in ,

Tak Ada Hari Pahlawan Tanpa Resolusi Jihad Fii Sabilillah NU

Hadratusyaikh KH Hasyim Asy'ari dan Bung Tomo

kicknews.today – Tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Bung Karno tampil gagah menyatakan kemerdekaan Indonesia sebagai negara yang berdaulat disambut riuh kemeriahan kemerdekaan di seantero Nusantara.

Namun belum genap usia satu bulan kemerdekaan itu, Indonesia langsung mendapat cobaan yang berat. Tentara sekutu yang didalamnya ada tentara belanda tergabung dalam NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) mendarat di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Ketika itu, Bung Karno dan Bung Hatta berupaya melakukan upaya diplomatik untuk bekerja secara profesional hanya untuk mengurus tahanan saja dan tidak mengutak atik status kemerdekaan Republik Indonesia. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil.

Sampai bulan Oktober 1945 pada waktu itu, belum ada satu pun Negara di dunia yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan mengakui Negara Indonesia, akibat usaha-usaha pemerintah Belanda yang menyebarkan berita provokatif ke seluruh dunia bahwa Republik Indonesia yang dipimpin Soekarno dan Hatta, adalah Negara boneka bikinan Fasisme Jepang.

Sebenarnya pada waktu itu Perang Dunia II sudah berakhir karena Jepang takluk sejak 15 Agustus 1945. Kedatangan balatentara Inggris ke Jakarta, Semarang dan Surabaya adalah dalam rangka penyelesaian masalah interniran dan tawanan perang Jepang, yang di dalam prosesnya ditandai oleh maraknya isu kembalinya pemerintah Kolonial Belanda ke Indonesia dengan membonceng balatentara Inggris.

Bung Karno galau… ia menghitung secara strategis kalau terjadi peperangan, secara matematis Indonesia tidak akan mungkin mengalahkan sekutu karena persenjataan mereka jauh lebih lengkap serta keahlian militernya tentu lebih memadai.

Atas saran Jenderal Besar Soedirman Bung Karno pada pekan kedua Oktober 1945, Presiden Soekarno mengirim utusan khusus ke Pesantren Tebuireng untuk menemui Raisul Akbar Nahdlatul Ulama, Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari, meminta petunjuk dan arahan guna memecahkan kegundahan hati sang presiden dan meminta fatwa mengenai hukumnya berjihad membela negara yang notabene bukan negara agama.

Mayor Jenderal TKR Mustopo, sebagai komandan sektor perlawanan Surabaya pada waktu itu, bersama Sungkono dan Bung Tomo yang juga seorang santri dan berprofesi sebagai wartawan, serta bersama tokoh-tokoh Jawa Timur menghadap KH Hasyim Asyari.

KH Hasyim Asyari mengundang konsul-konsul NU di seluruh Jawa dan Madura yang hadir pada tanggal 21 Oktober 1945 di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya, berdasar amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya yang disampaikan Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari, dalam rapat PBNU yang dipimpin Ketua Besar KH Abdul Wahab Hasbullah, menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”, yang isinya sebagai berikut:

“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)…”

Dalam buku berjudul Fajar Kebangunan Ulama, Biografi Kiyai Hasyim Asyari yang ditulis Lathiful Khuluq menyebut butir Pertama Resolusi Jihad berbunyi: kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus wajib dipertahankan.

Butir kedua: Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dijaga dan ditolong. Ketiga: musuh Republik Indonesia yaitu Belanda, yang kembali ke Indonesia dengan bantuan sekutu Inggris, pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia.

Keempat: umat Islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan penjajah Belanda dan sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali.

Ke lima: kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tinggal dalam radius 94 kilo meter, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu dalam bentuk material terhadap mereka yang berjuang.

Dalam tempo singkat, Surabaya diguncang oleh kabar seruan jihad dari PBNU ini. Dari masjid ke masjid dan dari musholla ke musholla tersiar seruan jihad yang dengan sukacita dan berapi-api disambut penduduk Surabaya yang sepanjang bulan September sampai Oktober telah meraih kemenangan dalam pertempuran melawan sisa-sisa tentara Jepang yang menolak tunduk kepada arek-arek Surabaya. Demikianlah, sejak dimaklumkan tanggal 22 Oktober 1945, Resolusi Jihad membakar semangat seluruh lapisan rakyat hingga pemimpin di Jawa Timur terutama di Surabaya, sehingga dengan tegas mereka berani menolak kehadiran Sekutu yang sudah mendapat ijin dari pemerintah pusat di Jakarta.

