in

Semalam Gempa 5,2 SR Kembali Guncang Lombok-Sumbawa, Sampai Kapan?

Episentrum Gempa di Lombok-Sumbawa

kicknews.today – Semalam gempa dengan magnitude cukup besar pada 5,2 SR tercatat kembali guncang Lombok dan Sumbawa pukul 00:57:21 WIB dengan episentrum gempa berada pada posisi -8.28 LS dan 116.81 BT dengan kedalaman di 10 KM di wilayah 20 km Barat Laut Pulau Panjang NTB.

Pakar Geologi yang juga Dosen di Fakultas Tehnik Sipil, Universitas Mataram, Dr Didi S Agustawijaya kembali menjelaskan mengenai fenomena ini untuk menjawab pertanyaan masyarakat, sampai kapan gempa di Lombok dan Sumbawa akan terjadi.

Dijelaskan Didi sebelumnya, saat ini aktivitas sesar utara (Sesar Flores Back Arc) sudah mulai memasuki masa silent atau masa tidur. Tapi tidak menutup kemungkinan masih bisa terjadi gempa-gempa dengan skala kecil dengan tenggang waktu yang tidak sesering pada saat sesar tersebut benar benar aktif sejak 29 Juli 2018 lalu hingga tercipta ribuan kali gempa susulan dengan periode yang singkat.

“Saat ini untuk di Lombok dari aktivitas di utara sudah menuju silent, bukan berakhir,” tegasnya.

Hal ini dijelaskan dia karena zona retakan yang tersebar di beberapa titik di utara. Tetapi saat ini menurutnya patahan-patahan batuan di dalam bumi tersebut sudah berangsur mulai solid dengan melihat intensitas dari kegempaan yang jarang.

Namun demikian, dia mengingatkan agar kita semua memahami bahwa gempa yang terjadi memiliki sifat periodik yang cukup panjang. Waktu yang dibutuhkan lempeng untuk menciptakan gempa dengan kekuatan besar bervariasi. di Lombok misalnya periodiknya 20 tahun dan kelipatannya.

“Jadi periodenya paling pendek itu 20 tahun. Periode itu bisasanya berlaku untuk kelipatannya. Ingatan inilah yang harus disampaikan terus menerus ke generasi berikutnya seperti di Jepang, maka jika kita merawat ingatan itu, diharap dapat menciptakan kesadaran mitigasi yang sistematis,” jabarnya dalam kesempatan diskusi bersama kicknews.today pekan lalu.

Memasukan muatan lokal kebencanaan dalam kurikulum sekolah dianggapnya menjadi salah satu solusi untuk kita bisa merawat ingatan tentang kebencanaan.

“Yang kita andalkan sekarang hanya daya ingat. Lima Tahun kemudian bisa saja sudah lupa. Lalu kita tidak meninggalkan pengetahuan ini kepada generasi berikutnya yang bisa berakibat fatal,” kata Doktor jebolan University Of South Australia ini.

Tugas pemerintah daerahlah yang nantinya melalui regulasi yang tepat mewajibkan dinas maupun BNPB untuk mengingatkan juga melakukan simulasi mitigasi selain juga harus masuk dalam kurikulum sekolah sebagai bagian dari muatan lokal.

Selain itu, penyempurnaan rencana kontijensi kebencanaan juga harus dibuat oleh Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota di NTB bersama unsur terkait agar jika satu saat terjadi lagi bencana serupa, tidak bingung lagi harus berbuat apa. (red.)