in ,

Lalu Muhammad Zohri sang ‘Juara Dunia yang Tak Dirindukan’

Lalu Muhammad Zohri

kicknews.todayMan jadda wa jadda, barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil, Insya Allah. Lalu Muhammad Zohri contohnya.

Siapa yang menyangka seorang anak yatim piatu dari pelosok negeri nun jauh di sana, dari Dusun Karang Pansor, Desa Pemenang Barat, KecamatanPemenang, Lombok Utara keluar sebagai juara lomba lari tingkat dunia pada ajang kompetisi lari 100 meter atletik International Association of Athelthic Federation (IAAF) 2018 di kota Tampere, Finlandia pada, Rabu (11/7) waktu setempat.

Sebuah kemenangan yang sangat mengejutkan. Tidak pernah diprediksi sebelumnya bahkan penyiar dalam tayangan yang menyiarkan perlombaan itupun menyatakan demikian, “Owwh Indonesia, no one can predict of this event,” ujarnya.

Lalu Muhammad Zohri sama sekali tidak diperhitungkan lalu kemudian menggemparkan dunia. Mata media seketika beralih padanya. Menyoroti segala hal tentang dirinya terutama di negerinya sendiri di Indonesia ditengah hiruk pikuk persaingan politik pasca pilkada dan jelang pemilihan presiden, juga demam piala dunia yang sedang berlangsung yang masuk babak final. Lalu Muhammad Zohri seperti seorang juara yang tak pernah dirindukan.

Seseorang menulis di media sosialnya dengan tajuk ‘Bangga Menjadi Lombok Utara’ dengan nama akun Mora NTB Lalu menelaah bagaimana momentum itu tak dapat disangka. Bukan hanya karena Lalu Muhammad Zohri berasal dari desa yang tentu dalam latihanpun akan menuai banyak kesulitan tetapi posisinya saat perlombaan itu juga sangat tidak strategis.

“Jika Anda sudah menonton videonya, terlihat Zohri memenangi lomba itu dari lintasan (lane 8). Jalur ini bukanlah lintasan unggulan,” tulisnya.

Aturan IAAF (Federasi Asosiasi Atletik Internasional) nomor 166.3 mengatur, lintasan 3, 4, 5, dan 6 yang berada di tengah adalah lintasan unggulan, sedangkan 1,2, 7, dan 8 adalah lintasan cere. Ibaratnya, yang bertarung dari lintasan itu cuma pelari kebetulan belaka, peserta penggembira, pelari pelengkap.

Mereka yang berada di lintasan tengah, bisa melirik ke kanan dan kekiri para pesaingnya dengan lebih mudah. Dengan kerlingan mata, mereka bisa melihat seberapa kuat pesaingnya melempar kaki ke depan. Sementara yang di pinggir, perlu usaha ekstra.

Dalam setiap race atau populer disebut Heat untuk mencapai final, mereka yang dapat mencapai waktu tercepat akan ditaruh di lintasan paling strategis ini.

Oleh karena itu, dalam setiap kejuaraan atletik 100 meter yang resmi, junior ataupun senior, nyaris tak pernah ada pelari yang berhasil memenangkan lomba dari lintasan pinggiran ini.

Carl Lewis, Ben Johnson, Asafa Powell, atau pelari 100 m yang paling top sekarang, Usain Bolt, selalu memenangkan lomba dari lintasan tengah ini. Biasanya, lintasan ini dihuni oleh atlet AS, Afrika, atau Amerika Tengah. Asia berada di tepian. Selalu begitu.

Maka, ketika Zohri memulai final dari lintasan 8, tak ada satupun yang memperhatikan. Juga kamera. Semua tertuju pada duet AS Anthony Schwartz dan Eric Harrison yang berada di lintasan 3 dan 4.

Begitu pistol meledak di udara, semua pelari mengerahkan semua tenaga ke kaki-kaki mereka. Secara kasat mata, tiada yang lebih menonjol. Tiada yang tercecer. Namanya juga sudah final. Berebut medali emas. Berebut podium terbaik. Yang bertanding di situ adalah creme de la creme. Terbaik dari yang terbaik.

Dalam 20 meter terakhir, semua pelari masih sejajar. Tapi Zohri kemudian menyentuh garis finish pertama dengan catatan waktu 10,18 detik. Schwartz dan Harrison di urutan berikutnya dengan catatan waktu sama, 10,24 detik.

Ia sempat bingung ketika namanya menjadi pemuncak. Bahkan ketika duet pelari AS sudah memegang bendera, ia tak kunjung mengibarkan Merah Putih. Mungkin karena memang dia atau official tak menyiapkannya. Baru beberapa detik kemudian Merah Putih berkibar.

Kemenangan Zohri adalah kemenangan terbaik yang pernah dicapai oleh atlet Indonesia di pentas atletik dunia. Boleh jadi pula, dia adalah segelintir pelari yang dapat memenangkan lomba lari cepat ini dari lintasan pinggiran.

Lalu Muhammad Zohri dan Kisah Film Children Of Heaven

Banyak netizen yang bertanya, bagaimana cara Lalu Zohri berlatih? sedang kondisinya sangat memprihatinkan?

