in

Akibat Gizi Buruk, Tiga Jurus Penanganan Ini Dipakai Pemerintah Lobar

Bupati Lobar pukul gong saat luncurkan program 3 jurus atasi masalah kesehatan

kicknews.today — Pemerintah Kabupaten Lombok Barat sangat serius menindak lanjuti program nasional penangulangan stunting, TBC, dan imunisasi.

Karena itu, dari hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Dinas Kesehatan Lombok Barat tidak menunggu lama setelah Rakernas langsung melaksanakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) dan meluncurkan Gerakan Tiga Jurus Selamatkan Generasi Lombok Barat untuk menangani secara serius permasalahan stunting (pendek), tuberkolosis (TBC), dan peningkatan kapasitas imunisasi.

Peluncuran tiga fokus utama program tersebut dihelat di Bencingah Agung Kantor Bupati Lobar pada hari Senin (25/6)dengan mengundang seluruh kader posyandu, kepala desa, camat, dan seluruh anggota dan organisasi pada profesi bidang kesehatan lainnya.  Turut diundang juga para tuan guru yang tergabung dalam dai kesehatan Lobar.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan, H. Rahman Sahnan Putra saat membuka acara, ada tiga persoalan yang dihadapi masyarakat Lobar terkait kesehatan anak, yakni stunting (pendek), tuberkolosis (TBC), dan peningkatan kapasitas imunisasi. Ketiga hal tersebut merupakan sebuah persoalan yang orgun dan membutuhkan perhatian dari semua pihak.

“Intervensi penanggulangan 3 hal tersebut, terutama soal stunting ada 2 macam, yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif,  artinya dilakukan oleh jajaran kesehatan berupa penanganan teknis kesehatan dan pengobatan, namun hanya berkontribusi 30%. Sedangkan intervensi sensitif adalah intervensi non kesehatan berupa jaminan ketersediaan pangan, perbaikan sanitasi, air bersih serta keamanan pangan. Intervensi ini berkontribusi 70% terhadap penanggulangan stunting. Artinya ini membutuhkan kesadaran dan aksi seluruh pihak,” jelasnya.

Bupati Lobar, H. Fauzan Khalid yang mulai aktif setelah cuti kampanye dan masuk kerja pada hari pertamanya (25/6) mempertegas persoalan kesehatan ini.

“Ini bukan hanya tugas pemerintah, namun semua pihak. Saya harap nanti pemerintah desa juga  menyisihkan alokasi dana desa dari APBD kita untuk membantu penanganan stunting ini,” tegasnya.

Menurut catatan Dinas Kesehatan, Kabupaten Lombok Barat memiliki angka stunting yang cukup tinggi. Tahun 2007 lalu sudah mencapai 49,8%. Namun di tiga tahun terakhir berhasil diturunkan menjadi 32,01%. Penurunan drastis tersebut membuat Bappenas tertarik menjadikan Lobar sebagai model di tingkat nasional.

Rahman sendiri selaku Kadis Lobar mengaku telah berjuang keras bersama jajarannya untuk menurunkan angka tersebut.

“Dalam rangka itu, kita membangun sistem informasi seperti e-Pukesmas, e-Pustu, dan e-Posyandu serta  menguatkan aspek pelayanan ke masyarakat, terutama di 1000 hari pertama kehidupan,” jelasnya.

Stunting ini oleh WHO sendiri dianggap sangat membahayakan bagi pertumbuhan generasi. Dan bagi pemerintah pusat menjadi peringatan dini di tengah isu bonus demografi di tahun 2030-2035 mendatang.

Stunting berdampak terhadap fisik berupa lamban tumbuh, pendek, rentan infeksi, dan pada aspek otak, yaitu lemahnya kemampuan kognitif, bahkan dipastikan juga berdampak pada penyakit degeneratif stroke, hipertensi, diabetes, dan penyakit lainnya. (ir)