in

Jadilah Pemilih Cerdas!

Oleh : M. Zakiy Mubarok

 

Tak terasa, Pilkada mendekati hari H. Selain optimisme, harus diakui pula, saat inilah harap-harap cemas itu datang menghinggapi pasangan calon, tim sukses, dan para relawan yang berharap pada 27 Juni 2018 akan tampil sebagai pemenang. Harapan itu seakan makin tak menentu lantaran sejumlah lembaga survei merilis hasil yang beragam sejak beberapa minggu ini. Masing-masing lembaga survei pun mengunggulkan pasangan calon yang berbeda.

Hal itu tanpa sadar menjadi salah satu pemicu makin hangatnya suasana. Yang paling terasa adalah perang isu di media sosial yang makin kencang. Tak jarang, isu-isu tersebut bernada merendahkan pasangan calon kompetitornya. Inilah dinamika politik, meskipun agak bergerak di luar batas, terlebih dengan beredar atau tersebarnya selebaran black campaign yang menyasar salah satu pasangan calon.

Disini kemandirian pemilih diuji untuk memutuskan, kepada pasangan calon mana pilihan politik itu akan diberikan. Sikap politik ini penting dimiliki, mengingat masa depan suatu daerah salah satunya sangat bergantung kepada siapa yang memimpin. Dan siapa yang memimpin adalah cermin pilihan masyarakatnya. Cerdas pemilihnya, maka cerdas pula pemimpin yang terpilih.

Dalam konteks Pilkada NTB, kita sudah memiliki pasangan calon yang siap saji dan siap pilih di “meja hidangan” Pilkada 27 Juni 2018. Mereka adalah, H. Suhaili FT, SH – H. Muh. Amin, SH., M.Si., TGH. Ahyar Abduh – H. Mori Hanafi, SE., Dr. H. Zulkieflimansyah, SE., M.Sc.,  – Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalillah, M.Pd., dan H. Moh. Ali Bin Dachlan – TGH. Lalu Gede Muhamad Sakti Wirasakti Amir Murni., Lc., MA.

Keempat pasangan calon tersebut, selama masa kampanye yang lalu, telah menunjukkan eksistensi politiknya dengan turun ke masyarakat dan memaparkan visi serta misinya dalam debat terbuka yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah Provinsi NTB. Publik tentu bebas menilai, pasangan calon mana yang dianggap paling layak untuk memimpin daerah ini lima tahun kedepan 2018-2023.

Namun demikian, kita hendaknya tetap mengedepankan pertimbangan yang objektif, rasional, dan demi kemaslahatan bersama. Pasalnya, usia daerah kita sudah lebih setengah abad. Selama itu pula telah terjadi pergantian kepemimpinan. Dalam setiap pergantian pimpinan, daerah ini selalu mencatat sejarah baru dalam pembangunan. Terlebih di masa kepemimpinan Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. HM Zainul Majdi selama sepuluh tahun terakhir ini. Hampir semua kita warga NTB tak bisa menampik prestasi kepemimpinan TGB yang gemilang itu. Pembangunan di daerah ini di masa kepemimpinan TGB maju pesat. Dalam skala nasional dan bahkan internasional, TGB diakui sebagai kepala daerah yang berhasil. Inilah yang harus menjadi pertimbangan pemilih saat akan memutuskan pilihan politiknya di bilik suara nantinya. Keberlanjutan dan kesinambungan pembangunan dari TGB kepada penggantinya kelak.

Masyarakat tidak boleh apatis dengan Pilkada. Merujuk pada hasil survei yang dilakukan oleh Tim Lembaga Riset Sosial, Politik, dan Agama (LARISPA NUSANTARA) yang dilakukan pada medio 10 – 14 Juni 2018 lalu, sebanyak 23 persen responden menyatakan tidak tahu akan memilih pasangan calon mana. Sedangkan yang memilih untuk merahasiakan jawabannya sebesar 24 persen. Sisanya, pilihan tersebar di semua kandidat.

Survei dilakukan se-Pulau Lombok dengan melibatkan lebih kurang 600-an responden. Tehnik penarikan sampel menggunakan metodologi stratifikasi sistematic random sampling. Dari jumlah responden tersebut yang menyatakan pilihannya tidak akan berubah sampai hari pencoblosan sebanyak 43 persen dan yang masih mungkin berubah sebesar 33 persen.

Survei juga menemukan dari pemilih yang menjawab tidak tahu dan merahasiakan pilihannya itu, sebesar 68 persen menyatakan tidak terpengaruh oleh uang atau hadiah. Artinya, kita berharap jawaban ini merepresentasikan tidak berdayanya money politik dalam mempengaruhi pilihan pemilih dalam Pilkada NTB 2018 kali ini. Wallahualam.

 

Penulis adalah Anggota Dewan Pembina LARISPA NUSANTARA