in

Ini Fakta, Susu Kental Manis Ternyata Bukan Susu

Susu Kental Manis

kicknews.today – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia angkat bicara terkait produk susu kental manis yang beredar di pasaran, dimana susu kental manis bukan merupakan produk pengganti susu.

Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Doddi Izwadi menyebutkan, kandungan gula produk susu kental manis itu lebih tinggi dibandingkan kandungan proteinnya.

“Kental manis ini tidak diperuntukkan bagi balita. Namun perkembangan di masyarakat dianggap sebagai susu untuk pertumbuhan. Kadar gulanya sangat tinggi, sehingga tidak diperuntukkan untuk itu,” katanya, Rabu (4/7) kepada media.

Pihaknya juga menyesalkan tayangan iklan di televisi yang menampilkan seolah-olah menjadikan kental manis sebagai minuman bagi keluarga.

Diketahui, dalam Surat Edaran (SE) Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor HK.06.5.51.511.05.18.2000 Tahun 2018, tentang Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) terdapat empat larangan terkait peredaran susu kental manis.

Diantaranya dilarang disetarakan dengan susu dan menampilkan foto anak-anak berusia di bawah 5 tahun dalam bentuk apa pun.

Selain itu, dilarang memakai visualisasi bahwa produk susu kental manis setara dengan produk susu lain (susu sapi/susu yang dipasteurisasi/susu yang disterilisasi/susu formula/susu pertumbuhan) sebagai penambah atau pelengkap zat gizi.

“Kementerian Kesehatan telah menginformasikan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan selaku pengawas izin edar, untuk lebih memperhatikan produk kental manis agar tidak dikategorikan sebagai produk susu bernutrisi untuk menambah asupan gizi,” tegas Doddy Izwardi.

Demikian pula pelarangan penggunaan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh, untuk dikonsumsi sebagai minuman di label. Bahkan iklan susu kental manis juga dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak.

Untuk pelaksanaan SE BPOM tersebut, pada bagian akhir ditegaskan bahwa baik produsen atau importer dan distributor harus menyesuaikan produknya dengan surat edaran, paling lambat enam bulan sejak ditetapkan.

Dari hasil pantauan kicknews.today di sebuah retail modern di Kota Mataram, Kamis (5/7), dari sejumlah merek yang terpajang di etalase, tidak dijumpai produk yang menuliskan ‘susu’ pada label. Namun, masih terdapat produk yang menampilkan foto anak-anak. (djr)