in ,

Pasca Bencana Alam, Waspadai Bencana Sosial…!

Seorang anak bersepeda di antara puing reruntuhan rumahnya yang hancur akibat gempa

kicknews.today – Saat ini bencana alam gempabumi sedang berlangsung di beberapa tempat  seperti di Lombok yang sudah memasuki bulan ke tiga pasca bencana dan kini di Sulawesi Tengah, Palu, Donggala dan Mamuju yang aktifitas sesar gempanya mulai aktif dan dibarengi dengan peristiwa tsunami.

Namun pasca bencana alam yang terjadi, yang tidak kalah mengerikan ialah bencana sosial akibat rangkaian dampak dari bencana alam yang terjadi seperti kasus peningkatan jumlah angka kemiskinan, wabah penyakit dan lain sebagainya.

Hal ini dikatakan oleh ketua Jaringan Relawan Independen (JARI), Paox Iben Mudhaffar di Mataram, Minggu (30/9). Hal ini dijelaskan dia dari pengalaman selama tiga bulan mengelola jaringan relawan non pemerintahan yang bergerak di Lombok dan Sumbawa.

“Bencana alam bisa menimbulkan bencana sosial jika tidak tertangani dengan baik,” katanya.

Jadi menurutnya, tahap-tahap penanganan bencana alam itu harus tepat untuk menghindari terjadinya bencana sosial. Bentuknya bisa sangat banyak apalagi dengan iringan bencana alam yang besar seperti di Lombok dan Sulawesi tengah saat ini. Dampaknya secara langsung bisa seperti konflik sosial, konflik ekonomi, konflik politik dan juga akan banyak terjadi yatim piatu sosial.

“Orang sudah kehilangan rumah, harta kehilangan harapan dan uang. Kemana mereka akan dapatkan itu kalau untuk makan saja susah. Akhirnya jadi pada jual tanah dan jadi TKI atau TKW ke lauar negeri. Lalu anak-anak yang ditinggalkan bagaimana? siapa yang akan bertanggung jawab?” tanyanya.

Sementara mereka tidak punya rumah maupun perlindungan, gizi tidak terpenuhi. Kasus stunting bisa saja meningkat karena kekurangan gizi dan menjadi abnormal secara fisik dan mental dan kecerdasan.

Maka menurutnya, antisipasi-antisipasi yang demikian harus dilakukan mulai dari saat ini. Tata penanggulangan bencana ini harus benar-benar dilakukan secara tepat.

“Saya kira pemerintah daerah harus sangat proaktif. Kuncinya tentu di pemerintah daerah, karena yang paling paham wilayah adalah pemerintah daerah. Orang mau bantu dari lembaga manapun selayaknya berkoordinasi. Jadi pemetaan ruang sosial menjadi sangat penting,” jelasnya.

Ditambahkan, pemerintah daerah seharusnya punya data sosial kebencanaan, bukan hanya data fisik mengenai bencana. Misalnya prediksi mengenai dampak paling buruk akan terjadi di daerah mana dan bagaimana antisipasinya seharusnya sudah difikirkan.

“Di beberapa wilayah seperti Sambelia misalnya, itu tidak ada gempa saja musim kemarau mereka kekeringan, musim hujan kena banjir bandang, sekarang ditambah lagi gempa. bagaimana antisipasinya? apakah orang harus direlokasi atau kalau tetap di situ bagaimana antisipasinya?,” kata Paox.

Maka program-program sosialnya harus dijalankan. Bukan mencari celah bagaimana tanggung jawab pemerintah pusat misalnya. Karena sebenarnya dana sudah ada, tinggal bagaimana pemerintah daerah ini memanfaatkan. Tentu dengan mekanisme yang benar. Kapan hunian tetap mulai dibangun dan untuk hunian sementara seperti apa, hal tersebut harus terkonsep.

“Usia rentan harus menjadi perhatian serius seperti anak-anak dan manula. Anak-anak lebih dari dua bulan tinggal di luar rumah bisa kolaps. Ini akan berdampak langsung pada orang tuanya,” kata dia.

Untuk antisipasi-antisipasi yang demikian, Pemda harus punya jawaban. Soal nanti bagaimana teknis penyelesaian baru nanti pentingnya semua terlibat seperti pemerintah pusat, lembaga yang lain bisa membantu kalau Pemda sudah punya pemetaan masalah yang jelas.

“Di Kecamatan apa hingga dusun apa butuh apa, ini harus jelas. Misalnya pakai konsep Dasawisma karena sekarang misalnya banyak RT-RW atau dusun bisa jadi tidak berlaku karena orang cenderung berkumpul dengan keluarga masing-masing,” katanya.

Untuk itu, maka hunian sementara bisa disusun dengan konsep dasawisma. 10 hunian sementara per 10 keluarga yang kemudian dikelola membuat rancangan apa dan tinggal di mana. Bagaimana kebutuhan dasarnya bisa terpenuhi seperti air dan lain sebagainya.

“Bencana bisa jadi kesempatan untuk kita mulai berbenah menuju yang lebih baik atau bisa jadi pemicu bencana yang lebih besar kalau kita salah dalam mengelolanya,” tegas dia. (red.)