in

Diberondong Pertanyaan tak Logis, Guru Honorer di Lombok Utara Dipecat

Ilustrasi guru honor dipecat

kicknews.today – Salah seorang guru honorer di SDN 3 Anyar Kecamatan Bayan Lombok Utara, Sarbiniwati belum lama ini dipecat sepihak. Indikasi pemecatan itu karena pihak sekolah menilai ia telah merugikan siswa dan tidak siap dipindah tugaskan mengajar bidang studi lain.

Sarbini yang dihubungi belum lama ini mengatakan bahwa dirinya diberhentikan pada tanggal 7 Juni 2018 ketika baru sembuh dari sakit. Menurutnya, alasan kepsek kala itu ia diduga telah merugikan siswa karena telat membagikan raport, hingga ketidaksiapannya dipindah sebagai guru bidang studi Agama Islam.

“Awalnya saya sakit selama satu minggu dan itu ada surat keterangan dokter, begitu saya masuk, dibilang saya merugikan siswa karena ketelatan saya bagi raport. Bagaimana bisa bagi raport, saya sedang di infuse di rumah sakit kok, terus saya dialihkan jadi guru Agama yang bukan basic saya,” ujarnya.

Guru yang telah mengabdi sejak tahun 2005 (ke berbagai sekolah di Kecamatan Bayan) ini juga sempat dibuat sakit hati, karena pertanyaan pribadi yang menjurus terhadap keyakinannya. Terlebih lagi, pemecatan tersebut tak dibarengi dengan SK Kepala Sekolah namun dikatakan secara lisan.

“Tanggal 21 April, di depan rapat, saya ditanyai dengan pertanyaan pribadi dan keyakinan yang seolah-olah menyudutkan saya di depan teman-teman, begitu,” ungkapnya.

Dirinya mengaku diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak semestinya ditanyakan di depan umum.

“Ibu bisa mengaji, bisa baca Iqro? Saya jawab tidak. Bisa sembayang? saya jawab bisa,” menirukan pertanyaan kepala sekolah.

“Dan ini yang sangat menyinggung, kenapa ibu bisa sembayang padahal ibu tidak bisa mengaji? Gitu katanya,” ucapnya.

Sejauh ini Sarbini bukan tanpa usaha memperjuangkan haknya, namun apa yang telah dilakukan justru berbuah nihil.

Dikatakan, pihak UPT Dinas Pendidikan dalam menangani kasus ini tidak pernah mempertemukan kedua belah pihak secara langsung, demikian pula halnya dengan Kepala Dinas Dikpora KLU yang melempar penanganan kasus ke bawahannya.

“Makanya dua kali UPTD manggil saya tetapi tidak ada hasilnya, karena pihak UPTD tidak berani mempertemukan saya dengan Kepala Sekolah ini,” ujarnya.

“Kemarin kita juga sudah ke Pak Kadis (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan KLU, red), beliau menyerahkan masalah ini sepenuhnya ke Kasi PTK dan Kabid dan UPTD. Berarti kembali lagi masalahnya ke UPTD,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi I DPRD Lombok Utara Ardianto, Senin (2/7), mengatakan akan memanggil kepala sekolah yang bersangkutan untuk meluruskan persoalan, termasuk pihak-pihak terkait dengan catatan apabila hal itu tidak kunjung dapat diselesaikan.

“Saya yang membidangi aparatur setidaknya tidak berharap ini terjadi. Kalaupun ada persoalan internal, kok bisa ada soal pecat-memecat,” kata Ardianto.

“Dari kronolgis yang kita dengar, dia dipindahkan ke guru bidang studi agama dan sebagainya yang tidak seperti kemampuannya. Ya wajar dia menolak, tetapi itu kan tidak mesti harus dipecat,” imbuhnya.

Politisi Hanuri ini berharap, sembari penanganan kasus dapat diselesaikan, agar Sarbini tetap masuk mengajar seperti biasa.

“Kalau ada pemecatan harus dikaji lebih lanjut. Nah, oleh karena itu saya harap Sarbini tetap masuk seperti biasa. Dan UPTD selesaikan dengan pihak sekolah, sehingga tidak terjadi pemecatan,” harapnya.

“Kalau nanti beberapa hari kemudian ini tetap berlanjut dan tidak ada penyeleseian, maka kami akan panggil. Kita tunggu informasinya. Intinya jangan sampai pecat-memecat, apalagi hanya guru honor. Mungkin lebih dulu dia jadi guru honor, daripada orang jadi kepala sekolah,” imbuhnya. (iko)