in

Warung Wakaf, Cara Bermuamalah Pasca Gempa Lombok ala ACT

Penandatanganan MoU pendirian Warung Wakaf ACT

kicknews.today – Pemulihan korban terdampak bencana gempabumi Lombok terus diupayakan. Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui Global Wakaf, Senin (15/10), mendirikan Warung Wakaf yang merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi ritel.

Branch Manager ACT NTB, Lalu Muhammad Alfian saat acara penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengelola Warung Wakaf Lombok, mengungkapkan bahwa jika masyarakat menjalankan syariat Islam dengan sungguh-sungguh terutama di bidang muamalah, pastilah masyarakat akan jauh lebih sejahtera.

“Terutama jika kita kelola dengan cara berjamaah, akan banyak mendatangkan manfaat. Pengelolaan wakaf memang harus demikian, dikelola bersama untuk kemaslahatan umat,” ungkapnya.

Dikatakan, penanggulangan gempa Lombok tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, karena dalam prosesnya banyak hal yang perlu dipulihkan.

Menurutnya, pemulihan ekonomi dinilai sangat penting karena berangkat dari ekonomi yang baik dan sehat, maka masyarakat yang terdampak gempa akan berangsur-angsur membaik, bahkan dapat lebih baik dari sebelum gempa.

Dijelaskan, Warung Wakaf sendiri memiliki mekanisme pengelolaan tersendiri. Dimana ACT menjadi supervisor, sementara kelompok masyarakat melalui pengelola masjid dan mushalla akan menjalankan aktivitas penjualan.

“Nantinya keuntungan akan dibagi kepada masyarakat sekitar. Karena ini tujuan umum dari Warung Wakaf. Ini bukan bisnis namun kemanusiaan,” jelasnya.

Warung ini, lanjut Alfian, tidak memiliki rentang waktu pelaksanaan. Sehingga jika pengelolaannya dilakukan secara baik dan benar, tentu akan mendatangkan banyak manfaat.

Sementara untuk menjaga kualitas pengelolaan yang ideal, maka ACT akan selalu mendampingi masyarakat, mulai dari ketersediaan barang dagangan hingga sistem pengelolaan yang berbasis syariah.

Selain itu, warung yang pada tahap awal ini akan berdiri di 10 lokasi yang tersebar se-Pulau Lombok, dalam beberapa waktu ke depan ditargetkan akan dapat beroperasi.

“Karena ini dikelola oleh pengurus masjid dan musholla, tentu kami harapkan masjid dapat menjadi pusat kebangkitan umat, mulai dari dakwah hingga muamalah yang sesuai dengan tuntunan Islam,” bebernya.

Sementara salah satu warga pengelola Warung Wakaf Mushalla Nurul Huda NW Rampi Lombok Barat, Dedi Haris Sandi mengungkapkan bahwa warung itu nantinya akan dikelola oleh pengurus mushalla.

Dikatakannya, Warung Wakaf ini akan menjadi penopang ekonomi masyarakat sekitar, tak hanya bagi pembeli namun juga masyarakat yang memiliki warung-warung kecil di sekitar warung wakaf.

“Warung wakaf ini nantinya akan menjual barang dengan harga grosir dan akan membina warung kecil lain di sekitarnya, sehingga tidak akan merasa tersaingi melainkan saling mengisi,” ujarnya.

Pihaknya menyampaikan ucapan terima kasih kepada ACT yang selama ini hadir di Lombok, mulai dari tanggap darurat, recovery, hingga masa rehabilitasi.

Karena bagi Dedi, percuma masyarakat dibangunkan rumah yang baik, namun secara ekonomi masyarakat belum sejahtera.

“Kami khawatirkan nantinya akan ada kelangkaan bahan pokok, karena banyaknya masyarakat yang membutuhkan secara serentak. Namun karena ada warung wakaf ini, rasa khawatir itupun hilang,” tuturnya. (red)

Tinggalkan Balasan