Trauma Gempa Susulan, Warga Gelar Ibadah Jumat di Lapangan

kicknews.today – Rentetan gempabumi susul-menusul mengguncang Pulau Seribu Masjid. Warga Desa Lingsar, Lombok Barat lebih memilih melaksanakan ibadah Jumat di lapangan desa.

Bayangan kekhawatiran menghiasi raut wajah jamaah Jumat, pasca gempa susulan berkekuatan 6,2 Skala Richter pada Kamis (9/8) pukul 13.20 Wita kemarin, yang telah membuat retak menara masjid Qamarul Huda, dimana selama ini menjadi tempat mereka menghadap Sang Maha Pencipta.

Trauma untuk berlama-lama di dalam ruangan menjadi penyebab mereka lebih memilih berpanas-panasan di bawah terik matahari.

Seorang pemuda sempat dengan senyum membisiki kawannya, mengomentari fenomena saat itu.

“Hitung-hitung latihan di Padang Mahsyar,” celetuknya.

Terpantau, karena terik matahari saat itu membuat para jamaah memicingkan mata, mendengarkan khutbah yang dibacakan sang khatib. Dimana sebelumnya mereka terbiasa beribadah masjid yang teduh.

“Warga masih trauma. Apalagi menara masjid mengalami retak,” tutur Adit, salah seorang jama’ah.

Dalam khutbahnya, khatib H. Adnan menyampaikan sisi lain dari suatu musibah dan hikmah terjadinya bencana.

Dikatakan, musibah seperti yang saat ini terjadi dapat pula dimaknai sebagai sebuah teguran dari Sang Khaliq, agar manusia kembali kepada kesadaran Ilahiyah.

“Membuat hati kita menjadi lembut. Salah satu nilainya adalah kesabaran dan keikhlasan itu,” ungkapnya.

Di lain tempat, fenomena yang serupa juga terjadi di Dusun Teloke Desa Senteluk Kecamatan Batulayar. Mereka memilih membangun tenda darurat sebagai tempat ibadah Jumat.

Walau kondisi masjid di tempat mereka rusak ringan, namun warga yang trauma sepakat untuk melaksanakan Jumatan di dekat pengungsian.

“Kami buat tenda untuk solat Jumat karena warga masih trauma. Jumlah warga yang mengungsi di sini hampir ratusan kepala keluarga,” sebut Zulkifli.

Sementara Bupati Lombok Barat H. Faozan Khalid yang didaulat menjadi khatib di Masjid Al-Munawwarah Desa Selat Kecamatan Narmada, dalam khutbahnya menyampaikan agar kita senantiasa bersabar menerima cobaan dan ujian.

“Saat-saat ini kita sedang berduka, kita harus sabar menghadapinya,” kata Faozan. (ir)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat