Kerajaan Pamatan yang Tertimbun Abu Samalas dan Jejak Penghuni Lombok Kuno

Gunung Rinjani Longsor, dan Gunung Samalas runtuh, banjir batu gemuruh, menghancurkan Desa Pamatan, rumah-rumah rubuh dan hanyut terbawa lumpur, terapung-apung di lautan, penduduknya banyak yang mati.

kicknews.today  Rinjani merupakan bagian dari Gunung Samalas yang meletus hingga melumpuhkan dunia pada tahun 1257. Superletusan itu mengakibatkan terbentuknya kaldera dan danau di Gunung Rinjani saat ini.

Salah satu literatur yang mengabadikan peristiwa letusan Samalas atau Gunung Rinjani purba tersebut ada di dalam Babad Lombok yang ditulis pada lembaran lontar. Beberapa bait dalam babad mengisahkan kengerian letusan Gunung Samalas di kompleks Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Selama bertahun-tahun, babad ini nyaris dilupakan dan mungkin dianggap sebagai dongeng belaka. Namun, penelitian sejumlah ahli gunung api baru-baru ini memastikan bahwa letusan Gunung Samalas sebagaimana digambarkan dalam babad itu ternyata fakta.

Bahkan, dampak dari letusan Gunung Samalas itu melampui imajinasi sang penulis babad. Letusan Samalas berdampak global dan diduga memicu kelaparan dan kematian massal di Eropa setahun setelah letusan.

“Ditemukannya ribuan kerangka manusia di London yang dipastikan berasal dari tahun 1258 kemungkinan berkaitan erat dengan dampak global dari letusan Gunung Samalas pada tahun 1257,” seperti ditulis dalam jurnal PNAS edisi akhir September 2013.

Tulisan di jurnal ini merupakan hasil penelitian 15 ahli gunung api dunia. Dari Indonesia yang terlibat adalah Indyo Pratomo, geolog dari Badan Geologi Bandung, Danang Sri Hadmoko dari Geografi Universitas Gadjah Mada dan  Surono, mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Sedangkan dari luar negeri yang terlibat meliputi 12 ahli dari berbagai kampus ternama di Eropa, di antaranya Frank Lavigne dari Université Panthéon-Sorbonne, Jean-Philippe Degeai dari Université Montpellier, Clive Oppenheimer dari University of Cambridge, Inggris, dan sejumlah ahli lainnya.

Mereka awalnya melacak letusan Samalas ini dari jejak rempah vulkanik yang terdapat di lapisan es kutub utara. Sebagaimana letusan Tambora yang menciptakan tahun tanpa musim panas di Eropa sehingga menyebabkan kegagalan panen dan kelaparan pada tahun 1816 atau setahun setelah letusan, letusan Samalas diduga juga memicu permasalahan serupa, bahkan mungkin lebih dahsyat.

Bait dalam Babad Lombok Pupuh 274 –279 :

Gunung Rinjani Longsor, dan Gunung Samalas runtuh, banjir batu gemuruh, menghancurkan Desa Pamatan, rumah-rumah rubuh dan hanyut terbawa lumpur, terapung-apung di lautan, penduduknya banyak yang mati.

Tujuh hari lamanya, gempa dahsyat meruyak bumi, terdampar di Leneng (lenek), diseret oleh batu gunung yang hanyut, manusia berlari semua, sebahagian lagi naik ke bukit.

Bersembunyi di Jeringo, semua mengungsi sisa kerabat raja, berkumpul mereka di situ, ada yang mengungsi ke Samulia, Borok, Bandar, Pepumba, dan Pasalun, Serowok, Piling, dan Ranggi, Sembalun, Pajang, dan Sapit.

Di Nangan dan Palemoran, batu besar dan gelundungan tanah, duri, dan batu menyan, batu apung dan pasir, batu sedimen granit, dan batu cangku, jatuh di tengah daratan, mereka mengungsi ke Brang batun.

Ada ke Pundung, Buak, Bakang, Tana’ Bea, Lembuak, Bebidas, sebagian ada mengungsi, ke bumi Kembang, Kekrang, Pengadangan dan Puka hate-hate lungguh, sebagian ada yang sampai, datang ke Langko, Pejanggik.

Semua mengungsi dengan ratunya, berlindung mereka di situ, di Lombok tempatnya diam, genap tujuh hari gempa itu, lalu membangun desa, di tempatnya masing-masing.

Kerajaan Pamatan dan Atlantis yang Hilang

Berbagai spekulasi timbul mengenai keberadaan Desa Pamatan yang tersebut dalam babad di atas. Bahkan ada yang menggambarkan Desa atau Kerajaan Pamatan ialah Atlantik yang hilang sebagaimana digambarkan Plato dalam tulisannya yang mengatakan bahwa Atlantis terhampar “di seberang pilar-pilar Herkules” yang tenggelam ke dalam samudra “hanya dalam waktu satu hari satu malam”.

Namun sesuatu yang pasti dan mendekatkan kita dengan Desa yang hilang tertimbun debu vulkanik Samalas ialah penemuan benda bersejarah yang diperkirakan berasal sezaman dengan letusan Samalas di sebuah lokasi galian C di Desa Aik Berik Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah pada Rabu (30/5) sekitar pukul 03.00 Wita kemarin.

Satu buah gelang emas, guci, piring keramik, lonceng, beras, dan tulang belulang manusia ditemukan dan lokasi tersebut kini telah dipasangi garis polisi untuk kemudian dilakukan penelitian lanjutan.

“Iya, kemarin ada penemuan benda bersejarah di lokasi galian pasir di Dusun Ranjok Desa Aik Berik. Untuk sementara benda itu di simpan di rumah warga yang menemukan,” ujar Kapolsek Batukliang Utara, IPTU Ranoka, Kamis (31/5).

Kuat dugaan bahwa benda yang ditemukan itu berasal dari tulang belulang manusia yang ada sejak tahun 1812. Untuk membuktikannya, para peneliti gabungan dari Bali dan dinas-dinas diantaranya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB, Dinas Pertambangan NTB, dan Geo Park Provinsi NTB didatangkan guna melakukan penelitian terhadap benda bersejarah yang ditemukan tersebut.

Benda itu ditemukan di kedalaman sekitar 25 meter dari permukaan tanah dan diduga merupakan peninggalan Kerajaan Pamatan yang hilang secara misterius akibat letusan Gunung Rinjani purba atau Gunung Samalas.

Hipotesis Penemuan Artefak Beras Arang di Lokasi Penggalian

Salah satu benda yang ditemukan di lokasi galian C di Desa Aik Berik Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah pada Rabu kemarin ialah beras yang sudah berupa arang hitam.

Satu akun bernama Agus Surya mengomentari hal ini menggunakan hipotesisnya.

“Gunung Samalas Lombok diperkirakan meletus pada abad ke 13. Akibat terjadinya letusan tersebut membuat hawa panas, sehingga apapun yang hidup akan berubah menjadi arang (tergantung jarak),” tulisnya.

Yang menarik ialah sebuah pertanyaan kenapa beras tersebut tidak berubah menjadi tanah bahkan debu sekalipun, mengingat keberadaan benda tersebut sudah berusia ratusan tahun?

Dia mengatakan, hal ini terjadi karena setelah Gunung Samalas meletus dan mengeluarkan hawa panas yang luar biasa, dampaknya padi tersebut berubah menjadi arang dan sekaligus tertutup oleh abu vulkanik. Sehingga, tidak adanya oksigen pada beras tersebut. Maka dari itu, beras tersebut tetap terjaga seperti bentuk dasarnya.

Jurnalis: Dani

Editor  : Tuhfa

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat