in

Bangkitlah Perempuan Indonesia, Lawan Kriminalisasi

Baiq Siti Nuriyam, aktivis PMII Lombok Tengah (Foto: Ist)

Oleh: Baiq Siti Nuriyam*

 

Kasus kriminalisasi kembali menggoreskan luka bagi kaum Hawa yang semestinya mendapat perlindungan yang wajar dan jelas. Salah satu yang teranyar adalah kasus yang menimpa Baiq Nuril Maknun, seorang mantan guru honorer SMAN 7 Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. dimana hal ini telah menambah catatan kelam penegakan hukum bagi kaum perempuan.

Ibu Nuril yang menjadi korban pelecehan seksual secara verbal, justru malah dinyatakan bersalah oleh lembaga peradilan setingkat Mahkamah Agung (MA) dalam putusan kasasinya. Baiq Nuril dinyatakan bersalah melanggar Undang-Undang ITE, dan terancam hukuman enam bulan penjara dan denda Rp 500 juta subsider tiga bulan kurungan.

Lalu dimanakah letak keadilan di negeri ini? Ketika manusia kecil tak bersalah harus dijerat hukum? Lalu bagaimana dengan mereka para manusia besar (pejabat dan orang berduit), yang menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan kebebasan hukum? Apakah penguasa negeri ini tuli? Apakah penguasa negeri ini buta? Pantaskah hukum di Indonesia ini dikatakan adil, ketika yang salah dibela mati-matian dan yang benar dihukum mati-matian?

Bangkitlah wahai Indonesiaku. Bangkitlah wahai penguasa negeri ini, jangan biarkan kejahatan, ketidakadilan membunuh orang-orang kecil yang tak bersalah, dan membebaskan orang-orang besar yang busuk dan menjijikkan. Bangunlah wahai perempuan Indonesia.

Ibu Nuril bukan hanya harus dibebaskan, tetapi juga harus diberi penghargaan, karena beliau salah satunya perempuan yang berani melawan tindakan asusila yang dilalukan oleh atasannya, yang kabarnya kini sudah naik pangkat. Tak banyak korban asusila yang berani bertindak dan melawan seperti Ibu Nuril.

Mengutip kata-kata Ibu Wakil Gubernur NTB, jangan ada lagi Nuril lain di negeri ini. Perempuan harus bersuara.

Ibu Nuril adalah satu dari sekian banyak perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual. Jangan sampai kasus Ibu Nuril membuat para korban pelecehan lain enggan bersuara dan tidak mau melawan, karena takut dengan ancaman penjara. Negara harus hadir melindungi para perempuan dari ancaman pelecehan dalam bentuk apapun.

Secara pribadi, saya juga berharap kepada para perempuan di Tanah Air Indonesia ini, agar jangan takut untuk bersuara dan melawan saat menjadi korban pelecehan.

Negara harus dapat memberi rasa aman dan nyaman kepada kaum perempuan. Jangan sampai negeri ini hanya banyak lembaga peradilan, tapi malah rakyat susah mencari keadilan.

Perempuan harus dilindungi dan dimuliakan.

Salam kaum perempuan!

Bangkitlah wahai perempuan Indonesia!

 

 

*) Penulis adalah aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lombok Tengah.