in

Kata TGB soal Pembakaran Bendera Berisi Kalimat Tauhid dan Ide Khilafah

TGB Zainul Majdi

kicknews.today – Media kembali ramai memperbincangkan masalah pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid oleh oknum berseragam Barisan Ansor Serba Guna (BANSER) yang dinyatakan hal tersebut merupakan lambang dari organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang bertujuan pada membangun negara khilafah dan merongrong keutuhan NKRI.

Ulama muda jebolan Universitas Al Azhar, Mesir yang juga mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat dua periode, TGH M Zainul Majdi atau yang karib disapa Tuan Guru Bajang (TGB) turut juga mengomentari persoalan ini.

“Negara bangsa ini bagi saya adalah amanah dari ALLOH yang wajib dijaga dan dikokohkan. Inilah kesepakatan kita sejak era para pendiri bangsa. Karena itu saya tidak mendukung ide khilafah,” kata TGB yang disampaikan dalam laman media sosialnya, Selasa (23/10).

Dirinya meyakini Islam tidak memerintahkan satu sistem pemerintahan tertentu, namun memberi panduan nilai-nilai mulia yang harus terwujud dalam sistem apapun.

“Sistem republik demokratis yang kita sepakati dalam NKRI tak kalah valid dan sahnya dibanding sistem khilafah,”katanya.

Karena itu, nilai-nilai dasar yang diperjuangkan Islam telah ada, utamanya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, syura dan keadilan. Tinggal bagaimana kita mengimplementasikan nilai-nilai itu dalam kehidupan berbangsa.

“Bagi saya, NKRI adalah maslahat nyata, sedangkan khilafah adalah maslahat prediktif. Kaidah mengatakan, al-maslahah al-mutahaqqiqah an-naajizah muqaddamah ‘alal maslahah al-mustaqbalah al-marjuhah. Maslahat nyata, jelas dan telah terwujud, didahulukan diatas maslahat prediktif yang belum terwujud,” papar TGB.

Namun begitu, mengenai pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid adalah hal yang berbeda.

“Bagi saya, perbuatan itu bisa menimbulkan fitnah antar kita. Kalau tidak setuju, lipat dengan takzim dan serahkan kepada aparat,” cetus TGB.

Dijelaskan dia, kalau prilaku tercela menggunakan kalimat tauhid untuk tujuan kekuasaan tidak boleh menyebabkan setiap orang ikut melakukan perbuatan tercela.

“Segala anarkisme akan menghilangkan keadaban publik kita. Tahan diri, perbanyak silaturahmi,” tegasnya.

“Kalimat tauhid adalah persaksian kita di dunia dan akhirat. Padanya ada dua asma termulia. Asma ALLOH yang kepadaNya lah kita akan kembali dan asma RasulNya yang syafaatnya kita harap dan nanti. Muliakan asma-asma itu dengan tidak menjadikannya tameng mencari kekuasaan,” tutup TGB. (red.)