Polda NTB Mulai Usut Dugaan Pemotongan Jatah Benih Bawang Putih Sembalun

kicknews.today–Kepolisian Daerah (Polda) NTB mulai serius menindaklanjuti dugaan pemotongan jatah benih bawang putih lokal di Sembalun Kabupaten Lombok Timur. Keseriusan institusi seragam cokelat ini ditandai dengan pengumpulan data.

Sejak informasi dugaan pemotongan jatah kelompok bergulir di masyarakat, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda NTB menurunkan tim untuk mencari data dan meminta klarifikasi para pihak yang terkait.

Dirreskrimsus Polda NTB Kombes Pol Baharuddin Syamsudin menyampaikan, dalam upaya pengumpulan data dan keterangan ini, pihaknya telah menurunkan tim untuk mengkroscek di lapangan. Langkah itu,  kata dia, sudah dilakukan sejak pekan lalu dengan menemui sejumlah pihak yang berkaitan dengan pendistribusian bantuan.

“Pendalaman mulai dari kalangan petani hingga pejabat Dinas Pertanian Lombok Timur. Kita  sudah dapatkan data dari dinas. Ada beberapa petani sudah kita mintai keterangannya,” ungkap dia.

Upaya puldata (pengumpulan data) dan pulbaket (pengumpulan bahan keterangan) akan terus berlanjut sampai bahan yang dibutuhkan di rasa cukup mengarahkan ke dugaan pemotongan jatah. “Anggota masih di lapangan. Masih kumpulkan data. Kita akan kupas,” tegas perwira tiga mawar itu.

Informasi yang dihimpun, Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, ada 350 ton benih bawang putih lokal yang didistribusikan kepada 181 kelompok tani yang tersebar di 18 desa se-Kabupaten Lombok Timur.

Dengan luasan yang berbeda-beda, setiap kelompok tani mendapatkan kuota benih lokal bersama dengan paket pendukung hasil produksinya, mulai dari mulsa, pupuk NPK plus, pupuk hayati ecofert, pupuk majemuk, dan pupuk organik.

Benih bawang putih lokal sebanyak 350 Ton dibeli dari hasil produksi petani di Kecamatan Sembalun pada periode panen pertengahan tahun 2017. Benih bawang putih lokal dibeli pemerintah melalui salah satu BUMN yang dipercaya sebagai penangkar yakni PT. Pertani, dimana pembeliannya menggunakan anggaran APBN-P 2017 senilai Rp30 miliar.

Namun pada saat pendistribusian bantuannya di akhir tahun 2017, banyak kelompok tani yang mengeluh tidak mendapatkan jatah sesuai data. Bahkan ada sebagian dari kelompok tani yang tidak sama sekali kebagian jatah.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh salah seorang ketua kelompok tani yang masuk daftar penerima bantuan di Sembalun. Bersama sejumlah ketua kelompok tani penerima bantuan menduga ada yang tidak beres dengan kegiatan pendistribusiannya.

“Dari Desa Sembalun Bumbung contohnya, ada kelompok tani atas nama Sembalun Bumbung Hijau, dengan ketuanya Amaq Gofar, luas lahannya 2 hektar, jatah benih lokalnya 1.400 kilogram. Tapi sebiji pun dia tidak dapat, dikemanakan benihnya,” kata salah seorang petani  belum lama ini, tutup Baharuddin. (prm)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat