in

Kasus Pungli, Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram Tak Ditahan Jaksa Karena Stroke

H Sudenom didampingi kuasa hukumnya

kicknews.today – Berkas kasus dugaan pungutan liar (Pungli) oleh Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, sudah masuk pada tahap II atau dinyatakan lengkap (P21). Berkas saat ini dilimpahan ke Pengadilan Negeri Mataram.

Akan tetapi, karena beralasan sakit stroke yang dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter, Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Sudenom tidak ditahan.

Kuasa Hukum Sudenom dalam hal ini, Muchtar M Saleh SH menyampaikan, tahapan II terhadap kasus Sudenom sudah dilaksanakan oleh Kejari Mataram. Pihak Kejari sudah mengeluarkan surat perintah penahanan kota untuk Sudenom tercatat sejak tanggal 21 November sampai 10 Desember 2018.

“Baru kali ini Kejari keluarkan surat penahanan kota,” ungkapnya usai bertemu Kasi Pidsus Kejari Mataram, Rabu (21/11).

Mengenai pertimbangan Kejari menerbitkan surat tersebut, Mukhtar mengaku belum mengetahui secara pasti. Akan tetapi, selaku kuasa hukum, dia diminta serahkan hasil rekam medis Sudenom menyangkut penyakit strok yang dideritanya dari RS Medika dan Harapan Kita di Jakarta.

Diketahui sebelumnya, Sudenom diduga telah menerima uang dari beberapa Kepala Sekolah yang dibenarkan kuasa hukumnya Mukhtar sehingga Sudenom diduga terlibat dalam kasus Pungli.

Namun demikian, Mukhtar mengatakan kasus ini akan dilihat di pengadilan nanti secara objektif.

“Data di Kejaksaan Rp 120 juta, tapi saya sendiri tidak tahu berapa jumlah uang dan berapa orang kepsek yang diminta, ” kata dia.

Yang jelas menurut Mukhtar, pengakuan Sudenom, uang hasil minta dari kepala sekolah itu digunakan untuk berobat di Jakarta.

“Alasan minta ke Kepsek, mungkin kekurangan dana, saking gugup sakit saat itu yang mau ‘mati’ sehingga minta duit, ini ceritanya Sudenom kepada saya. Sebenarnya sistemnya pinjam ke kepala bidang, tapi Kabid ini kumpulkan Kepsek,” tuturnya.

Terkait hal itu, Kasi Pidsus Kejari Mataram, AA Gede Putra memaparkan alasan tidak menahan Sudenom karena menyangkut kesehatan. Dimana, Sudenom saat ini dalam keadaan Sakit dan masih proses berobat jalan. Ini dibuktikan dengan surat keterangan sakit diterbitkan RS Mitra Keluarga yang dilampirkan. Surat tersebut juga akan dilampirkan nant saat pelimpahkan ke Pengadilan.

“Yang jelas kasus Sudenom ini, minta uang kepada Kepsek, SD dan SMP sebanyak 15 orang, jumlahnya Rp 117 juta lebih untuk berobat pada tahun 2017. Tapi, sebagian sudah dikembalikan Rp 50 juta lebih. Intinya berkas kasus Sudenom masih di Kejari tinggal dilimpahkan,” tutur dia.

“Tunggu Kajari saja ya untuk pelimpahan, berkas sudah di Meja Kajari,” tutupnya sembari menyampaikan ada barang bukti nota uang kepada Sudenom melalui H Tahir yang bervariasi. Ada Rp 2 juta dan Rp 5 juta.

Sudenom yang dikonfirmasi mengaku, dirinya kini bukan lagi sebagai Kepala Disdik Kota Mataram.

“Saya sudah bukan kepala Dinas lagi sejak kasus ini mulai bergulir,” pungkasnya. (prm)