Rumahnya hanya berpagar bedek, kamarnya sedikit dilapisi kertas koran untuk menahan angin dan membatasi kebebasan nyamuk untuk keluar masuk dari kamarnya itu, bahkan dia berlatih di sekitar pelabuhan Bangsal dekat rumahnya tanpa sepatu karena memang tak punya. Padahal prestasi sang juara ini tidak hanya sekarang saja.

Lalu Zohri pernah beberapa kali meraih medali antara lain, 2 medali emas kejuaraan lari di Surabaya, 2 medali emas dan 1 perunggu di kejuaraan lari di Jayapura, 1 medali emas di kejuaraan lari di Jakarta, 2 medali emas dan 1 perak kejuaraan di jawa Tengah, 1 medali perunggu dan 1 perak di cabang PPLP lalu yang terakhir 1 Medali perak di kejuaraan tingkat asean di Singapura.

Medali Prestasi Lalu Zohri

Tapi semua prestasi itu seoalah tidak mampu membuka mata orang-orang di sekitarnya dan pemerintah bahwa jauh di sana, di sebuah dusun di kabupaten pemekaran yang baru saja berkembang, ada bibit juara yang akan mengharumkan nama bangsa dengan kekuatan dan kecepatan kakinya.

Seorang netizen dengan akun Fahmi Fajri berkomentar di akun youtube kicknews.today yang mengunggah bagaimana Lalu Zohri memenangkan perlombaan lari tersebut,” jadi ingat film children of heaven… Semangat, selamat dan terimakasih ZOHRI salam dari kami di Balikpapan Kalimantan Timur,” tulisnya.

Film Chldren Of Heaven berjudul asli dari bahasa persia Bachecha- Ye aseman ialah sebuah film yang sangat menginspirasi bagi pelari seperti Lalu Zohri.

Menceritakan tentang bagaimana dua saudara yang punya hanya satu sepatu karena hidupnya sangat pas-pasan sedang mereka harus bersekolah. Mereka selalu bergantian menggunakan sepatu yang juga sudah butut itu. Kecepatan berlari dua bersaudara itu terasah di sana, karena jika satu orang tidak cepat berlari maka saudaranya yang akan menggunakan separtunya akan terlambat masuk sekolah dan dimarahi gurunya. Ali dan Zahra nama kedua bersaudara ini.

Hingga kemudian Ali mengikuti perlombaan lari jarak jauh di sekolahnya dan berharap mendapat juara ketiga. Kenapa ketiga?

Karena hadiah juara ketiga itu adalah sepasang sepatu olahraga. Tapi sayang, Ali malah menjadi juara pertama pada perlombaan itu. Bukannya senang, tapi Ali justru sedih karena tidak mampu menepati janjinya kepada Zahra untuk jadi juara ketiga.

Lalu Muhammad Zohri kini Mendapat Segalanya

Kemenangan Lalu Muhammad Zohri pada ajang bergengsi lomba lari tingkat dunia ini kini membuahkan hasil. Presiden Jokowi Dodo (Jokowi) langsung membari ucapan selamat meskipun baru hanya melalui media sosialnya.

“Berlomba bukan sebagai unggulan, Lalu Muhammad Zohri membuktikan: Indonesia bisa memberi kejutan. Ia JUARA DUNIA lari 100 meter di kejuaraan dunia atletik IAAF U-20 di Finlandia, kemarin. Selamat untuk prestasi yang membanggakan!,” tulis Presiden Jokowi.

Namun berikutnya, Presiden Jokowi memerintahkan agar menteri PU-PR segera merenovasi rumah Lalu Zohri.

“Prestasi yang ditorehkan Zohri tentu sangat membanggakan kita semua, bangsa Indonesia. Terlebih lagi kita dapat melihat bagaimana Zohri tidaklah diperhitungkan sama sekali. Untuk prestasi yang diraih Zohri, saya telah memerintahkan Menteri PU dan Perumahan Rakyat untuk merenovasi rumah Zohri di Lombok,” kata Kepala Negara, Kamis (12/7).

Bahkan sebelum Presiden menyatakan itu, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara telah berjanji membangunkan sebuah rumah untuk Lalu Zohri. Dia juga ditawari untuk masuk TNI tanpa tes.

“Kami akan membangunkan rumah untuk Zohri. Saya tahu kondisinya, ini bentuk penghargaan terhadap atlit berprestasi,” kata Bupati Lombok Utara, H Najmul Akhyar.

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita mau berusaha untuk menggapainya. Kerja keras berdoa dan tetap semangat juga tidak berputus asa dengan keterbatasan ialah kuncinya. Kini lalu Muhammad Zohri dianggap sebagai pahlawan untuk negara karena membuat nama bangsa ini harum di mata dunia.

Lalu Muhammad Zohri adalah inpirasi bagi seluruh putra putri bangsa Indonesia yang kini hidup dalam keterbatasan. Karena ketika kita berusaha, maka hasil tidak akan pernah menghianati. InsyaAllah…

“Terima kasih atas doa Bapak Presiden dan seluruh rakyat Indonesia,” ucap Lalu Zohri di tengah kegemilangannya.

Penulis: Dani

Editor: Tuhfa

Tinggalkan Balasan