Hanya dalam waktu tiga hari setelah Resolusi Jihad dicetuskan, 6.000 pasukan Sekutu mendarat di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945.

Mendengar kedatangan pasukan NICA, ribuan santri dan kiayi dari penjuru Jawa Timur bergerak menuju Surabaya. Situasi cenderung tak terkendali. Resolusi jihad telah memompa semangat perlawanan rakyat dan memicu terjadinya pertempuran hebat selama tiga hari di Surabaya tanggal 27, 28 dan 29 Oktober 1945.

Tentara NICA kualahan menghadapi perlawanan rakyat Jawa Timur. NICA kemudian mendatangkan Bung Karno dari Jakarta ke Surabaya untuk diajak berunding melakukan gencatan senjata sehingga pagi hari tanggal 30 Oktober, gencatan senjata ditandatangani pemerintah Indonesia dan Inggris yang tergabung dalam NICA.

Tetapi, sore harinya pada tanggal itu, terjadi insiden di Jembatan Merah yang menewaskan orang nomor satu tentara Inggris di Surabaya. Jenderal Mallaby meregang nyawa. Gencatan senjatapun seketika itu langsung berakhir.

Pengganti Jenderal Mallaby, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengultimatum laskar pejuang dan tentara Indonesia agar menyerahkan senjata kepada Inggris paling lambat pada tanggal 10 November 1945. Jika tidak, inggris mengancam akan membumi hanguskan Kota Surabaya.

Mendengar ultimatum itu, para komandan laskar Hizbullah, Sabilillah, Mujahidin, TKR dan para Santri marah besar.

Bung Tomo kembali soan kepada KH Hasyim Asyari untuk meminta izin menyiarkan dan menyebar luaskan kembali Resolusi Jihad melalui radio untuk mengobarkan semangat rakyat Surabaya, dengan isi pidato sebagai berikut:

Bismillahirrohmanirrohim..
Merdeka!!!

Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.
Kita semuanya telah mengetahui.
Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan,
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka

Saudara-saudara.
Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.
Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,
Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,
Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing.
Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung.
Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.
Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.

Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara.
Dengan mendatangkan Presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini. Maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri.
Dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.

Saudara-saudara kita semuanya.
Kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu,
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya.
Ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia.
Ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Dengarkanlah ini tentara Inggris.
Ini jawaban kita.
Ini jawaban rakyat Surabaya.
Ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau sekalian.

Hei tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.
Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.
Kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
Maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga

Saudara-saudara rakyat Surabaya, bersiaplah keadaan genting!
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak,
Baru kalau kita ditembak,
Maka kita akan ganti menyerang mereka itukita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.

Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!

Dan kita yakin saudara-saudara.
Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita,
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah saudara-saudara.
Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!!!

Pertempuran 10 November membuat malu tentara Inggris. Target mereka menguasai surabaya dalam waktu tiga hari kandas. bahkan di hari kedua, Inggris kembali kehilangan Mayor Jenderal Robert Mansergh yang berarti dalam satu bulan pertempuran untuk menguasai Surabaya, Inggris telah kehilangan dua Jenderal terbaiknya.

Perang sengit di Surabaya berlangsung selama tiga minggu dengan pekikan takbir dan merdeka yang menggema selama pertempuran berlangsung.

Meski pada akhirnya Kota Surabaya jatuh ke tangan Inggris, tetapi Inggris mengalami kerugian yang sangat besar. Ribuan serdadunya tewas termasuk serdadu Gurka dari India dan Pakistan di bawah komando Inggris yang membelot ke Indonesia setelah mengetahui lawan mereka adalah para Ulama dan para Santri yang sedang berjihad membela negaranya.

Korban di pihak Indonesia sebanyak 60.000 Tentara, Laskar, Para Santri, Sukarelawan dan Rakyat Surabaya gugur dalam medan Jihad sebagai Syuhada.

Tanpa resolusi Jihad Fii Sabilillah NU, tidak akan ada peristiwa heroik 10 November 1945. 

Seorang pejuang Pemuda Ansor 1945, KH Muchit Muzadi menyatakan, arti dari resolusi jihad yang ditanamkan adalah semangat perjuangan membela tanah air yang membara di dalam sanubari para pemuda, santri, laskar, tentara dan seluruh para pejuang kala itu.

“Artinya silahkan, mari kita berjuang. Mati, mati syahid atau kalo hidup kita akan menjadi bangsa yang merdeka. tekad itulah yang ditanamkan oleh resolusi jihad,” jelasnya.