengan menyebut nama Allah aku melangkah ke majelis kebajikan…” demikian seterusnya, dengan berbagai jenis aktifitas yang ada.

Fungsi kata kerja yang diperkirakan setelah kalimat bi ismi itu ada dua. Pertama adalah tabarruk, mengharap berkah, dengan mendahulukan asma Allah SWT. sebelum menentukan aktifitas apapun yang akan kita lakukan.

Kedua adalah pembatasan maksud. Seolah kita berkata, “Aku tidak melakukan aktifitas apapun, dengan menyebut nama siapapun, untuk mengharap berkah dengannya, dan untuk meminta pertolongan darinya, selain nama Allah SWT.”

Dengan bertambah seksama lagi kita telaah, diketahui bahwa huruf ’ dari kalimat basmalah adalah lebih menunjukkan makna isti’ânah, meminta pertolongan hanya kepada Allah SWT. Bukankah Nabi SAW. telah mengajarkan “Idza ista’anta fa ista’in billâh”? Jika engkau meminta pertolongan maka minta tolonglah kepada Allah. (HR. Tirmidzi)

Pada isti’ânah ini terdapat makna memasrahkan segala daya dan upaya hanya kepada Allah semata, juga proklamasi rasa butuh diri kita sebagai seorang hamba kepada-Nya di kala tubuh kita menghasilkan gerak langkah aktifitas apapun, bagaimanapun, dan kapanpun.

Sebagaimana kita telah meminta tolong kepada Dzat Yang Maha Kuasa, demikian pula kita meminta tolong melalui nama-nama-Nya yang mulia.

Lafzh al-Jalâlah (Allâh) merupakan nama bagi Allah, Tuhan semesta raya, selain Allah tidak boleh diberi nama dengan-Nya. Nama “Allâh” merupakan asal, adapun nama-nama Allah selain lafzh al-Jalâlah tersebut adalah cabang darinya. Penyebutan lafzh al-Jalâlah berkonsekuensi pada keluhuran, kekuasaan, dan lindungan-Nya (lihat QS. Al-Baqarah: 257).

Di balik pengucapan lafzh al-Jalâlah, ketika lisan kita melafalkan “Allâh” bila dikaji secara fisiologis, pengucapan huruf “A” dari lafzh al-Jalâlah adalah dapat melapangkan sistem pernapasan kita, serta berfungsi mengontrol gerak nafas dalam rongga dada.

Kemudian saat mengucapkan huruf “Lâm”, kondisi ini dapat menimbulkan pengaruh yang nyata terhadap relaksasi pernapasan. Dan ketika mengucapkan huruf terakhir “H”, tepat pada saat kita melakukannya, hal ini telah membuat kontak antara paru-paru dan jantung, yang pada gilirannya kontak ini dapat mengontrol denyut jantung secara baik dan sempurna.

Adapun kata “al-Rahmân” adalah bermakna Dzat yang memiliki kasih sayang teramat luas. Bentuk kosa kata ini menunjukkan makna keluasan yang berkonsekuensi pada cinta-Nya. Sedangkan kata “ar-Rahîm” adalah bermakna Dzat yang mencurahkan kasih sayang kepada setiap hamba-Nya yang dikehendaki.

Bentuk kosa kata ini menunjukkan makna terlaksananya kasih sayang tersebut. Di sini ada dua penunjukan kasih sayang, yaitu kasih sayang sebagai karakter Dzat Allah seperti yang terkandung dalam nama “al-Rahmân”, dan kasih sayang yang merupakan perbuatan Allah yang mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang yang disayangi-Nya, seperti yang terkandung dalam nama al-Rahîm.

Karena alasan itu juga, leluhur kita, manusia pertama dicipta atas bentuk pencitraan sifat al-Rahmân, sebagai cermin yang memantulkan seberkas cahaya dari Maha Cahaya, Sang Realitas Tertinggi.

Esensi wujudnya bertugas menjalankan peran kemanusiaan dengan mengatasnamakan Allah, bismillâh, atas nama kuasa-Nya; al-Rahmân al-Rahîm, yang berkarakter penuh kasih dan sayang. Karena sesungguhnya sebagai manusia, kita sedang memerankan rencana besar dari sejumlah skenario Ilahi di alam semesta, sebagai sosok yang berbakat untuk memahami berbagai pesan ketuhanan yang suci, bersama sejumlah perangkat kerja yang dimiliki dan efektifitas paripurna, agar menjadi objek firman-Nya yang mulia. (bersambung)

 

*) Penulis adalah Pengasuh Pon-Pes. Salafiyah Syafi’iyah (P2S2) Sukorejo Situbondo Jawa Timur.