Cerita Sang Guru Olahraga Motivator Lalu Zohri

“Manusia memang bisa menyusun rencana, tapi Allah lah Sang Maha Pembuat Time Schedule”. Sepertinya inilah yang saat ini sedang dialami oleh L. Muhammad Zohri, peraih medali emas di ajang kejuaraan lari dunia IAAF U20 di Finlandia, Rabu (11/7), asal Pemenang Kabupaten Lombok Utara, NTB.

————————————————

kicknews.today – Sejak Kamis tanggal 12 Juli 2018 pekan lalu, Dusun Karang Pangsor Desa Pemenang Barat Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara, tepatnya di rumah L. Muhammad Zohri. Kampung yang biasanya sepi kini ramai di kunjungi masyarakat. Bahkan, beberapa pejabat negara seperti dari Kementerian PU-PR, Kementerian Dalam Negeri, unsur TNI/Polri, dan dari instansi pemerintahan serta perusahaan milik negara pun berdatangan.

Kedatangan mereka untuk menawarkan berbagai macam bantuan, seperti halnya Kemendagri yang menyiapkan jalur khusus bagi Lalu Zohri menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), kemudian sebagai Praja IPDN, dan tawaran lain dari berbagai pihak.

Tak ketinggalan, rumah reot warisan almarhum Lalu Ahmad Yani (orang tua Lalu Zohri) pun direhab. Lebih hebat lagi, Lalu Zohri rencananya akan dibangunkan sebuah rumah di atas lahan kosong yang akan diberikan pemerintah daerah setempat.

Sedangkan berbagai dampak prestasi Lalu Zohri yang merupakan anak seorang nelayan itu, yang bersentuhan dengan masyarakat sekitar, yakni gang yang langsung dirabat oleh TNI bersama Polri. Hal itu membuat masyarakat setempat merasa senang, karena bisa menikmati fasilitas jalan yang telah lama dinanti.

Namun ada sisi lain ketika bicara tentang Lalu Zohri. Laki-laki kelahiran tahun 2000 ini, awalnya tidak pernah berminat menekuni olahraga lari, melainkan dia sangat hobi main sepak bola.

Semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Lalu Zohri kerap menjadi perhatian guru olahraga nya, yakni Ibu Rosida. Hal ini karena Ibu Rosida melihat bakat Zohri di bidang lari.

“Saya sangat senang mendengar ketika anak didik menjadi juara, apalagi tingkat dunia, dan tercepat,” ungkap Ibu Rosida saat ditemui di kediaman, Jumat (13/7).

Dia menuturkan, semasa duduk di bangku kelas VII SMPN 1 Pemenang. Zohri sering dicandain karena sering datang sekolah sore hari hanya untuk bermain sepak bola.

Rosida pun sempat bertanya ke Zohri kenapa hobi main sepak bola, padahal dinilai tidak menjanjikan. Ibu Rosida pun menyarankan agar serius di bidang lari. Aneh, jawab Zohri, buat apa lari karena sangat membuat capek.

“Jika sore sering datang ke sekolah untuk main bola, tapi jalan kaki. Malah pernah jawab, buat apa lari, capek, coba main bola,” tutur Ibu Rosida.

“Coba main bola, bisa happy sambil tertawa,” lanjutnya menirukan jawaban Lalu Zohri.

Namun dengan rasa percaya diri, sang guru olahraga itu selalu memberikan motivasi dengan harapan bahwa nantinya Zohri bakal memilih lari. Tidak disangka-sangka, akhirnya Zohri menyerah dan mengakui ingin fokus bidang lari.

Mendengar pengakuan Zohri, guru kelahiran 12 Februari 1972 di Jotang Kecamatan Empang Kabupaten Sumbawa itu menambah semangat dalam pembinaan.

Tak lama kemudian, tepatnya bulan November 2015 Lalu Zohri pun lolos ikut Kejuaraan Daerah (Kejurda), dan mampu menyumbang dua medali emas kelas 100 dan 200 meter.

“Padahal, tidak ada latihan khusus, tapi keyakinan itu muncul dari postur tubuh Zohri,” kata dia.

Setelah itu, Zohri pun dipanggil PPLP pada November 2016 untuk mendapat pembinaan khusus. Saat itu Lalu Zohri telah menjadi siswa SMA 2 Mataram.

“Sebenarnya, anak ini  pemalu, pelajaran olahraga saat SMP jarang di ikuti, apalagi belajar teori. Itulah sebabnya dipanggil ‘Badok’ di kampungnya,”  tutur Rosida.

Karena itu Rosida berharap kepada Zohri, supaya bisa seperti ini seterusnya, tidak sombong dan tetap rendah hati.

Rosida menambahkan, Zohri merupakan anak yang sederhana karena memang terlahir dari keluarga kurang mampu. Dimana saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) telah ditinggal ibunya menghadap Sang Pencipta.

Bahkan, lanjut Ibu Rosida, pada waktu berlatih di Jakarta setahun lalu, Zohri kembali ditinggalkan oleh bapaknya.

“Kalau mengingat itu, sangat sedih. Mereka hanya tinggal ber tiga dengan sauadaranya di rumah sederhana. Tapi, setelah kini menjadi bintang olahraga dunia, banyak yang mengaku sebagai keluarganya,” tutup Rosida yang terlihat berkaca-kaca.

 

Reporter: Suparman

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat