Hilang 800 Tahun, Manuskrip Tafsir Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani Ditemukan di Vatikan

kicknews.tiday – Dunia akademik dan pengamal tarekat (tasawuf) gempar dan terkagum-kagum. Bagaimana tidak? Naskah karya besar Waliyullah al-Quthb Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani yang selama 800 tahun menghilang (tanpa ada yang mengetahui), berhasil ditemukan oleh cucu ke-25-nya Syeikh Dr. Muhammad Fadhil di Perpustakaan Vatikan, Roma, Italia.

Manuskrip yang ditulis Wali Quthb al-Masyhur Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani itu berisi 30 juz penuh dan tersimpan secara baik di perpustakaan tersebut, seperti dilansir muslimmoderat.

Tak ada yang menyangka sebelumnya bahwa Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani menulis kitab tafsir al-Quran 30 juz, yang mengulas ayat-ayat al-Quran.

Setelah penemuan itu, Tafsir Al-Jailani berbahasa Arab telah diterbitkan dalam enam jilid oleh Markaz Al-Jailani, Turki. Dan saat ini telah berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (Melayu) menjadi 12 jilid. Dimana Markaz Al-Jailani Asia Tenggara hingga saat ini baru mencetak dua jilid pertama.

Cucu ke-25 Sang Waliyullah al-Quthb, Syekh Dr. Muhammad Fadhil dalam pembukaan Kitab Tafsir Al-Jailani yang ditelitinya menuturkan sebagai berikut:

Saya tumbuh besar di bawah pendidikan kakek saya Sayyid Syarif al-Alim al-Muqtadabih wa al-Quthb al-Kamil asy-Syaikh Muhammad Shiddiq Jalilaniy al-Hasaniy. Ayah saya bernama Sayyid Syarif al-Alim al-Allamah wa al-Bahr al-Fahhamah Syaikh Muhammad Faiq Jailaniy al-Hasaniy.

Setelah saya mendatangi Madinah al-Munawwarah dan tinggal di kota ini, saya pun mulai mencari kitab-kitab Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy Radhiyallahu ‘Anhu pada tahun 1977 M di Madinah al-Munawwarah dan kota-kota lainnya sampai tahun 2002 M.

Setelah tahun itu, saya menghabiskan seluruh waktu saya untuk mencari kitab-kitab sang Syaikh Radhiyallahu ‘Anhu, dan sampai hari ini saya masih terus melanjutkan pencarian itu.

Saya telah mendatangi sekitar lima puluh perpustakaan negara dan puluhan perpustakaan swasta yang terdapat di lebih dari 20 negara. Bahkan ada beberapa negara yang saya datangi sampai lebih dari dua puluh kali.

Dari proses panjang itu saya berhasil mengumpulkan tujuh belas kitab dan enam risalah yang salah satunya adalah kitab tafsir ini yang menurut saya, tidak ada bandingannya di seluruh dunia.

Dari perjalanan saya mendatangi beberapa pusat-pusat ilmu pengetahuan, saya pun mengetahui bahwa ada empat belas kitab karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy yang dianggap punah. Oleh sebab itu, saya terus melakukan pencarian kitab-kitab tersebut di pelbagai perpustakaan internasional setelah kitab tafsir ini selesai dicetak dan diterbitkan, insyaAllah.

Sungguh saya sangat bergembira dan bersyukur kepada Allah SWT ketika saya mengetahui bahwa jumlah lembaran tulisan karya kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy radhiyallâhu ‘anhu yang berhasil saya kumpulkan mencapai 9.752 lembar. Jumlah itu tidak termasuk tulisan-tulisan yang akan kami terbitkan saat ini dan beberapa judul yang hilang. Tentu saja, semua ini membuat saya sangat gembira dan bangga tak terkira kepada kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy r.a..

Ada sebuah pengalaman menakjubkan yang saya alami ketika saya mendatangi negeri Vatikan untuk mencari karya-karya sang Syaikh di perpustakaan Vatikan yang termasyhur. Ketika saya memasuki negara Vatikan, petugas imigrasi bertanya kepada saya tentang alasan saya mengunjungi Perpustakaan Vatikan.

Pertanyaan itu dijawab oleh seorang kawan asal Italia yang mendampingi saya dengan mengatakan bahwa saya sedang mencari buku-buku karya kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy. Saya kaget ketika tiba-tiba saja, petugas itu langsung berdiri dan berhormat seraya berkata: “Ya, ya, Sang Filsof Islam, Abdul Qadir al-Jailaniy”.

Setelah saya memasuki Perpustakaan Vatikan, saya menemukan pada katalog perpustakaan dan beberapa buku yang ada di situ sebuah tulisan dalam Bahasa Italia yang berbunyi: “Filsuf Islam”, dan dalam Bahasa Arab: “Syaikh al-Islâm wa al-Muslimîn”.

Dua gelar ini tidak pernah saya temukan di semua perpustakaan yang ada di tiga benua kecuali hanya di sini. Di Perpustakaan Vatikan saya juga menemukan sebuah tulisan tentang Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy yang berbunyi: “Sang Syaikh Radhiyallahu ‘Anhu membahas tiga belas macam ilmu”.

Kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Bagaimana mungkin, karya-karya monumental Syekh Abdul Qadir Al-Jailani justru tersimpan rapi di perpustakaan di Vatikan? Kemana saja ahli-ahli sejarah kita? Mengapa karya sehebat itu “hilang” selama berabad-abad? Jangan-jangan selama ini lebih fasih orang Katolik mempelajari karya-karya Syekh Abdul Qadir Jailani daripada kita yang setiap bulan ikut Manaqib Syekh Abdul Qadir?

 

Editor: M. Tajir Asyjar

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat