in

Jalan Cidomo, Sepeda dan Pejalan Kaki di Gili Trawangan Segera Tuntas

Pekerjaan Jalan di Gili Trawangan oleh Dinas PUPR KLU (Foto: Riko)

kicknews.today – Pembangunan jalan di Gili Trawangan Lombok Utara diperkirakan selesai sebelum akhir tahun 2018 ini. Proyek tiga jalur di kawasan pariwisata tersebut, sedianya ditindaklanjuti pasca penertiban bangunan sempadan pantai dua tahun lalu.

“Pengerjaanya sudah 30 persen karena berdasarkan keputusan Pak Bupati tanggal 20 September untuk pembangunan gedung distop. Tapi untuk jalan lanjut,” ungkap Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) KLU Alfian, Jumat (2/11).

Menurutnya, dengan estimasi waktu pengerjaan yang tersisa dua bulan saja pihaknya optimis proyek senilai kurang lebih Rp 6 miliar tersebut bisa tuntas. Sebab sebelum pengerjaan PT Wijaya Karya Nusantara selaku pelaksana mampu memberi garansi tenggat waktu.

“Kita berikan syarat, dan mereka siap menyanggupi. Material sudah ada di sana, memang kontraknya sampai tanggal 26 Desember tapi target kita 15 Desember bisa selesai,” katanya.

Dijelaskan Alfian, bahan pembangunan jalan itu menggunakan paving blok yang telah diuji kelayakannya oleh Universitas Mataram. Jalan sepanjang 2,2 kilometer itu nantinya akan dibagi tiga yaitu untuk jalur pejalan kaki (pedestrian), jalur khusus cidomo, dan jalur untuk sepeda.

“Jalur untuk cidomo panjangnya 4 meter, sepeda 2 meter, dan trotoar untuk pejalan kaki 1,5 meter. Jadi totalnya 7,5 meter. Nanti kami juga akan beri warna supaya jadi tanda mana jalur cidomo atau pejalan kaki,” jelasnya.

Penataan kawasan pariwisata khususnya tiga gili tidak akan berhenti sampai di Trawangan saja. Tahun depan rencananya Gili Meno dan Air pun juga akan disasar. Bahkan Dirjen Cipta Karya pusat akan ikut ambil bagian guna pembangunan sisa di Gili Trawangan.

“Tahun depan dari Dirjen Cipta Karya yang akan lanjutkan sisa jalan di Trawangan. Itu perintah dari Menko Maritim saat datang ke Gili Trawangan kemarin. Kita harap pusat bantu juga untuk Meno dan Air,” harapnya.

Selanjutnya, dinas lain semisal Dinas Pariwisata maupun DLHPKP dapat masuk untuk mempercantik kawasan. Misalnya menyediakan sarana dan prasarana untuk memanjakan para wisatawan yang datang.

“Ya setelah itu dinas lain bisa masuk. Misalnya taruh kursi di sana atau tanam pohon. Karena pariwisata ini harus dikerjakan keroyokan,” pungkasnya.(iko)