in

Karya Seni Limbah Kayu dengan Sentuhan Jiwa dan Rasa dari Pulau Sumbawa

Suhu panggilan Ibrahim Has saat menunjukkan karya seni yang dia hasilkan dari limbah kayu

kicknews.today – Limbah kayu yang sehari-harinya kita jumpai di sekitar kita terkadang kita gunakan menjadi bahan pembakaran, untuk membuat api unggun dan sebagainya kemudian sia-sia menjadi abu. Namun itu tidak berlaku untuk Ibrahim Has, lelaki paruh baya pemilik “Rapulung Art” yang berada di Desa Dasan Anyar Kecamatan Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat. Limbah kayu ia sulap menjadi mahakarya yang demikian luar biasa dan berharga.

Limbah kayu yang berserakan di sekitarnya dan bahkan ia sampai mencari hingga ke tepi-tepi pantai, untuk dijadikan karya seni yang nantinya dibarter dengan pundi-pundi rupiah untuk menghidupi keluarganya.

“Rapulung Art” yang ia bentuk dua tahun terakhir telah menghasilkan kerajinan tangan dengan berbagai bentuk dan jenis serta dengan harga berpariatif yang sangat terjangkau.

“Saya mulai dan menekuni ini sekitar bulan April 2016 yang lalu, dan telah bayak yang kami produksi kerajinan tangan dengan alat yang seadanya,” ucap Suhu, sapaan akrabnya saat diwawancarai reporter kicknews.today di kediamannya, Rabu (20/6).

Ia menuturkan, karya yang banyak diminati warga dan beberapa turis mancanegara (Eropa) yang pernah mengunjungi artshop nya adalah “Tugu Sukur” yang merupakan ikon kebanggaan Kabupaten Sumbawa Barat.

Suhu juga menceritakan bahwa dirinya menggeluti pekerjaan yang menurut istilahnya “berjiwa setengah dewa” tersebut bukan tanpa alasan, melainkan ada filosofi dalam mengolah bahan-bahan kayu bekas dari alam semesta.

“Alam ini tidak akan pernah memberikan yang buruk di saat kita bisa memahami dan kita bisa membacanya. Ketika kita sentuh dengan jiwa dan rasa, maka itu akan menjadi sesuatu yang sangat berharga,” ujarnya berpilosofi sembari memperlihatkan produk-produk yang dihasilkan melalui tangan kreatifnya dan dengan alat seadanya.

Ironisnya, kemampuan seni Suhu (Ibrahim Has) tidak ditopang dan mendapat perhatian lebih dari dinas terkait di KSB.

“Kami pernah beberapa kali diundang dari Dinas Perindag dan Ekonomi Kreatif, namun tidak ada tindak lanjut dari mereka dan tidak ada kontribusi yang diberikan oleh mereka,” ungkapnya.

“Justru dari pemerintah desa yang menganggarkan kami walaupun ala kadarnya, dan kami sukuri, telah memberi kami perhatian,” tambahnya. (awi)

What do you think?

1000 points
Upvote Downvote

Tinggalkan Balasan