Sejarah Lebaran Topat “Sasak” Lombok dan Filosofinya

kicknews.today – Secara umum “Lebaran Topat” (penyebutan ‘ketupat’ bagi mayoritas masyarakat Sasak Lombok), merupakan salah satu hasil akulturasi kebudayaan Indonesia dengan Islam. Lebaran Topat atau yang juga dikenal dengan istilah lain “Syawalan” sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia di berbagai daerah, dari mulai Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, dan lainnya termasuk di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat yang dikenal dengan “Pulau Seribu Masjid”.

Tradisi ini dilaksanakan pada hari ketujuh setelah Hari Raya Idul Fitri yakni tanggal 8 Syawwal kalender hijriyah.

Perayaan Lebaran Topat hanya dapat dijumpai pada masyarakat Indonesia dimana tujuan pelaksanaannya sama dengan tujuan berhari raya Idul Fitri, yakni saling mema’afkan dan bersilaturahim.

Istilah saling mema’afkan ini oleh masyarakat Indonesia lebih dikenal dengan istilah “Halal Bihalal”. (baca juga: Bung Karno dan Asal-usul, Makna serta Kegiatan Halal bi Halal), dan ada juga sebagian tokoh agama di Pulau Lombok seperti TGH. Nuruddin Husni Karrah, MA. (Almarhum), TGH. Ma’rif Makmun Pimpinan Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Darek, dan TGH. Patompo Adnan, Lc., MA. pimpinan Ponpes Nurul Ilmi Desa Ranggagata, Praya Barat Daya, menggunakan istilah “Ihlal bil Ihlal”.

Di masyarakat Sasak Lombok khususnya Kota Mataram, tradisi Lebaran Topat mulai bergema dari sebuah pesantren yakni Pesantren Al-Amin Pejeruk, Ampenan, yang didirikan oleh seorang guru tasawuf bernama Tuan Guru Haji (TGH) Musthafa Faisal dan TGH. Muhammad Aminullah Hamid Al-Makki.

Dituturkan, para santri yang tinggal di pondokan seputar kediaman Tuan Guru Pejeruk selama masa belajar. Mereka diijinkan pulang beberapa hari menjelang Hari Raya Idul Fitri pada 1 Syawwal.

Setelah seminggu di kampung halaman mereka kembali ke Pesantren Pejeruk, pada saat itulah Tuan Guru Pejeruk selalu menghidangkan masakan istimewa bersama ketupat sebagai makanan utama, untuk menyambut kedatangan santri-santrinya. Itu sebagai sebuah wujud syukur berkumpulnya kembali keluarga besar pesantren.

Sesampunan enam jelo tiang pelinggih laksanayang puase bulan Syawwal sak jari pelengkap puase Ramadhan, silaq tengiring Lebaran Topat (Setelah enam hari bulan Syawwal kita puasa sunnah sebagai pelengkap puasa Ramadhan, Mari kita Lebaran Topat, red),” ucap Tuan Guru setiap para santri yang diantar orang tuanya kembali. Nah, sejak itulah tradisi Lebaran Topat dimulai.

Baca Juga:

Mengingat masuknya agama Islam di Pulau Lombok dari Pulau Jawa, maka makna filosofi Lebaran Topat dapat kita telusuri pada kepercayaan masyarakat Jawa, yang mempercayai Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan istilah “ketupat”.

Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari kata bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti “mengakui kesalahan”. Sehingga dengan ketupat sesama muslim diharapkan mengakui kesalahan dan saling memaafkan, serta melupakan kesalahan dengan cara memakan ketupat tersebut.

Makanan ketupat menjadi simbol dalam masyarakat Jawa. Sehingga orang yang bertamu akan disuguhi ketupat pada hari lebaran, dan diharuskan memakannya sebagai pertanda sudah rela dan saling mema’afkan.

Nah, pada saat hari Lebaran Topat, ketupat yang dijadikan menu utama merupakan simbol bahwa semua orang mengaku salah.

Banyak makna filosofis yang dikandung dalam makanan topat (ketupat) itu. Bungkus yang dibuat dari janur kuning melambangkan penolak bala. Janur (busung dalam bahasa Sasak) artinya sejatine nur (cahaya), yang melambangkan kondisi manusia dalam keadaan suci setelah mendapatkan pencerahan (cahaya) selama bulan Ramadhan.

“Jadi, makna dari Lebaran Ketupat adalah kesucian lahir batin yang dimanifestasikan dalam tujuan hidup yang esensial,” kata Dr. Isfironi Fadjri, M.Ag., salah seorang dosen di Universitas Ibrahimy Sukorejo, Situbodo, Jawa Timur.

Sedangkan bentuk segi empat diartikan sebagai empat macam nafsu manusia, yaitu ammarah yakni nafsu emosional, lawwaamah atau nafsu untuk memuaskan rasa lapar, sufiah adalah nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah, dan muthmainah yaitu nafsu untuk memaksa diri. Keempat nafsu ini yang ditaklukkan orang selama berpuasa.

“Jadi, dengan memakan ketupat orang disimbolkan sudah mampu menaklukkan keempat nafsu tersebut,” imbuhnya.

Sebagian masyarakat juga memaknai rumitnya anyaman bungkus topat mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia.

Sedangkan warna putih topat ketika dibelah dua, mencerminkan kebersihan dan kesucian setelah mohon ampun dari kesalahan.

Sementara bahan baku isi topat yakni beras diharapkan menjadi perlambang kemakmuran setelah hari raya.

Mangan topat lek Suralage, Menawi lepat, nunas ampure.

(Makan topat di Suralage, bila ada kesalahan mohon dimaafkan). (djr)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat