in

“Quick Count dan Real Count” Media untuk Menerima Perbedaan dalam Politik

Guru Besar Statistik di Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Khairil Anwar Notodiputro (Foto: Ist)

Oleh: Prof. Khairil Anwar Notodiputro*

 

Quick Count (QC) itu adalah statistik dan hasil penghitungan Komisi Pemilihan Umum (KPU) adalah parameter. Selalu ada beda antara statistik dan parameter.

Statistik itu berubah-ubah dari satu survei ke survei yang lain, karena itu hasil lembaga survei berbeda-beda. Perbedaan hasil itu adalah keniscayaan, bukan keburukan.

Walaupun statistik itu berbeda-beda dari satu survei ke survei yang lain dan hasilnya selalu berbeda dengan parameter, tetapi kalau dirata-ratakan semua hasil survei itu maka hasilnya akan sama dengan parameternya. Inilah sifat unik dan keunggulan dari statistik.

Asalkan survei-survei itu dilakukan berbasis contoh acak (random samples), maka rata-rata dari hasil survei itu akan konvergen ke parameternya.

Jadi QC konvergen ke RC asalkan QC didasarkan pada samples yang representatif. Ini yang dikenal dengan sifat takbias (unbiased).

QC itu tidak seperti hitung cepat yang dilakukan di RM Padang. Hitung cepat harga makanan di situ tidak boleh salah, tapi kalau QC selalu mengandung kesalahan. Jadi dalam QC, kesalahan itu adalah suatu keniscayaan, bukan keburukan.

Dalam bahasa Inggris ada dua kata yang berarti kesalahan, yaitu “mistake” dan “error”. Kesalahan yang terjadi misalnya pada hitung cepat di RM Padang disebut mistake. Sedangkan kesalahan yang terjadi pada QC disebut error. Mistake dan error adalah dua hal yang berbeda.

Apa beda kedua istilah itu dalam khasanah ilmu pengetahuan?

Mistake adalah kesalahan yang bisa dihindari, sehingga bisa ditiadakan. Sedangkan error adalah kesalahan yang tidak dapat dihindari, sehingga menjadi keniscayaan.

Ketika mahasiswa ditanya berapa 2+7 lalu dijawab 10, maka mahasiswa ini telah membuat mistake. Akan tetapi jika mahasiswa janji bimbingan dengan dosen pukul 7:00 dan mahasiswa tiba di ruang dosen pukul 7:01 atau pukul 6:59, maka mahasiswa itu membuat error. Yang pertama bisa dihindari sedangkan yang kedua tidak bisa dihindari.

Untuk memperjelas perbedaan kedua istilah itu, misalnya kita menyuruh dua anak dengan kecerdasan yang sama untuk menjawab 2+7, maka hasilnya harus 9. Jika hasilnya berbeda, maka yang terjadi adalah mistake.

Tetapi jika kita ambil dua butir jagung dari satu induk, lalu ditanam dengan cara yang sama dan dikendalikan secara ketat, maka hampir dapat dipastikan pertumbuhan keduanya berbeda. Inilah yang namanya error.

Lalu menjadi pertanyaan, jika Quick Count itu jelas mengandung kesalahan (baca: error). Apakah Quck Count itu ada gunanya?

Tidak perlu diragukan, pada saat pilkada kita masih menggunakan sistem pencoblosan manual seperti sekarang ini, maka Quick Count banyak memberikan manfaat.

Manfaat pertama adalah hasil Quick Count dapat mengobati rasa ingin tahu masyarakat terhadap hasil pilkada secara cepat.

Sistem pencoblosan yang manual cukup lama proses perhitungannya. Dengan mengetahui prediksi hasilnya, maka antisipasi bisa dilakukan.

Kedua, Quick Count dapat menjadi pendorong atau penekan terhadap KPU agar bekerja serius, hati-hati, dan jujur dalam penghitungan perolehan suata paslon.

Jika tidak, maka hasil Quick Count bisa menjadi pembandingnya. Perbedaan hasil Quick Count dan Real Count harus bisa dipertanggungjawabkan.

Ketiga, Quick Count dapat digunakan untuk mendidik masyarakat, agar melek statistik (statistics literate) atau sekarang disebut sebagai “statisticacy”.

Statisticacy merupakan ciri dari masyarakat moderen. Sebaliknya ciri masyarakat primitif adalah percaya pada mistik, rumor, atau fitnah, termasuk hoax.

Keempat, terbukanya lapangan kerja karena tumbuhnya industri lembaga survei, banyak ahli pengumpulan data, analis data, pemrograman, dan ahli lainnya terserap bekerja di lembaga survei. Jadi ada kontribusi terhadap geliat ekonomi kita.

Kelima Quick Count dapat menjadi pendidikan politik bagi masyarakat. Dimana perbedaan hasil QC yang selalu terjadi akan mengajarkan kepada masyarakat, bahwa berbeda itu biasa dan tidak perlu harus anarkhis. Sehingga akhirnya masyarakat akan mampu menerima perbedaan dalam politik.

 

*Penulis adalah Guru Besar Statistik di Institut Pertanian Bogor (IPB).